Oleh Topan Bagaskara | Ketua Umum SEMMI Tangerang
Saya hidup di zaman ketika kebohongan tidak lagi bersembunyi. Ia berdiri di ruang terbuka, dipertontonkan, diperdebatkan, lalu dirayakan. Yang lebih mengkhawatirkan, banyak orang tidak lagi merasa terganggu olehnya. Mereka berenang di dalamnya seperti ikan yang lupa bahwa air di sekelilingnya telah tercemar.
Kehidupan sosial masyarakat hari ini seperti sekumpulan manusia yang berdesakan di sebuah kolam keruh. Mereka saling bertubrukan, saling menelanjangi, saling menghakimi, dan saling memanfaatkan. Namun sedikit yang bertanya mengapa airnya begitu kotor. Sedikit yang berusaha menjernihkannya. Sebagian bahkan sibuk meyakinkan yang lain bahwa kekeruhan itu adalah sesuatu yang wajar.
Di hadapan pemandangan itu, saya merasa gelisah. Bukan karena manusia melakukan kesalahan—sebab kesalahan adalah bagian dari kehidupannya—melainkan karena semakin banyak orang yang kehilangan keberanian untuk mengakui kesalahan. Kebohongan diproduksi seperti barang pabrik. Kepalsuan dipasarkan sebagai kebenaran. Sementara mereka yang mempertanyakan sering dianggap pengganggu kenyamanan bersama.
Mungkin beginilah sebuah zaman mengalami kemerosotan: bukan ketika kebohongan lahir, melainkan ketika kebohongan diterima sebagai bagian dari kewajaran.
Saya melihat wajah-wajah yang kehilangan cermin. Mereka tak lagi mengenali dirinya sendiri. Yang buruk dipoles menjadi kebajikan. Yang jernih dicurigai. Kebenaran sering kali harus membela dirinya sendiri, sementara kepalsuan memperoleh panggung yang luas melalui sorak-sorai massa.
Entah bagaimana banyak orang berhenti memeriksa apa yang mereka percaya. Sebagian menyerahkan penilaiannya kepada para demagog, pedagang opini, dan mereka yang hidup dari kemampuan memelintir kenyataan. Akibatnya, yang dicari bukan lagi kebenaran, melainkan narasi yang paling nyaman untuk dipercaya. Fakta menjadi sekunder ketika emosi telah mengambil alih.
Yang saya khawatirkan bukanlah keberadaan para pembohong. Mereka selalu ada dalam setiap zaman. Yang saya khawatirkan adalah ketika masyarakat mulai terbiasa dengan kebohongan, bahkan mengonsumsinya tanpa sikap kritis. Pada titik itu, kebenaran bukan hanya diabaikan, tetapi dapat dianggap sebagai ancaman.
Dalam bayangan saya, ada sepasang mata raksasa yang mengawasi semuanya. Bukan mata yang membangunkan nurani, melainkan mata yang memanen kepatuhan. Mata yang perlahan mengikis kemampuan manusia untuk berpikir, meragukan, dan berkata tidak.
Satu per satu orang memasuki kolam itu sebagai individu yang merdeka, lalu keluar sebagai gema. Mereka mengulang kata-kata yang bukan hasil pemikirannya sendiri, mengamini keyakinan yang tak pernah diperiksa, dan memikul kemarahan yang bahkan tidak mereka pahami asal-usulnya. Mereka hidup, tetapi tidak sepenuhnya menggunakan kesadarannya.
Dan saya, yang berdiri di tepi kolam ini, hanya mewarisi kegelisahan.
Gelisah melihat kebohongan tidak lagi bersembunyi di lorong-lorong gelap, melainkan diarak sebagai kebanggaan. Gelisah melihat manusia begitu mudah menyerahkan akalnya demi kenyamanan. Gelisah karena terlalu banyak orang memilih menjadi penghuni kolam daripada mencari mata air yang lebih jernih.
Pada malam hari, kegelisahan itu datang kembali dan mengajukan pertanyaan yang sama: bagaimana cara tetap waras di tengah dunia yang semakin akrab dengan kepalsuan?
Saya ingin keluar dari kolam itu. Namun saya sadar, kolam keruh bukan sekadar tempat. Ia adalah sistem, budaya, dan kebiasaan yang memengaruhi cara manusia berpikir. Karena itu, menjauh darinya bukan sekadar berpindah posisi, melainkan upaya terus-menerus untuk menjaga kesadaran.
Dalam situasi ketika lumpur mulai diperlakukan sebagai lautan, mengingat kejernihan menjadi tindakan yang sunyi sekaligus bentuk perlawanan. Menolak larut dalam arus bukan berarti merasa lebih suci atau lebih benar dari orang lain. Sebab setiap manusia memiliki kemungkinan untuk tersesat. Namun kesadaran akan kemungkinan itulah yang membuat sikap kritis tetap diperlukan.
Hari ini kolam itu tampak semakin penuh. Airnya semakin pekat. Suaranya semakin riuh. Dan semakin banyak orang yang tenggelam tanpa menyadari bahwa mereka sedang tenggelam.
Meski demikian, selalu ada alasan untuk berharap. Suatu hari, kolam itu mungkin mengering dan memperlihatkan lumpur yang selama ini tersembunyi di dasarnya. Pada saat itu, masyarakat dapat menyadari bahwa yang selama ini dirayakan bukanlah kehidupan, melainkan pembusukan yang dibiarkan tumbuh bersama.
Semoga masih ada yang mengingat seperti apa air yang jernih. Sebab ketika kesadaran itu akhirnya datang, hanya ingatan tentang kejernihan yang akan menunjukkan ke mana manusia harus kembali.











