Oleh Topan Bagaskara | Ketum SEMMI Cabang Tangerang
Di tengah perdebatan Rocky Gerung masuk Istana, perhatian publik terlalu sibuk bertanya apakah Rocky masih kritis atau sudah menjadi bagian dari kekuasaan. Bagi saya, itu bukan pertanyaan utamanya. Rocky justru lebih menarik jika ditempatkan sebagai bagian dari pola politik Prabowo yang lebih besar.
Prabowo sedang menyusun ulang konfigurasi kekuasaannya. Pergeseran Pratikno ke Wantimpres, Listyo Sigit ke KSP, pergantian Qodari oleh Syahganda di Bakom, serta sejumlah perubahan posisi strategis menunjukkan satu kecenderungan: simpul-simpul pengaruh lama sedang dipreteli dan disusun kembali di bawah orbit Prabowo.
Saya melihat ini bukan semata reshuffle administratif. Ini adalah politik konsolidasi. Prabowo tampaknya sedang berusaha mengurangi ruang bagi apa yang saya sebut sebagai “geng Solo” atau jaringan politik Jokowi untuk tetap memiliki pengaruh mandiri dalam struktur kekuasaan baru.
Cara kerjanya tidak harus melalui pemecatan atau konflik terbuka. Orang-orang tertentu dipindahkan, sebagian dipertahankan, sebagian lainnya diganti. Posisi-posisi strategis ditata kembali. Perlahan, pusat gravitasi kekuasaan pun bergeser.
Dalam konteks itu, masuknya Rocky ke Wantimpres menjadi menarik. Saya tidak melihatnya sebagai tanda bahwa ia telah meninggalkan kritiknya. Yang lebih penting adalah melihat siapa yang kini memperoleh akses, bagaimana akses itu dibentuk, dan berada dalam konfigurasi kekuasaan seperti apa.
Richard J. Heuer Jr. mengingatkan bahwa analis mudah terjebak pada mind-set: membaca informasi baru dengan asumsi lama. Jika Rocky selama ini ditempatkan sebagai pengkritik, masuk Istana akan mudah dibaca sebagai pengkhianatan. Padahal, yang perlu dilihat adalah perubahan struktur di balik peristiwa tersebut.
Menurut saya, nightmare scenario-nya bukan Rocky berubah menjadi penjilat. Itu terlalu remeh-temeh.
Nightmare scenario-nya adalah Prabowo berhasil membangun konfigurasi kekuasaan yang membuat jaringan lama kehilangan ruang geraknya tanpa harus berhadapan secara terbuka dengan mereka.
Kekuasaan bisa bekerja dengan memindahkan simpul, mengganti pemain, menarik figur tertentu ke pusat, mempertahankan figur lain, lalu perlahan membuat jaringan politik bergantung pada satu pusat kekuasaan.
Dalam skenario itu, Rocky bukan lawan yang harus ditaklukkan. Ia adalah bagian dari konfigurasi baru. Begitu pula figur-figur lain yang masuk, bertahan, atau berpindah posisi di sekitar Prabowo.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Rocky masih Rocky. Persoalannya adalah apakah Prabowo sedang mengubah peta kekuasaan dengan mengambil kembali ruang-ruang yang sebelumnya menjadi milik jaringan Jokowi.
Jika jawabannya iya, masuknya Rocky ke Istana bukan cerita tentang seorang intelektual yang kehilangan idealisme. Itu hanya satu potongan kecil dari operasi politik yang lebih besar: Prabowo sedang menutup ruang kekuasaan lama dan memastikan pusat gravitasi politik berada di tangannya sendiri. Di situlah nightmare scenario yang sebenarnya.












