Oleh Abdul Hakim | Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Nusantara Kota Tangerang
Seperti buah medlar yang terkenal dalam perumpamaan abad pertengahan yang baru layak dimakan justru ketika mulai membusuk, gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tampak terancam gagal bahkan sebelum sempat matang.
Hanya beberapa jam setelah diumumkan, eskalasi kembali meletus: serangan udara Israel menghantam Beirut, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab melaporkan serangan drone Iran. Kedua pihak saling menuduh memelintir isi kesepakatan, menandakan bahwa sejak awal, gencatan senjata ini bukanlah produk kepercayaan, melainkan sekadar jeda taktis.
Ketika para negosiator akhirnya bertemu di Islamabad, mereka pulang tanpa hasil. Presiden Donald Trump merespons dengan mengumumkan blokade penuh terhadap seluruh pelabuhan Iran, sebuah langkah yang lebih menyerupai eskalasi terselubung ketimbang diplomasi.
Kegagalan awal ini mengungkap fakta mendasar: konflik ini bukan sekadar soal kepentingan, tetapi soal ketidakpercayaan yang akut. Dalam politik internasional, kesepakatan dapat dinegosiasikan, tetapi kepercayaan hampir selalu harus dibangun melalui pengalaman panjang dan dalam kasus ini, pengalaman yang ada justru didominasi oleh pengkhianatan dan kecurigaan.
Pernyataan yang saling bertentangan dari pejabat Iran dan Pakistan hanya mempertegas kabut ketidakpastian. Sejarah kawasan Teluk sendiri menunjukkan bahwa diplomasi di wilayah ini jarang berjalan lurus; ia adalah katalog panjang keberhasilan yang rapuh dan kegagalan yang berulang.
Jika ada pelajaran historis yang relevan, maka itu datang dari pasca Perang Yom Kippur. Konflik antara Mesir dan Israel pada 1973, konflik yang merupakan bentrokan kedua dalam enam tahun setelah perang 1967, justru membuka jalan bagi salah satu perdamaian paling bertahan lama di kawasan.
Paradoksnya jelas: perang, bukan perdamaian, yang menciptakan kondisi bagi kompromi. Kedua pihak tidak saling percaya, tetapi mereka sama-sama lelah dengan siklus konflik tanpa akhir.
Kunci keberhasilan diplomasi pasca-1973 bukanlah idealisme, melainkan kemampuan masing-masing pihak untuk mengklaim kemenangan di hadapan publik domestik. Presiden Anwar Sadat berhasil membingkai perang sebagai keberhasilan strategis setelah pasukan Mesir menembus garis pertahanan Bar Lev hanya dalam waktu kurang dari dua jam menggunakan meriam air, sebuah manuver yang mengejutkan Israel dan memungkinkan hampir 100.000 tentara Mesir bergerak maju.
Di sisi lain, Israel, melalui serangan balik berani yang dipimpin Ariel Sharon, mampu mengklaim bahwa mereka bertahan dan membalikkan keadaan. Kedua narasi ini memungkinkan kompromi tanpa kehilangan muka, sebuah syarat yang sering diabaikan oleh para idealis diplomasi.
Keberhasilan ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia merupakan hasil dari kebuntuan diplomatik sebelumnya, termasuk upaya mediasi oleh Gunnar Jarring yang gagal. Penolakan Israel terhadap tawaran awal Sadat yang bersedia mengakui Israel dengan imbalan pengembalian Sinai, justru memperkuat keyakinan Mesir bahwa hanya kekuatan militer yang bisa membuka jalan diplomasi. Dalam konteks ini, perang bukan kegagalan diplomasi, melainkan prasyaratnya.
Situasi Iran hari ini memiliki kemiripan yang mencolok. Meskipun mengalami sekitar 13.000 serangan udara dalam 40 hari, Iran menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Struktur komando tetap berfungsi, dan strategi asimetris memungkinkan mereka menekan jalur vital seperti Selat Hormuz. Bahkan Donald Trump sendiri mengakui terkejut dengan skala balasan Iran.
