Oleh Supriyadi | Ketua Umum PC SEMMI Pandeglang
Islam jangan hanya berhenti sebagai identitas. Keislaman harus hadir dalam cara kita berpikir, bersikap dan memperlakukan sesama. Sebab, keberagamaan yang tidak melahirkan kepedulian terhadap ketidakadilan akan kehilangan makna sosialnya.
Bagi saya, menjadi seorang Muslim bukan hanya tentang hubungan dengan Allah SWT, tetapi juga tentang keberanian berdiri ketika kebenaran dan keadilan sedang dipertaruhkan.
Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto masih relevan untuk kita renungkan. Salah satu prinsip yang diwariskannya adalah:
“Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.”
Kalimat ini bagi saya bukan sekadar slogan, tetapi pedoman bagi generasi muda Islam.
Setinggi-tinggi ilmu berarti perjuangan harus dibangun dengan pengetahuan. Mahasiswa Islam tidak boleh hanya pandai berbicara, tetapi harus mampu membaca persoalan, mengkaji kebijakan dan membangun kritik berdasarkan fakta.
Semurni-murni tauhid berarti ilmu dan perjuangan harus memiliki landasan moral. Tauhid seharusnya melahirkan keberanian untuk mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Kita tidak boleh takut kepada kekuasaan ketika yang diperjuangkan adalah kebenaran dan kepentingan masyarakat.
Sementara sepintar-pintar siasat mengajarkan bahwa perjuangan membutuhkan strategi. Keberanian tanpa perhitungan dapat menjadi kecerobohan. Karena itu, gerakan mahasiswa harus menggabungkan keberanian dengan kajian, data, komunikasi dan strategi.
Di sinilah keislaman seharusnya mengambil posisi.
Ketika masyarakat mengalami ketidakadilan, kita tidak boleh memilih diam. Ketika kebijakan tidak berpihak kepada rakyat, kita harus berani mengkritisi. Ketika ada persoalan sosial, mahasiswa Islam harus hadir memberikan gagasan dan solusi.
Namun perjuangan tersebut bukanlah kebencian terhadap pemerintah atau permusuhan terhadap negara. Kritik adalah bagian dari tanggung jawab sosial selama dilakukan dengan ilmu, etika dan tujuan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Jangan sampai kita hanya mengagumi H.O.S. Tjokroaminoto, mengutip kalimatnya, tetapi kehilangan semangat perjuangannya.
Generasi muda Islam hari ini memiliki persoalan zamannya sendiri: ketimpangan sosial, kemiskinan, korupsi, persoalan pendidikan, pelayanan publik dan berbagai bentuk ketidakadilan lainnya.
Maka tugas kita bukan sekadar mewarisi sejarah, tetapi menghidupkan nilai perjuangan itu dalam realitas hari ini.
Sebagai Ketua Umum PC SEMMI Pandeglang, saya berpandangan bahwa mahasiswa Islam harus menjadi generasi yang berilmu, bertauhid, berintegritas dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Sebab pada akhirnya:
Ilmu harus melahirkan kesadaran. Tauhid harus melahirkan keberanian. Dan perjuangan harus melahirkan kemaslahatan.
Islam tidak cukup hanya menjadi identitas. Islam harus menjadi nilai yang hidup dan keberanian untuk membela kebenaran.











