- Penulis

Jumat, 28 November 2025 - 01:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oki Fathurohman (Santri Ponpes Annizhomiyyah Labuan dan Mahasiswa Studi Islam Interdisipliner Pascasarjana UIN SMH Banten)

Oki Fathurohman (Santri Ponpes Annizhomiyyah Labuan dan Mahasiswa Studi Islam Interdisipliner Pascasarjana UIN SMH Banten)

Oleh: Oki Fathurohman

(Santri Ponpes Annizhomiyyah Labuan dan Mahasiswa Studi Islam Interdisipliner Pascasarjana UIN SMH Banten)

Menanam padi di tengah sawah Buahnya berisi dan memekar Apabila engkau terkena musibah Haruslah intropeksi dan bersabar “pantun penghambaan”

Dalam mengarungi kehidupan dunia, kita sering dihadapkan dengan berbagai peristiwa dalam setiap fasenya, mulai dari kanak-kanak ke remaja, dari remaja ke dewasa, dari dewasa ke lansia dan seterusnya. Persoalan hidup tentu akan selalu hadir mengisi ruang hidup, hal itu semata merupakan sebuah seni menyikapi. Diantara peristiwa yang hadir merupakan musibah, secara sederhana, kita dapat mendefinisikan musibah dengan suatu peristiwa yang menimpa seseorang, baik berupa kebaikan maupun keburukan, kesenangan atau kesedihan, kekayaan atau kemiskinan, jabatan dan lain sebagainya. meskipun pada umumnya, musibah sering dipahami sebagai kejadian menyedihkan yang menimpa pada diri seseorang.

Hal menarik yang ingin penulis ulas dalam naskah sederhana ini adalah butiran hikmah yang coba digali dari serangkaian panjang perjalanan manusia dalam melewati vase demi vase kehidupan, dengan menggunakan pisau analisa islam dan positivism sehingga ada poin positif yang bisa kita ambil untuk dijadikan sarana penyadaran jiwa dan ketajaman intuisi sehingga menjadi modal menciptakan hidup yang esensial dan bersifat abadi dengan menyeimbangkan pendekatan ketuhanan dan science.

Memaknai musibah dalam perspektif islam

Dalam islam, banyak sekali ayat, hadis, maupun kisah yang membahas soal musibah. Diantaranya adalah surah Al-Baqarah ayat 155 “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,”

Ayat ini menegaskan bahwa musibah dan cobaan adalah hal yang pasti akan dialami oleh setiap manusia. Selain itu masih terdapat beberapa ayat yang tersurat dalam Al-qur’an mengenai tujuan allah menurunkan musibah diantaranya adalah yang dikutip oleh Abd. Kholid; Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Surabaya, ia menuliskan Ujian, cobaan, musibah, bencana, dan lain-lain yang ditimpahkan kepada umat manusia adalah untuk mengukur sejauh mana keteguhan dan kekuatan iman dan aqidahnya. Bagi mereka yang kokoh imannya dalam menghadapi cobaan maka akan mendapatkan surga (QS. Ali Imran: 142).

Musibah ditimpahkan kepada umat manusia untuk mengukur tingkat kesabarannya dalam menerima ujian tersebut. Hal ini sebagaimana ujian yang ditimpahkan kepada nabi Ayyub, bermula dari kehidupan yang melimpah kemudian ludes, anak-anaknya meninggal, hingga penyakit yang tidak kunjung sembuh sehingga isteri-isterinya menjauhinya, semua ini dihadapi nabi Ayyub dengan sabar sehingga pada akhirnya Allah memberikan kesembuhan penyakitnya dan kembali hidup bahagia dengan isterinya (QS. al-Anbiya’: 83-84).

Musibah ditimpahkan kepada umat manusia sebagai sarana untuk meningkatkan derajatnya. Hal ini dicontohkan dalam kisah hidup nabi Ibrahim yang dihiasi dengan ujian dan cobaan yang terus menerus, beliau harus menghadapi raja Namrud yang membakarnya, beliau harus pula mengurbankan nyawa anak yang didamba-dambakan. Semua cobaan dan ujian itu dihadapi nabi Ibrahim dengan sabar hingga akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi kekasihnya (khalil Allah).

