Pilkada Oleh DPRD: Kudeta Senyap Atas Kedaulatan Rakyat

- Penulis

Minggu, 11 Januari 2026 - 13:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Dede Rengifuryaan | Ketua ikatan mahasiswa Maluku Tangerang


Ketika pilkada hendak dikembalikan ke tangan DPRD, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar mekanisme pemilihan, melainkan nasib kedaulatan rakyat itu sendiri. Ini bukan soal teknis demokrasi, ini adalah soal siapa yang berhak menentukan arah kekuasaan: rakyat atau segelintir elite politik.

Dalih yang dipakai selalu sama dan usang: pilkada langsung mahal, gaduh, penuh konflik, dan sarat politik uang. Tapi mari jujur—apakah kebusukan demokrasi hari ini benar-benar lahir dari rakyat, atau justru dari partai politik dan elite yang gagal berbenah? Menghukum rakyat dengan mencabut hak pilihnya adalah bentuk kemalasan politik yang dibungkus jargon stabilitas.

Sejarah yang Diputar Ulang: Demokrasi Elitis yang Pernah Gagal

Sejarah Indonesia telah mencatat dengan tinta hitam: pemilihan kepala daerah oleh DPRD pada masa Orde Baru dan awal Reformasi tidak melahirkan pemimpin yang berpihak pada rakyat. Ia melahirkan kepala daerah pesanan, hasil kompromi elit, transaksi kamar gelap, dan loyalitas pada partai, bukan pada warga.

DPRD kala itu—dan bahkan hingga kini—tidak sepenuhnya bebas dari praktik mahar politik dan jual-beli suara. Maka mengembalikan pilkada ke DPRD sama saja dengan menghidupkan kembali demokrasi semu, di mana rakyat dipaksa percaya bahwa wakilnya selalu suci dan rasional, sementara fakta berkata sebaliknya. Ini bukan kemunduran biasa. Ini adalah langkah mundur yang disengaja.

Demokrasi Dikorbankan atas Nama Efisiensi

Demokrasi memang mahal. Tapi ketidakadilan jauh lebih mahal. Menghapus hak pilih rakyat dengan alasan efisiensi adalah logika teknokratis yang dingin dan anti-demokrasi. Jika biaya menjadi alasan, mengapa yang dipangkas selalu hak rakyat, bukan anggaran partai, privilese pejabat, atau ongkos politik elite?

Baca Juga :  Sachrudin dan Kontinuitas Kepemimpinan Golkar Kota Tangerang: Antara Loyalitas, Stabilitas, dan Konsistensi Kemenangan

Ketika rakyat dianggap terlalu “bodoh”, “mudah dihasut”, atau “terlalu emosional” untuk memilih pemimpinnya sendiri, sesungguhnya yang sedang berbicara adalah arogansi kekuasaan. Ini adalah mental feodal yang menganggap rakyat hanya layak diwakili, bukan dilibatkan.

DPRD Bukan Tuhan Demokrasi

DPRD adalah lembaga perwakilan, bukan pemilik kedaulatan. Kedaulatan tetap berada di tangan rakyat, bukan di ruang sidang fraksi. Menyerahkan pilkada kepada DPRD berarti memusatkan kekuasaan pada elite partai, memperkuat oligarki lokal, dan memperlemah kontrol publik.

Kepala daerah hasil pilihan DPRD akan lebih takut pada ketua partai daripada jeritan rakyat. Ia akan sibuk menjaga koalisi, bukan memperjuangkan keadilan sosial. Dari sinilah lahir pemimpin yang pandai berpolitik, tetapi miskin empati.

Ini Bukan Koreksi, Ini Perampasan

Jika pilkada langsung bermasalah, maka yang harus diperbaiki adalah sistemnya: pendanaan politik, penegakan hukum pemilu, pendidikan politik rakyat, dan demokratisasi partai. Bukan dengan merampas hak rakyat untuk memilih.

Mengembalikan pilkada ke DPRD bukan solusi, melainkan jalan pintas yang berbahaya. Ia adalah bentuk kudeta senyap—tanpa tank, tanpa senjata—tetapi efektif mengosongkan demokrasi dari maknanya.

Rakyat Bukan Masalah, Elite-lah Masalahnya

Demokrasi tidak runtuh karena rakyat memilih, tetapi karena elite mengkhianati mandatnya. Jika hari ini suara rakyat dianggap masalah, maka besok yang dianggap masalah bisa jadi adalah kebebasan berbicara, kebebasan mengkritik, dan kebebasan berpikir.

Pilkada oleh DPRD bukan kemajuan. Ia adalah pengkhianatan terhadap semangat Reformasi. Dan setiap pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat, cepat atau lambat, akan dibalas oleh sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis
Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian
‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan
7 Dekade SEMMI: Mengukuhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi
Aktivis HAM Diserang, Demokrasi Hanya Omon-omon
PMII di Persimpangan Jalan: Organisasi Kader atau Alat Manuver Politik
Fenomena Kesehatan Mental Tren Dalam Media Sosial
Hari Perempuan Sedunia: BEM PTNU Banten Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Perempuan dan Minimnya Keterwakilan Politik
Berita ini 58 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:23 WIB

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:12 WIB

Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:11 WIB

7 Dekade SEMMI: Mengukuhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:12 WIB

Aktivis HAM Diserang, Demokrasi Hanya Omon-omon

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:25 WIB

PMII di Persimpangan Jalan: Organisasi Kader atau Alat Manuver Politik

Berita Terbaru

Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Abdul Hakim (Foto/Istimewa).

Opini

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis

Kamis, 26 Mar 2026 - 16:23 WIB

Foto: Teknologi AI.

Opini

Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian

Kamis, 26 Mar 2026 - 16:12 WIB