Nasirun Tutup Usia, Dunia Seni Rupa Indonesia Kehilangan Maestro

- Penulis

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasirun Berpulang di Usia 60 Tahun, Meninggalkan Warisan Seni Kontemporer (Foto/Istimewa)

Nasirun Berpulang di Usia 60 Tahun, Meninggalkan Warisan Seni Kontemporer (Foto/Istimewa)

YOGYAKARTA, PUSATBERITA – Dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu tokoh terbesarnya. Maestro seni lukis kontemporer, Nasirun, meninggal dunia pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pukul 05.50 WIB, dalam usia 60 tahun. Ia wafat akibat henti jantung setelah sempat menjalani perawatan di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta.

Perupa kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965, itu dilarikan ke rumah sakit sekitar pukul 02.00 WIB setelah mengalami sesak napas. Kabar wafatnya dikonfirmasi pihak keluarga melalui surat berita lelayu. Nasirun diketahui memiliki riwayat radang paru-paru.

Kepergiannya mengejutkan banyak sahabat. Pelukis Jumaldi Alfi Chaniago mengaku baru bertemu sehari sebelumnya ketika melihat Nasirun menyapu halaman rumah. Tak ada firasat bahwa pertemuan itu menjadi yang terakhir.

Kurator seni Suwarno Wisetrotomo juga mengenang kebersamaannya dengan Nasirun pada Jumat, 31 Juli 2026. Menurut dia, meski wajah Nasirun tampak pucat, almarhum tetap melontarkan guyonan agar orang-orang di sekitarnya tidak merasa cemas.

Ucapan belasungkawa mengalir dari berbagai kalangan, “SUMANGGA GUSTI (Selamat jalan, Nasirun),” Budayawan Butet Kartaredjasa dalam tulisannya. Tidak terlepas ucapan oleh Sastrawan Agus Noor mengenang almarhum sebagai pribadi yang sederhana, dermawan, dan sabar. Salah satu kalimat yang paling diingat dari Nasirun ialah, “Saya ini sudah tidak punya hak untuk marah”.

Bagi banyak perupa, Nasirun bukan sekadar pelukis, melainkan sosok yang membuka jalan bagi lahirnya generasi seni rupa Indonesia sejak dekade 1990-an. Staf Pengajar FSRD ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, menilai Nasirun berhasil menghadirkan bahasa visual yang memadukan wayang, mitologi, tradisi lokal, dan spiritualitas Jawa ke dalam seni kontemporer yang mendapat pengakuan di tingkat internasional.

Ironisnya, Nasirun berpulang ketika masih berada pada masa produktif. Ia baru menyelesaikan sebuah pameran bersama, tengah mempersiapkan pameran di OHD Museum Magelang, serta menggarap proyek sejarah Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) di Jogja National Museum.

Jenazah dimakamkan di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, pada Sabtu sore. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni rupa Indonesia.

Jejak Kehidupan

Nasirun lahir di Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Pada 1983 ia hijrah ke Yogyakarta untuk mendalami dunia seni. Pendidikan seni ditempuhnya melalui bidang kriya batik dan seni murni, sebelum kemudian meniti karier sebagai salah satu perupa paling berpengaruh di Indonesia.

Baca Juga :  Alumni FH UAD Luncurkan Buku Tentang Pembaruan KUHAP

Dalam proses kreatifnya, Nasirun banyak mengolah nilai-nilai budaya Nusantara, kisah pewayangan, tradisi lisan, hingga cerita-cerita mistik yang diperolehnya dari sang ibu. Di sisi lain, pengaruh tasawuf Islam yang dikenalnya melalui ayahnya membentuk dimensi spiritual yang kuat dalam karya-karyanya.

Perpaduan antara tradisi, budaya, dan spiritualitas itu melahirkan gaya visual yang khas. Lukisan-lukisannya menjembatani warisan budaya dengan bahasa seni kontemporer, menjadikannya salah satu maestro seni rupa Indonesia yang paling produktif.

Perjalanan Berkarya

Sejak menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pada 1987–1994, Nasirun aktif mengikuti berbagai pameran di dalam maupun luar negeri. Ia telah menggelar ratusan pameran, baik tunggal maupun bersama.

Beberapa pameran tunggal yang menandai perjalanan artistiknya antara lain Uwuh Seni di Galeri Salihara, Jakarta (2012); Breath of Nasirun di Mizuma Gallery, Tokyo (2014); RUN–Embracing Diversity di Sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2016); Wirid on Canvas di Natan Galeri, Yogyakarta (2018); Menafsir Borobudur di Latar Galeri, Jakarta (2020); pameran virtual Membaca Tanda Zaman (2020); Metajagad Nasirun di Soboman Art, Yogyakarta (2021); serta Perayaan Persahabatan di Museum OHD Magelang (2023).

Ia juga berpartisipasi dalam berbagai pameran internasional, seperti Pathos of the Fringes di Jeonbuk Museum of Art, Korea Selatan (2017), Shah Alam Biennale di Malaysia (2017), Manifesto di Galeri Nasional Indonesia (2022), dan MayinArt di Singapura (2024).

Penghargaan

Sepanjang kariernya, Nasirun menerima sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Penghargaan Sketsa dan Seni Lukis Terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum X ISI, serta Philip Morris Award pada 1997.

Kepergian Nasirun menutup perjalanan seorang perupa yang selama puluhan tahun memperkaya khazanah seni rupa Indonesia. Namun karya-karyanya akan tetap hidup sebagai penanda penting perkembangan seni kontemporer Indonesia, sekaligus menjadi warisan bagi generasi perupa berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:33 WIB

Nasirun Tutup Usia, Dunia Seni Rupa Indonesia Kehilangan Maestro

Berita Terbaru