Kemudian ujian ditimpahkan kepada umat manusia sebagai peringatan atas kedhaliman, kemungkaran dan kemaksiatan yang dilakukannya. Hal ini sebagaimana musibah yang ditimpahkan kepada umat nabi Musa yang setiap permintaannya selalu dikabulkan Allah namun tetap saja melakukan kedhaliman (QS. al-A’raf: 133).

Selain itu musibah juga bisa dimaknai sebagai azab atau siksaan karena kedurhakaannya kepada Allah, siksa ini sekaligus sebagai peringatan bagi orang lain. Jenis musibah ini sebagaimana ditimpahkan kepada umat-umat terdahulu seperti: kaum Aaad, kaum Tsamus, Fir’aun dan bala tentaranya serta umat-umat lainnya (QS. al-Fajar: 6-14).

Selain ayat Al-qur’an, ada kisah menarik yang ditulis oleh Imam As-Syafi’I dalam kitab Irsyadul Ibad yang mengisahkan seorang Perempuan yang terlihat berbinar dan berbunga padahal ia sedang dalam keadaan berduka akibat musibah yang dialaminya berupa kehilangan semua keluarganya.

Sementara itu, untuk memaknai musibah Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin mengutarakan berbagai hadis yang memuat bab-bab khusus tentang kesabaran, cobaan, dan ujian hidup, serta pahala bagi orang-orang yang bersabar menghadapinya.

Baca Juga :  PSI, Jokowisme, dan Ilusi Kandang Gajah

Di sisi lain, dalam Tuhfatul Muhtaj karya Imam Ibnu Hajar Al-Haitami menjelaskan bahwa musibah adalah ketentuan Allah yang harus dihadapi dengan kesabaran, tawakal, dan doa. Hikmah di baliknya adalah untuk menyadarkan manusia, menguji keimanan, dan memberikan kesempatan untuk bertobat serta memohon pertolongan Allah.

Sementara itu, musibah tidak hanya berupa masalah atau kepedihan, musibah atau cobaan bisa pula dalam bentuk kesenangan, bergelimangan harta atau jabatan. Dalam bentuk jabatan dan tanggung jawab misalnya, salah satu pemimpin isalam pasca khulafaurrasyidin, Umar bin Abdul Aziz yang menganggap jabatan sebagai khalifah merupakan musibah besar baginya, sehingga ia menangis dan menggigil karena mengingat pertanggung jawaban yang akan ia peroleh di hadapan allah, tentu berbeda dengan era demokrasi dimana banyak orang berlomba-lomba untuk mendapatkan jabatan dengan dalih pengabdian atau mencari pahala dari jabatan yang ia emban, tentu boleh dan bisa menjadi ladang pahala jika dalam kepemimpinannya dilakukan dengan Amanah dan tanggung jawab.

Kemudian, dalam bentuk kekayaan, tentu siapa yang tidak mengenal kisah fir’aun, seorang raja yang diuji allah dengan gelimangan harta dan kekuasaannya, sehingga ia memaknai karunia tersebut sebagai kekuatan bahkan atas kelebihan itu iya lupa diri sampai mengaku dirinya sebagai tuhan. Namun demikian, berbeda degan istrinya yang bernama Aisyah binti Muzahim yang tetap beriman meskipun dikelilingi penghormatan, bersuami raja dan kaya raya, hal itu justru tetap meneguhkan hatinya untuk tidak berpaling kepada allah sehingga dirinya dijamin syurga sebagai hadiah atas pengendalian diri dari cobaan yang ia terima melalui lingkungan kafir, raja dan amat kaya raya.

Dalam perspektif positivisme

Positivism adalah salah satu aliran filsafat yang diprakarsai oleh beberapa filusuf barat terutama Agust Comte, disiplin ilmu ini menekankan analisis secara empiris, yakni mengukur fakta dengan pengalaman dan observasi, sains, serta menolak spekulasi metafisik. Aliran ini berpendapat bahwa realitas sosial dapat dipelajari menggunakan metode ilmiah, seperti eksperimen dan statistik.

