KOTA TANGERANG, PUSATBERITA- Memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-66, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menjadikan momentum ini sebagai ruang refleksi mendalam, bukan sekadar seremoni tahunan. Di tengah krisis multidimensi yang dihadapi bangsa, PMII dituntut untuk mengevaluasi arah dan posisi gerakannya sebagai organisasi mahasiswa.
Lili Kurniawan demisioner Ketua Komisariat PMII STISNU Nusantara Tangerang periode 2022-2023, menegaskan bahwa di usia yang tidak lagi muda, PMII harus berani melakukan introspeksi secara jujur.
“PMII perlu melihat kembali sejauh mana tetap setia pada khittah perjuangan sebagai organisasi yang independen, kritis, dan berpihak pada rakyat,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan besar yang dihadapi PMII saat ini tidak terlepas dari arus pragmatisme politik, kooptasi kekuasaan, serta melemahnya tradisi intelektual di kalangan kader. Hal tersebut berpotensi menggerus daya kritis organisasi jika tidak segera disikapi secara serius.
Tema Harlah ke-66, Aksi Nyata PMII untuk Indonesia, lanjut Lili, harus dimaknai sebagai panggilan konkret untuk menghidupkan kembali budaya diskusi, riset, serta keberanian menyuarakan kebenaran.
“PMII tidak boleh berhenti pada slogan. Harus ada langkah nyata dalam merespons ketimpangan sosial, ketidakadilan hukum, dan kebijakan publik yang tidak berpihak kepada masyarakat kecil,” tambahnya.
Ia juga menyoroti kondisi bangsa yang saat ini dihadapkan pada persoalan kompleks, seperti kesenjangan ekonomi yang semakin melebar, menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi, serta maraknya praktik korupsi dan oligarki.
Dalam situasi tersebut, PMII dinilai tidak cukup hanya menjadi penonton. Organisasi ini harus kembali mengambil peran strategis sebagai kekuatan moral dan intelektual yang berada di garis depan perjuangan rakyat.
“Independensi organisasi harus dijaga. Kader PMII tidak boleh larut dalam kompromi yang mengorbankan idealisme. Kritik terhadap kekuasaan adalah bentuk tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat sipil,” tegas Lili.
Harlah ke-66 ini, menurutnya, juga menjadi momentum penting untuk melakukan otokritik internal. Perbaikan kultur organisasi serta penguatan sistem kaderisasi harus menjadi prioritas agar PMII tidak hanya melahirkan elit, tetapi juga kader yang memiliki sensitivitas sosial tinggi dan keberpihakan terhadap rakyat.
Dengan demikian, Harlah ke-66 PMII diharapkan mampu menjadi titik balik untuk menegaskan kembali peran organisasi sebagai gerakan perubahan yang progresif, kritis, dan tetap setia pada nilai-nilai pergerakan.











