Oleh: Zahra Renuat | Kader SEMMI Tangerang
Ada masa ketika kekuasaan lahir dari amanah. Ia tumbuh dari kepercayaan rakyat, dijaga oleh nurani, dan dibatasi oleh hukum. Namun hari ini, wajah kekuasaan kian berubah—bukan lagi tentang pengabdian, melainkan ambisi yang menjelma keserakahan. Dalam pusaran itu, rakyat kecil bukan hanya dilupakan, tetapi kerap dijadikan korban.
Haus kekuasaan adalah penyakit yang bekerja diam-diam, tetapi menghancurkan terang-terangan. Ia merasuki oknum pejabat yang lupa bahwa jabatan adalah titipan, bukan hak milik.
Dari sana lahir kesombongan, disusul kesewenang-wenangan, hingga puncaknya: pembunuhan karakter terhadap siapa saja yang dianggap mengganggu. Kritik dibungkam, suara dibelokkan, dan kebenaran dipelintir demi menjaga kursi tetap hangat diduduki.
Yang lebih menyakitkan, semua itu sering dibungkus dengan dalih pembangunan dan stabilitas. Seolah-olah penderitaan rakyat adalah konsekuensi yang harus diterima. Padahal demokrasi tidak pernah mengajarkan pengorbanan sepihak.
Demokrasi menuntut keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada mereka yang lemah—bukan pada segelintir yang berkuasa.
Di titik ini, rakyat benar-benar berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada ketakutan untuk bersuara; di sisi lain, ada luka yang tak bisa terus dipendam. Ketika ruang keadilan menyempit dan kekuasaan kehilangan empati, maka yang tersisa hanyalah jarak antara penguasa dan yang dikuasai—jarak yang semakin hari semakin dalam.
Oknum pejabat yang sombong, sewenang-wenang, dan gemar membunuh karakter sejatinya telah kehilangan legitimasi moral. Jabatan yang dipegang bukan lagi alat pengabdian, melainkan alat penindasan yang halus namun mematikan.
Dalam kondisi seperti ini, bertahan di kursi kekuasaan bukanlah kehormatan, melainkan beban sejarah.
Maka pesan itu menjadi jelas: turunlah. Beristirahatlah. Sebab kekuasaan tanpa moral hanya akan melahirkan kehancuran yang lebih luas. Lebih baik mundur dengan sisa kehormatan, daripada dipaksa turun oleh gelombang kekecewaan rakyat.
Sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani berdiri di sisi kebenaran. Dan rakyat, meski kerap diremehkan, tidak pernah benar-benar kehilangan suaranya. Jika hari ini mereka masih diam, bukan berarti mereka tidak melihat—hanya menunggu waktu yang tepat untuk berbicara.
Rakyat di persimpangan jalan bukan berarti tanpa arah. Justru di sanalah kesadaran lahir. Bahwa kekuasaan harus dikembalikan ke makna awalnya: melayani, bukan menginjak. Jika tidak, maka jalan yang dipilih bukan lagi menuju masa depan, melainkan menuju runtuhnya kepercayaan yang tak mudah dibangun kembali.











