Oleh Rizafi Ilham | Pembelajar Demokrasi dan Hak Asasi Manusia
Tulisan ini hadir sebagai ruang jeda di tengah hiruk pikuk organisasi, alih-alih mendapatkan kebermaknaan, yang kita temukan hanya kondisi stagnan. Tidak jarang kita merasa telah berperan menghidupkan napas organisasi, namun yang tejadi kita terseret dalam suasana baperan terhadap kondisi itu sendiri.
Entah begitu jadinya, berperan dalam organisasi sering dimaknai sebagai kehadiran, keterlibatan, dan kesediaan menjalankan tugas. Forum-forum kita datangi, segala bentuk agenda kita santap dan diakhiri pertanggungjawaban.
Namun, di balik itu saya melihat timbul pertanyaan yang mendasar; apakah kehadiran kita juga membawa kesadaran? atau sekadar menjalani peran tanpa makna?
Di sisi lain, baperan sering menderap perlahan ke suasana organisasi. Ia sering lahir dari ruang dialog yang terasa sempit, dari perasaan tidak didengar, atau dari kegelisahan yang tidak menemukan tempatnya. Ketika perbedaan pandangan sulit diterima dan kritik terasa tidak diinginkan, emosi pun menjadi bahasa yang paling mudah digunakan.
Pada titik ini, persoalannya bukan lagi tentang siapa yang terlalu sensitif, melainkan tentang bagaimana organisasi merawat atau justru mengabaikan ruang saling memahami.
Dalam dinamika tersebut, peran senior dan anggota tidak bisa dipisahkan. Senior memikul tanggung jawab moral untuk menciptakan suasana yang aman bagi tumbuhnya gagasan. Bukan sekadar menjaga tradisi, tetapi juga membuka diri terhadap perubahan. Sementara itu, anggota dituntut untuk belajar menyampaikan kegelisahan secara jujur dan bertanggung jawab, tanpa kehilangan etika dan orientasi kolektif.
Teringat dengan Aristoteles, yang tidak melihat emosionalitas itu sendiri sebagai masalah. Menurutnya, emosi adalah bagian alami dari manusia. Masalahnya terletak pada cara mengelola dan mengekspresikan emosi tersebut.
Kita perlu kejar refleksi dan mengajak untuk menyadari bahwa berperan tidak selalu berarti setuju, dan berbeda pendapat tidak otomatis berarti baperan. Ada garis tipis antara menyampaikan kritik dan meluapkan perasaan, sebagaimana ada jarak antara mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan sekadar menunggu giliran berbicara. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu merawat garis-garis tersebut dengan kedewasaan.
Secara umum, pandangan filosofis cenderung sepakat bahwa emosi harus dikelola dalam lingkungan profesional. “Baper” dalam organisasi, yang diartikan sebagai reaksi emosional berlebihan dan tidak proporsional, dipandang sebagai penghalang bagi produktivitas, objektivitas, dan pencapaian tujuan bersama. Kita harus mendorong setiap individu untuk mengembangkan kematangan emosional dan fokus pada penalaran rasional dalam interaksi kerja.
Barangkali, yang perlu terus kita tanyakan bukan lagi siapa yang paling aktif atau paling benar, melainkan apakah organisasi masih menjadi ruang belajar bersama. Apakah kita masih saling mendengarkan, atau justru sibuk mempertahankan posisi, ego, dan kepentingan masing-masing?
Pada akhirnya, dinamika organisasi adalah cermin dari kedewasaan kita bersama. Karena itu, sudah saatnya setiap elemen organisasi memilih untuk terus berpikir jernih di tengah perbedaan, berperan aktif tanpa kehilangan nalar, serta menjaga integritas dalam setiap sikap dan keputusan. Berperan berarti hadir dengan empati dan tanggung jawab, bukan sekadar reaksi sesaat.
Baperan, jika diolah melalui refleksi, dapat menjadi pintu menuju perubahan. Namun jika dibiarkan tanpa kesadaran, ia justru akan menjauhkan organisasi dari tujuan awalnya. Organisasi tidak tumbuh dari kesempurnaan, melainkan dari kesediaan anggotanya untuk terus belajar, bersikap dewasa, dan memperbaiki arah secara kolektif dengan integritas sebagai pijakan utama.











