Indonesia Catat Serangan Buaya Tertinggi di Dunia, Seiring Rusaknya Habitat

- Penulis

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:31 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Seekor buaya tergeletak di tanah (Foto: Ilustrasi/Unsplash).

Seekor buaya tergeletak di tanah (Foto: Ilustrasi/Unsplash).

‎JAKARTA, PUSATBERITA – Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah serangan buaya terhadap manusia tertinggi di dunia. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, lebih dari 1.000 kasus serangan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah, dengan hampir separuh di antaranya berujung pada kematian.

‎Berdasarkan data CrocAttack, sebanyak 486 orang meninggal dunia akibat serangan buaya dari lebih dari 1.000 kasus yang tercatat di Indonesia. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Biological Conservation pada April 2023 menempatkan Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, dan Kalimantan Timur sebagai tiga provinsi dengan jumlah serangan tertinggi.

‎Aktivis lingkungan sekaligus pendiri Yayasan Alobi di Pangkalpinang, Langka Sani, mengatakan tren konflik antara manusia dan buaya di Bangka Belitung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

‎”Lebih dari 60 orang meninggal sejak 2016 di Bangka, dan jumlah serangan meningkat secara signifikan dalam enam tahun terakhir,” ujar Langka, seperti dikutip dari Channel News Asia.

‎Data Yayasan Alobi menunjukkan, hingga November 2024 sedikitnya 10 orang meninggal akibat serangan buaya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan saat lembaga itu mulai mendokumentasikan kasus serangan pada 2016.

‎Menurut Langka, meningkatnya konflik tidak bisa dilepaskan dari semakin rusaknya habitat alami buaya akibat aktivitas manusia.

‎”Konflik antara manusia dan buaya meningkat seiring rusaknya habitat mereka,” kata Langka.

‎Pulau Bangka dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil timah terbesar di Indonesia. Logam tersebut menjadi bahan baku penting bagi industri elektronik global, termasuk telepon seluler. Bahkan, sejumlah perusahaan teknologi dunia disebut memperoleh pasokan timah dari wilayah tersebut.

‎Data Statista mencatat Indonesia menjadi produsen timah terbesar ketiga di dunia pada 2023 setelah China dan Myanmar. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut Bangka menyumbang sekitar 90 persen produksi timah nasional.

Baca Juga :  ‎Media Jepang Soroti Dugaan Korupsi Penanganan Banjir Medan

‎Namun, di balik besarnya produksi tersebut, aktivitas penambangan ilegal disebut berkembang pesat dalam lebih dari satu dekade terakhir. Penambangan dilakukan tidak hanya di area resmi, tetapi juga merambah kawasan hutan lindung hingga wilayah yang sedang direhabilitasi.

‎”Kami tahu tambang ilegal ada di mana-mana, bahkan di belakang sekolah dan dekat gedung perkantoran,” ujar Langka.

‎Ia menjelaskan, buaya muara (Crocodylus porosus) umumnya hidup di kawasan muara sungai. Aktivitas penambangan di sekitar habitat tersebut menyebabkan gangguan yang memaksa satwa berpindah atau bereaksi agresif.

‎”Buaya sangat sensitif terhadap suara. Ketika penambangan berlangsung terus-menerus, mereka mengalami stres. Sebagian akan bermigrasi, sebagian lainnya mempertahankan wilayahnya, bahkan menyerang manusia,” katanya.

‎Buaya muara merupakan spesies buaya terbesar di dunia. Satwa ini dapat tumbuh hingga 7 meter dengan bobot mendekati 1 ton.

‎Kerusakan lingkungan juga memperburuk kondisi tersebut. Sedimentasi akibat aktivitas tambang mengurangi aliran sungai, merusak ekosistem pesisir, serta mengganggu habitat ikan, kepiting, dan udang yang menjadi sumber pakan alami buaya.

‎Akibat berkurangnya ketersediaan makanan dan menyempitnya habitat, buaya semakin sering memasuki kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Kondisi itu meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

‎”Manusia sebenarnya bukan mangsa alami buaya. Namun ketika habitat rusak dan sumber makanan berkurang, mereka terpaksa mencari alternatif. Dalam beberapa kasus, serangan juga merupakan bentuk respons terhadap gangguan di habitatnya,” ujar Langka.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Purbaya Dicopot, Fathorrahman Soroti Pengaruh Jokowi hingga Oligarki
‎Emrus Ungkap Komunikasi Prabowo-Purbaya Dingin, Isu Pangkas MBG Disorot
SEMMI Tangerang Soroti Pencopotan Purbaya Usai Bicara Pangkas MBG
Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Tak Lintasi Indonesia
Haji Agus Salim: Ketika Seorang Diplomat Besar Tak Mampu Beli Kain Kafan
Menhut Ancam Hukum Berat Pelaku Karhutla Gunung Bromo
PKS Dukung Reshuffle Kabinet Prabowo Tak Harus dari Partai
Pendanaan Pindar dari Lender Asing Tembus Rp 17,28 Triliun
Berita ini 12 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 17:09 WIB

Purbaya Dicopot, Fathorrahman Soroti Pengaruh Jokowi hingga Oligarki

Senin, 14 September 2026 - 23:30 WIB

‎Emrus Ungkap Komunikasi Prabowo-Purbaya Dingin, Isu Pangkas MBG Disorot

Senin, 14 September 2026 - 19:51 WIB

SEMMI Tangerang Soroti Pencopotan Purbaya Usai Bicara Pangkas MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 - 02:55 WIB

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026 Tak Lintasi Indonesia

Selasa, 11 Agustus 2026 - 02:09 WIB

Haji Agus Salim: Ketika Seorang Diplomat Besar Tak Mampu Beli Kain Kafan

Berita Terbaru

Foto ilustrasi umat Kristiani beribadah (Foto/istimewa)

Banten

Ibadah GKPI Mauk-Sepatan Dibubarkan, Jemaat Diancam Sajam

Minggu, 20 Sep 2026 - 15:01 WIB

Fogging Graha Yadika, Rapid Indonesia dan Damkar Sisir Sarang Nyamuk (foto/istimewa)

Banten

Cegah DBD, Rapid Indonesia Gelar Fogging di Graha Yadika

Sabtu, 19 Sep 2026 - 18:30 WIB