Oleh : Mohammad Royhan Daestaki (Founder Ruang Ekspresi Indonesia)
Beberapa negara termasuk Indonesia menandatangani piagam pembentukan lembaga ini pada awal tahun 2026, dan pemerintah indonesia menyatakan keterlibatan tersebut bagian dari kontribusi diplomasi perdamaian global.
Prabowo Subianto mewakili Indonesia sebagai Presiden dan orang nomor satu menghadiri pertemuan perdana Board Of Peace di Washington dan menyatakan dukungan terhadap rencana perdamaian yang di pimpin Trump.
Partisipasi Indonesia menimbulkan kritik domestik dan Internasional, hal ini dinilai mengurangi independensi politik luar negeri Indonesia. Keterlibatan dan bergabungnya dengan Board of Peace berpotensi menggeser prinsip politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi doktrin diplomasi Indonesia.
Alm. Mohammad Hatta (Wakil Presiden Pertama Indonesia) dalam bukunya yang berjudul “Mendayung di Antara Dua Karang” bahwa Indonesia tidak berpihak pada blok kekuatan besar dan tetap aktif dalam menciptakan perdamaian dunia. Board of Peace dianggap terlalu didominasi Amerika Serikat, sehingga Indonesia masuk dalam orbit geopolitik AS.
Terdapat beberapa potensi lain yang dinilai indonesia blunder, yakni Legitimasi kebijakan Amerika dan Israel. Hal ini semakin kuat ketika Amerika dan Israel menyerang Iran sehingga muncul tekanan agar Indonesia menarik diri dari Board of Peace (BOP).
Board Of Peace: Jawaban Perdamaian Atau Manipulasi Mulainya Perang Dunia III
Board of Peace yang inisiatif dari Trump bertujuan untuk menciptakan perdamaian, malah Amerika sendiri yang menjadi dalang penyerangan Iran. Lalu dimana letak perdamaiannya? Didalam analisis Teoritis (Pendekatan ilmu Hubungan Internasional) terdapat kata “Realisme” yang di kemukakan oleh Hans Morgenthau, bahwa suatu negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional, bukan di manfaatkan oleh segelintir kepentingan politik luar negeri.
Selanjutnya, terdapat Liberal Institutionalism yang di kemukakan oleh Robert Keohane dengan buku yang berjudul “After Hegemony” bahwa lembaga internasional dapat membantu menciptakan kerjasama dan stabilitas global, bukan berbanding terbalik kalo Pemimpin tertinggi Board of Peace menciptakan dan memulai peperangan, dan itulah yang terjadi kepada Iran.
Israel belum terlepas dan masih terus menyerang Gaza-Palestina sebelum menyerang Iran, dan Israel pun menolak memberikan kontribusi patungan kepada Board Of Peace. Israel dan Amerika Serikat sudah membuat dosa besar dan mencoreng tujuan dari Board of Peace untuk menciptakan perdamaian global, jika peperangan bukan menjadi solusi akan tetapi bencana yang terus menerus terjadi.
Indonesia akan terus berada di posisi blunder dalam diplomasi luar negeri, maka dari itu langkah terbaik untuk Indonesia harus segera keluar dari Board Of Peace











