Defisit Cinta dan Perjuangan Kaum Mahasiswa

- Penulis

Sabtu, 10 Mei 2025 - 23:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Topan Bagaskara

Feminis | Pendaki Gunung

Pendiri Komunitas Sua.ra Logika


“Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi,” Soe Hok Gie.

—-

Gie, saya kira perjuangan hari ini bukan tentang bagaimana menghantam rezim saja. Jauh dari itu, saya merasa yang menjadi permasalahan ialah mahasiswa-mahasiswa yang tidak memahami persoalan, —tidak bisa mengenal persoalan.

Menyedihkan. Jika hari ini, cita-cita tentang Mapala yang Anda buat; melestarikan lingkungan dan melawan ketidakadilan, sudah tidak melekat pada diri mahasiswa terkhusus kaum Mapala.

Keterjebakan perjuangan pada kebutuhan ekonomi, menjadi landasan. Meskipun ada variabel lain yang terlibat, seperti keterlenaan pada ruang dunia Maya. Ini menyebabkan defisit empati; rasa; dan arti makna hidup.

Saya pikir hal terpenting demi menunjang permasalahan tersebut muaranya ialah pendidikan. Selain pendidikan berfungsi untuk memahami bagaimana melakoni kehidupan, juga memudahkan seorang manusia mencari makna hidup.

Makna hidup menurut Viktor Frankl ialah kondisi manusia mampu memberikan manfaat bagi manusia dan antar sesama. Frankl bahkan berpandangan bahwa manusia dalam kondisi terjepit pun masih memiliki peluang untuk memberikan makna pada orang lain. Bahwa inti kehidupan yakni bisa memberikan makna pada sesama.

—Perbedaan antara satu dan lainnya dalam menghadapi kehidupan bagi makhluk yang bernama manusia adalah saat kehilangan arti dari kehadirannya di dunia ini. Adapun kebahagiaan merupakan imbalan dari keberhasilan seseorang menemukan makna hidup, dengan kata lain disaat manusia berada pada kondisi paling bawah sekalipun, individu akan merasa bahagia pada saat berhasil memahami bahwa kondisi tersebut tidaklah benar-benar buruk, bahwa apa yang ia lalu sebelumnya juga harus ia hargai dan bahwa ia memiliki manfaat bagi orang lain meskipun kecil dan tidak dihargai orang, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Minyak Goreng dan BBM Oplosan, PIM: BPKN Diam?

Selanjutnya, temuan riset kolaboratif yang dilakukan oleh Deakin University Australia dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) terkait tingkat kemampuan Gen Z dalam menilai hoaks.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan menggunakan dua metode tersebut, yang menilai tingkat kepercayaan mereka pada sumber informasi, dan kemampuan mereka membedakan antara fakta dan propaganda —tingkat kemampuan Generasi Z, khususnya di Indonesia, menunjukkan hasil yang bervariasi dalam menilai hoaks.

Sebagian besar Generasi Z (83%) tidak bisa membedakan informasi fakta dan hoaks. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan Generasi Z yang hanya membaca judul tanpa memverifikasi informasi yang mereka terima. Adapun survei serupa yang dilakukan oleh Stanford University, yang juga menggambarkan Generasi Z bahkan tidak bisa membedakan antara iklan dan berita, serta fakta dan opini.

Padahal, literasi tidak hanya berbicara membaca dan menulis, lebih dari itu, puncak dari literasi ialah pemahaman yang kemudian diekstraksikan menjadi pemikiran hasil dari analisa dan dicerna informasi secara kritis.

Kini, saya tidak melihat mahasiswa-mahasiswa ketika berpikir berdasarkan analisa dan penuh pengetahuan; ketika berbicara penuh keyakinan, kejujuran dan akrab dengan keadilan; disaat berjuang mengepal kesadaran dan dekat makna hidup; serta disaat menulis penuh dengan ketajaman dan penderitaan-ketertindasan.

Saya ingin melihat itu, menyaksikan sebuah generasi yang jauh dari keterlenaan hedonis dan popularitas. Sebagai seorang manusia sekaligus pemuda-pemudi yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, —sebagai seorang pemuda dan terlebih sebagai seorang manusia.

 

Editor: Devis Mamesah

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Eco-Anxiety: Krisis Iklim dan Persoalan HAM
‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan
Islam Jangan Hanya Menjadi Identitas: Keislaman Harus Melahirkan Keberanian Melawan Ketidakadilan
Merdeka untuk Siapa? Banten di Tengah Ledakan Inventasi dan Ketimpangan
Ketika Kampus Lupa Mendidik Manusia
Bocor Alus, Jokowi, dan Pesan dari Kacamata Prabowoisme
Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung
Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Berita ini 23 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:14 WIB

‎Eco-Anxiety: Krisis Iklim dan Persoalan HAM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:04 WIB

‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:26 WIB

Islam Jangan Hanya Menjadi Identitas: Keislaman Harus Melahirkan Keberanian Melawan Ketidakadilan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Merdeka untuk Siapa? Banten di Tengah Ledakan Inventasi dan Ketimpangan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ketika Kampus Lupa Mendidik Manusia

Berita Terbaru

Foto ilustrasi umat Kristiani beribadah (Foto/istimewa)

Banten

Ibadah GKPI Mauk-Sepatan Dibubarkan, Jemaat Diancam Sajam

Minggu, 20 Sep 2026 - 15:01 WIB

Fogging Graha Yadika, Rapid Indonesia dan Damkar Sisir Sarang Nyamuk (foto/istimewa)

Banten

Cegah DBD, Rapid Indonesia Gelar Fogging di Graha Yadika

Sabtu, 19 Sep 2026 - 18:30 WIB