Aktivis Belian dan Pelarian Moral

- Penulis

Sabtu, 15 Maret 2025 - 22:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Topan Bagaskara | Sumber: Pribadi

Topan Bagaskara | Sumber: Pribadi

Apa yang terbayang tentang gerakan aktivis?

Saya memang tidak kuasa untuk menghentikan, tetapi barangkali ini perlu disampaikan. Selain, terjadinya degredasi pengetahuan, juga aktivis hari ini terjerat pada apa yang disebut “pelarian moral”.

Pelarian moral atas gerakan kerakyatan dan penyelamat lingkungan hidup yang rusak —mengancam hak atas hidup manusia dan alam.

Aktivis menjadi kedok bagi mereka yang sejak dalam hati sebenanya tidak mengabdi pada isu kerakyatan maupun lingkungan. Sederhananya, hanya sekedar ikut teriak. Tetapi sikap dan pikirannya berjarak dengan pengetahuan dan bagaimana cara memedekakan dirinya dan makhluk lain.

Mirisnya, keadaan tersebut merangsek —merasuki pikiran-pikiran aktivis “pro-hedonis” dan menjadi pemahaman di luar pendidikan kaderisasi; pendidikan untuk membaca isi amplop ketimbang membaca isi pikiran.

Hal ini yang menambahkan jenis aktivis baru; aktivis belian, seakan pro terhadap kemerdekaan rakyat, akan tetapi gubuk pikirannya berhadap isi amplop.

Perjuangan yang mereka lakukan pada akhirnya hanya semacam perjuangan semu, berteriak meyakinkan bahwa ialah aktivis yang demokratis, namun justru kemudia membuka rantai kunci pasung kepada kekuasaan.

Dalam kondisi polemik ini, aktivis belian melanggar jati diri aktivis; kenakan topeng demokrasi, dan balik kanan menyerang rakyat melalui sikap diam dalam keadaan tenggorokan tersumpal amplop.

Saya teringat perkataan Mirabeau bersejarah yang bertindak tepat pada waktunya dan benar-benar membawa titik balik dalam sejarah Prancis dan dunia, “jangan buyar kecuali dengan kekuatan bayonet [senjata],” di dalam pikiran aktivis belian bahwa ini tidak rasional, yang rasional bagi mereka ialah “jangan buyar kecuali kekuatan isi amplop,”.

Lambat-laun, prodak budaya lahir serta menjadi konsep sebuah ketidak-ada-batasan dalam bersikap. Semisal, aktivis belian berbahagia unggah foto bersama penguasa ketimbang dengan rakyat; mungkin saja, ini merupakan langkah menjaga keberadaan isi amplop. Lancar masuk ke saku celana. Lalu, moksa.

—Saya meminjam kata dari Habermas bahwa jika kita berani mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, maka secara tidak langsung kita sudah menjadi masyarakat rasional, bukan lagi masyarakat irasional.

Baca Juga :  Ketika Televisi Miskin Tafsir atas Dunia Santri

Saya ingin menegaskan, saya tidak membenci keadaan tersebut. Saya hanya ingin mengatakan bahwa aktivis perlu mengenal batas. Batas untuk tidak mengucapkan selamat hari lahir atau atas dilantiknya atau sejenisnya kepada pejabat, berswafoto lalu diposting sebagai tanda kedekatan dengan pejabat publik, dan gerakan-gerakan seremonial tiada henti. Menjijikan.

Sebab ini, sangat menyakitkan jika dilihat oleh orang-orang yang sedang tertindas. Tentunya, secara tidak langsung akan mengurangi daya juang untuk mengkritisi pejabat tersebut. Defisit nilai transendensi terjadi.

Jadi teringat ucapan Soe Hok Gie bahwa hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah.

Sebuah ungkapan makna hidup menjadi seorang aktivis. Jika terus seperti ini, saya merasa aktivis hanya seperti peluru buta yang patuh.

Sejatinya, aktivis adalah petarung gladiator. Aktivis harus mampu membaca tata bahasa dan tata warna yang tidak terbaca. Aktivis tidak dibentuk sebagai badut penguasa atau penari istana.

Aktivis lahir dari tingginya penderitaan rakyat. Setumpuk keresahan rakyat harus menjadi api abadi dalam pergerakan. Aktivis memang ditakdirkan berkonfrontasi dengan penguasa dan segala kecarut-marutan.

Dunia aktivis adalah dunia kesepian yang gelap dan kerap kali terjebak pada jurang-jurang. —aktivis bukan mesin pencetak uang. Aktivis adalah pisau guillotine bagi penguasa keji. Dan bagi rakyat, aktivis seperti Panacea yang bersumpah demi Apollo sang tabib.

· · ·

Sekali lagi, saya tidak hendak menghalangi pergaulan antar manusia. Berhati-hatilah.

Kita harus segera sadari bahwa peperangan sejatinya akan dimulai. Maka dari itu, rebut kembali makna demokrasi sebagai ruang bagi suara-suara rakyat, bukan menjadi alat bagi kepentingan elit.

Masifkan aktivitas perdiskusian di pojok-pojok gang, kampus dan perkopian. Bahwa hanya dengan transaksi pikiranlah ruang penyadaran itu terbentuk. Tidak dengan transaksi amplop.

2 tanggapan untuk “Aktivis Belian dan Pelarian Moral”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung
Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua
Zaman yang Merayakan Kekeruhan
Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan
Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua
Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan
Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:51 WIB

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:37 WIB

Mimpi yang Retak di Tengah Kota

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:27 WIB

Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua

Selasa, 9 Juni 2026 - 03:41 WIB

Zaman yang Merayakan Kekeruhan

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Berita Terbaru

Abdul Hakim, Direktur Center for Resistance and Liberation Studies STISNU Nusantara Kota Tangerang (foto/istimewa)

Opini

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:51 WIB