Pengamat: Tekanan Ekonomi Semakin Besar di Tengah Naiknya Harga BBM

- Penulis

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Abdul Hakim sebagai Direktur Center for Resistance and Liberation Studies, STISNU Nusantara Kota Tangerang (Foto/istimewa).

Abdul Hakim sebagai Direktur Center for Resistance and Liberation Studies, STISNU Nusantara Kota Tangerang (Foto/istimewa).

TANGERANG, PUSATBERITA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi menuai kritik dari berbagai kalangan. Di tengah kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, kebijakan tersebut dinilai berpotensi memperberat tekanan ekonomi rakyat dan memicu kenaikan harga di berbagai sektor.

Direktur Center for Resistance and Liberation Studies (CRLS) STISNU Nusantara Kota Tangerang, Abdul Hakim, menilai kenaikan BBM tidak bisa dipandang sebagai sekadar penyesuaian harga yang mengikuti mekanisme pasar. Menurutnya, dalam struktur ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada transportasi berbasis bahan bakar fosil, setiap kenaikan BBM hampir selalu menimbulkan efek berantai terhadap biaya hidup masyarakat.

“Kenaikan BBM bukan hanya persoalan energi. Dampaknya akan merembet ke biaya distribusi barang dan jasa, ongkos transportasi, hingga harga kebutuhan pokok yang pada akhirnya harus ditanggung masyarakat,” ujar Abdul Hakim, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, dampak kebijakan tersebut akan semakin terasa karena terjadi saat kondisi ekonomi masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan. Biaya hidup yang terus meningkat, sementara pendapatan sebagian besar masyarakat tidak mengalami kenaikan yang sebanding, membuat kelompok berpenghasilan rendah dan kelas menengah menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Menurut Abdul Hakim, kenaikan BBM juga berpotensi memperkuat laju inflasi karena meningkatnya biaya distribusi dan produksi dapat memicu penyesuaian harga di berbagai sektor. Kondisi itu dinilai dapat semakin menggerus daya beli masyarakat yang dalam beberapa waktu terakhir belum menunjukkan pemulihan yang signifikan.

Baca Juga :  Lima Kecam Keras Pernyataan Presiden: Rakyat Tidak Butuh Mukjizat, Tapi Tanggung Jawab Negara

Karena itu, ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat persoalan BBM dari perspektif stabilitas fiskal maupun mekanisme pasar semata. Menurutnya, terdapat dimensi keadilan sosial yang harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan ekonomi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat luas.

“Ukuran keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya dilihat dari keseimbangan anggaran atau indikator makroekonomi. Yang lebih penting adalah sejauh mana negara mampu melindungi kesejahteraan rakyatnya dari tekanan ekonomi yang terus meningkat,” tegasnya.

Abdul Hakim juga mendorong pemerintah untuk melakukan kajian yang lebih komprehensif terhadap dampak sosial dan ekonomi dari kenaikan BBM serta menyiapkan langkah mitigasi yang konkret guna melindungi masyarakat dari risiko meningkatnya biaya hidup.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya peran masyarakat sipil dan gerakan mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik. Menurutnya, ruang kritik dan pengawasan harus tetap hidup agar setiap kebijakan yang diambil pemerintah tidak mengabaikan kepentingan rakyat.

“Ketika sebuah kebijakan berpotensi menambah beban ekonomi masyarakat, maka kontrol sosial menjadi sangat penting. Persoalan BBM bukan semata tentang harga energi, tetapi juga tentang keberpihakan negara terhadap rakyat yang harus menghadapi tekanan ekonomi setiap hari,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan
Beroepaya Hadirkan Urban Bolang Vol. 6, Tebar Manfaat di Kasepuhan Cibedug
SEMMI Tangerang: Pergantian Kepala BGN Lebih Tepat Disebut Politik Promosi
‎Harga BBM Juni 2026: Pertamax Turbo Tembus Rp20.750 per Liter
LBH GP Ansor Pusat Desak Penahanan Tersangka Kasus Penganiayaan Banser Rida
‎BEM UIC Soroti Prabowo Pertahankan Listyo Sigit di Tengah Kritik Publik
Pesan Gus Dur Menggema di Refleksi Waisak Nasional PKB di Tangerang
Diduga Mark Up, BGN Ungkap Harga Printer Rp 11 Juta Per Unit Telah Divalidasi LKPP
Berita ini 46 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:18 WIB

BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:15 WIB

Pengamat: Tekanan Ekonomi Semakin Besar di Tengah Naiknya Harga BBM

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:30 WIB

Beroepaya Hadirkan Urban Bolang Vol. 6, Tebar Manfaat di Kasepuhan Cibedug

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:56 WIB

SEMMI Tangerang: Pergantian Kepala BGN Lebih Tepat Disebut Politik Promosi

Senin, 1 Juni 2026 - 10:20 WIB

‎Harga BBM Juni 2026: Pertamax Turbo Tembus Rp20.750 per Liter

Berita Terbaru

Juru Bicara PIM, Adiem Malikking (Foto: Istimewa)

Banten

PIM Sorot Monopoli Rental Mobil Pejabat Pemkot Tangerang

Senin, 15 Jun 2026 - 16:15 WIB