Ini memberi Teheran posisi tawar yang tidak sepenuhnya lemah, sebuah “kekuatan dari penderitaan” yang sering menjadi modal dalam negosiasi. Namun, ketahanan ini juga memiliki batas. Seperti diakui oleh Kenneth McKenzie Jr., konflik ini adalah “benturan kehendak manusia,” dan kelelahan mulai terasa di kedua belah pihak, meski mungkin lebih dalam di Iran.
Dalam kondisi seperti ini, diplomasi cenderung bergeser dari tuntutan maksimalis ke konsesi pragmatis. Di sinilah pendekatan Henry Kissinger menjadi relevan: bukan mencari solusi besar, tetapi langkah kecil yang konkret dan terukur.
Sayangnya, satu variabel krusial yang belum berubah adalah kepercayaan. Iran secara terbuka menyatakan tidak mempercayai Trump, terutama setelah penarikan sepihak dari kesepakatan nuklir ‘Joint Comprehensive Plan of Action’. Figur seperti Mohammad Marandi bahkan menyebut pernyataan Trump “tidak bernilai.”
Ini bukan sekadar retorika; ini mencerminkan pandangan yang luas di kalangan elite Iran bahwa Amerika adalah mitra yang tidak dapat diandalkan. Namun, ironi politik modern adalah bahwa ketidakpastian bisa menjadi aset. Gaya kepemimpinan Trump yang ‘ganjil sekaligus unik’, sering dikritik sebagai kelemahan justru memberinya fleksibilitas yang tidak dimiliki pemimpin konvensional.
Tanpa keterikatan pada norma diplomasi tradisional, ia mungkin mampu memaksakan konsesi yang sebelumnya mustahil. Dalam politik kekuasaan, inkonsistensi kadang lebih efektif daripada konsistensi.
Meski demikian, masalah mendasar dari perundingan di Islamabad adalah eksklusi aktor-aktor kunci.Israel tidak hadir. Kelompok-kelompok seperti Hezbollah, Houthi, dan milisi Irak juga tidak terwakili. Padahal, mereka adalah bagian integral dari arsitektur konflik. Tanpa mereka, setiap kesepakatan hanya akan menjadi dokumen kosong.
Sejarah Perang Saudara Lebanon menunjukkan bahwa perdamaian baru tercapai melalui Perjanjian Taif, ketika semua pihak, atau setidaknya sebagian besar, terlibat atau kelelahan. Kegagalan untuk memasukkan semua aktor bukan sekadar kesalahan teknis; ia adalah kesalahan konseptual.
Konflik modern bersifat jaringan, bukan hierarkis. Ia melibatkan negara, milisi, proksi, dan aktor non-negara. Mengabaikan satu saja berarti membiarkan celah bagi konflik untuk hidup kembali.
Di sisi lain, ada satu hal yang patut diapresiasi dari negosiasi saat ini: upaya untuk tidak menunda isu-isu sulit. Wakil Presiden JD Vance menegaskan bahwa isu pengayaan uranium menjadi titik krusial. Ini penting, karena sejarah menunjukkan bahwa menunda isu kompleks, seperti dalam Perjanjian Oslo hanya menunda konflik, bukan menyelesaikannya.
Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari sejarah adalah bahwa perdamaian bukanlah hasil dari kepercayaan, melainkan dari kepentingan yang selaras secara sementara. Proses yang dimulai di Islamabad bukanlah akhir, melainkan awal dari negosiasi panjang yang melelahkan.
Di balik semua ini, ada taruhan yang jauh lebih besar: stabilitas ekonomi global. Selat Hormuz bukan sekadar jalur air; ia adalah arteri energi dunia. Setiap hari tanpa kesepakatan adalah hari di mana ketidakpastian merayap ke pasar global.
Pertanyaan sebenarnya bukan apakah perdamaian bisa dicapai, tetapi apakah dunia bersedia menunggu proses yang panjang, tidak pasti, dan penuh kompromi. Jika tidak, maka gencatan senjata ini akan benar-benar seperti buah medlar: membusuk sebelum sempat matang.











