Oleh Topan Bagaskara | Ketua Umum PC SEMMI Tangerang dan Inisiator Sua.ra Logika
Fenomena Kaum Bohemian ala Indonesia yang terperangkap pada Politik Pragmatis menggambarkan kontradiksi antara gaya hidup yang artistik, bebas, dan non-konformis dengan realitas politik praktis yang utilitarian, transaksional, dan penuh kompromi.
Dalam konteks Indonesia, ini kerap kali mengejawantahkan pada sosok intelektual, seniman, atau aktivis muda yang awalnya membawa semangat kontra-budaya namun akhirnya terserap ke dalam sistem kekuasaan demi kelangsungan hidup atau pengaruh.
Banyak aktivis atau budayawan yang awalnya anti-kemapanan dan vokal melawan ketimpangan sosial-politik. Namun, seperti terjebak pada sebuah labirin saat dipertemukan situasi keberdayaan pragmatis dan reputasi yang luhur.
Saya seringkali menemukan kaum bohemian zaman sekarang yang mengalami disorientasi tentang pertarungan realistis dan idealis —dimana mereka menilai bahwa hidup beridealis adalah hidup memeluk kemiskinan, maka perlu berkehidupan yang realistis; hidup yang menggadaikan jiwa dan pikiran tunduk dan patuh menjadi alat kekuasaan.
Ironis bagi saya, ketika kedua hal tersebut menjadi dikotomi dalam berjuang. Apalagi tanpa hasil dari buah pemikiran yang mendasar dan cenderung hanya mengikuti orang kebanyakan.
Seyogyanya kedua hal tersebut memiliki korelasi dan perlu menciptakan jembatan untuk menghadirkan keseimbangan. Tentunya melalui proses berpikir dan perdiskusian.
Lebih dari itu, Ketika ketatnya persaingan politik membuat aktor-aktor muda yang potensial sering kali harus menunduk pada pola politik dinasti atau nepotisme agar bisa bertahan dan mendapat panggung adalah realitas yang cukup dominan dalam lanskap politik Indonesia saat ini.
Kondisi ini menyebabkan regenerasi politik tidak berjalan berdasarkan keahlian yang disebut meritokrasi, melainkan berdasarkan kedekatan darah atau relasi kekuasaan. Hal ini sering kali mematikan potensi aktor muda yang berkualitas namun tidak memiliki modal kekeluargaan atau ekonomi yang kuat.
Secara keseluruhan, tantangan terbesar bagi aktor muda potensial di Indonesia adalah memilih antara tetap independen dengan risiko panggung yang terbatas atau menunduk dalam pola dinasti untuk karir yang lebih instan.
Kepalsuan dan Pragmatisme
Di Paris pasca-perang, kaum bohemian sering berkumpul di kafe-kafe di kawasan Saint-Germain-des-Prés (seperti Café de Flore dan Les Deux Magots) untuk mendiskusikan gagasan baru di sekitar filsuf eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir, yang mencampurkan seni dengan pemikiran kritis terhadap kekuasaan
Sartre mempromosikan gagasan bahwa seniman dan intelektual tidak boleh pasif, melainkan harus terlibat aktif dalam masalah sosial-politik. Seni, sastra, dan teater digunakan sebagai alat untuk mengkritik kekuasaan dan menentang penindasan.
Akan tetapi, kondisi yang semakin hari yang di alami oleh individu Bohemian Indonesia telah terperangkap kondisi hidup dalam dilema konstan. Mereka mempertahankan estetika bebas di ruang publik, namun keputusan-keputusan strategis mereka diatur oleh kalkulasi pragmatis.
Sekaligus hal ini menciptakan budaya politik yang kreatif namun dangkal, di mana kreativitas dan idealisme sering kali hanya menjadi alat untuk legitimasi politik.
Dalam karya sastra seperti novel Andrea Hirata, sering digambarkan perjuangan individu Indonesia melawan kemiskinan atau situasi nista, namun berhadapan dengan sistem yang keras, mirip dengan perjuangan moral di tengah politik pragmatis.
—hal ini dalam realitas politik mencerminkan kepalsuan dan pragmatisme. Mempengaruhi janji-janji perubahan dan perjuangan yang sering kali runtuh oleh kebutuhan untuk berteman dengan kekuasaan.
Politik di Indonesia cenderung mengesampingkan ideologi dan lebih mementingkan tujuan praktis (utilitarianisme), di mana kekuasaan adalah tujuan utama. Fenomena ini sering disebut sebagai politik transaksional atau politik kartel.
Sudah pasti, politik praktis seringkali fokus pada perebutan kekuasaan, bukan pada pembangunan atau kepentingan rakyat. Hal ini menyebabkan kebijakan sering kali berorientasi jangka pendek, bukan strategis.
Kaum Bohemian Diternak Kekuasaan
Ketika kaum bohemian—yang secara historis dikenal sebagai kelompok seniman, intelektual, penulis dan aktivis yang hidup di luar norma konvensional, menolak kemapanan, dan kritis terhadap kekuasaan—mengalami kontaminasi jiwa dan pikiran, yang terjadi adalah pergeseran nilai yang fundamental.
Mengubah ruang intelektual menjadi jagad transaksional. Ruang intelektual dan kreatif yang seharusnya menjadi tempat penyemaian gagasan kritis, berubah menjadi pasar. Karya seni atau pemikiran tidak lagi dihasilkan dari dorongan jujur, melainkan untuk ditukar dengan modal (uang), status, atau posisi.
Bohemian yang terkontaminasi sering kali kehilangan taringnya. Mereka tidak lagi berani melawan ketimpangan sosial-politik karena sudah merasa nyaman dalam sistem yang sebelumnya mereka lawan.
Ini adalah tahap akhir dari kooptasi, di mana kelompok yang dulunya pinggiran dan kritis, akhirnya diadopsi atau mendekat ke lingkaran kekuasaan. Mereka mengubah posisi menjadi pembela status quo demi keuntungan pribadi atau kelompok.
Jelas saya melihat ini merupakan salah satu bentuk pembunuhan terhadap semangat counter-culture itu sendiri, di mana budaya pemberontakan dijinakkan bahkan menjadi hewan ternak untuk dijadikan bagian dari mekanisme kekuasaan dan pasar.