Bagi positivisme, musibah adalah peristiwa alam atau sosial yang dapat dijelaskan, diprediksi, dan dikelola melalui penerapan sains dan metode ilmiah secara ketat. Dalam memandang suatu kejadian, positivism tentu berpatokan kepada kronologis untuk kemudian ditarik menjadi hukum kausalitas atau sebab akibat. Dalam teori ini objektivitas diukur dari kejadian apa yang dilakukan dan tidak ada kebetulan.

Dengan pendekatan positivism kita dituntut untuk memastikan faktor-faktor penyebab terjadinya suatu peristiwa yang diuji secara historis dan sosiologis serta bebas nilai, artinya dalam menganalisisnya sama sekali tidak melibatkan perasaan, moral dan etika sekalipun supaya data yang dihasilkan benar-benar otentik dan tidak bersifat tendesi.

Ada beberapa analogi bagaimana pendekatan positivism dijadikan pisau dalam mengidentifikasi suatu peristiwa. Diantaranya adalah mengidentifikasi terjadinya peristiwa, apa, mengapa, bagaimana problematika pristiwa itu terjadi. Dari identifikasi tersebut munculah indikator penyebab, dari sana baru bisa dievaluasi menggunakan management resiko supaya peristiwa tserupa tidak terjadi kenmbali.

Perspektif islam dan positivism

Dari uraian pembanding di atas, penulis mengambil beberapa hal yang penulis anggap penting. Pertama, dalam setiap peristiwa yang kita alami mesti dikaji, diidentifikasi dan diefaluasi sehingga cara penyelesaian terhadap masalah serupa ditemukan. Kedua, dalam proses penyelesaian problematika dapat kita analisa dan diketahui siapa yang membantu, yang merecoki, dan sebgainya sehingga dari sana bisa kita nilai dan mengambil sikap bagaimana semestinya kita berperilaku selanjutnya dan kepada siapakah sandaran utama yang mesti kita pegang. Selain itu, hal yang paling penting dari setiap peristiwa baik berupa kesenangan atau kesedihan adalah tidak lupa kepada siapa yang menciptakan, kepada siapa kita akan kembali dan dalam kondisi seperti apakah kelak kita kembali.

Sederhananya, sebagai insan yang beriman dan berakal, kita mesti melakukan penyeimbangan pendekatan dalam mengarungi kehidupan, yakni pendekatan ketuhanan dan pendekatan keilmuan, dari sana barulah kita akan tercipta sebagai aktor yang mumpuni mengatasi problematika dengan seni kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gaza Pasca-Perang dan Ilusi Perdamaian
Ruang Ekspresi Indonesia: Merayakan Suara, Menciptakan Gagasan, dan Kebebasan Berpendapat
Ambisi Politik Presiden dan Politikus Otak Patungan
Titik Temu Demitologi dan Teologi dalam Menganalisa Bencana Alam
Pilkada, Prabowo, dan Seni Mengendalikan Demokrasi
Pilkada Oleh DPRD: Kudeta Senyap Atas Kedaulatan Rakyat
PSI, Jokowisme, dan Ilusi Kandang Gajah
Pilkada Langsung: Amanah Aswaja, Konstitusi, dan Reformasi
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 19:11 WIB

Gaza Pasca-Perang dan Ilusi Perdamaian

Rabu, 28 Januari 2026 - 06:04 WIB

Ruang Ekspresi Indonesia: Merayakan Suara, Menciptakan Gagasan, dan Kebebasan Berpendapat

Rabu, 28 Januari 2026 - 04:28 WIB

Ambisi Politik Presiden dan Politikus Otak Patungan

Senin, 12 Januari 2026 - 17:15 WIB

Titik Temu Demitologi dan Teologi dalam Menganalisa Bencana Alam

Senin, 12 Januari 2026 - 16:36 WIB

Pilkada, Prabowo, dan Seni Mengendalikan Demokrasi

Berita Terbaru

Hasil Carabo Cup: Arsenal Menang Tipis 1-0 Atas Chelsea (Foto: The Guardian)

Sepak Bola

Meriam London Singkirkan The Blues Dari Carabao Cup

Rabu, 4 Feb 2026 - 08:46 WIB

The Gunners Pesta Gol di Kandang Leeds United (Foto: DetikSport)

Olahraga

The Gunners Pesta Gol Saat Tandang ke Markas Leeds United

Minggu, 1 Feb 2026 - 19:59 WIB