Walhi: Tata Ruang Cilegon Dikuasai Industri, Kampung dan Ruang Hijau Tergeser

- Penulis

Sabtu, 27 September 2025 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sesi foto bersama dengan peserta diskusi

Sesi foto bersama dengan peserta diskusi

CILEGON, PUSATBERITA – Laju pembangunan industri di Kota Cilegon kembali menjadi sorotan. Dalam Diskusi Budaya #4 yang digelar di Kafe Luang Persona, Jumat malam, 26 September 2025, dua aktivis lingkungan menilai pertumbuhan ekonomi di kota baja itu berlangsung tanpa diiringi keberlanjutan ekologi.

Cholis, aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta, menyebut industri berbahan bakar batu bara dan baja sebagai penyumbang utama emisi di Cilegon. Ia juga menyoroti pembuangan limbah ke laut yang memperburuk kondisi pesisir.

“Dua faktor ini menyumbang emisi paling signifikan,” kata Cholis. Menurut dia, analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) sering kali hanya menjadi dokumen formalitas tanpa benar-benar dijalankan.

Menurut Cholis, tata ruang Cilegon kian timpang akibat ekspansi industri. Dari Kelurahan Kubangsari hingga perbatasan Anyer, kampung-kampung berubah menjadi kawasan pabrik.

Ruang terbuka hijau yang seharusnya menjadi penyangga ekologi terus menyusut. “Daya dukung dan daya tampung lingkungan jelas tidak seimbang. Industri besar tidak berpihak pada keberlangsungan lingkungan hidup,” ujarnya.

Baca Juga :  ‎ASPPHAMI Banten Prihatin atas Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel

Aktivis Ridzoma Indonesia, Dani Setiawan, menambahkan bahwa paradigma pembangunan di Cilegon terlalu menekankan pertumbuhan ekonomi. Cara pandang ini, menurutnya, mengabaikan keberlanjutan lingkungan serta kehidupan masyarakat di sekitar kawasan industri.

“Simbol kemajuan jangan hanya diukur dari cerobong pabrik. Kehidupan nelayan yang berhenti melaut atau sawah yang hilang akibat ekspansi industri juga harus diperhatikan,” kata Dani.

Mang Pram, inisiator Diskusi Budaya #4, menekankan pentingnya literasi lingkungan bagi warga di sekitar kawasan industri. Kesadaran ekologis, katanya, menjadi kunci agar masyarakat tidak sekadar pasrah menerima dampak.

“Literasi ini penting agar masyarakat memiliki kesadaran akan hak dan lingkungan hidup di kawasan industri,” ujarnya.

Selain menghadirkan Cholis dan Dani, diskusi ini juga melibatkan Ibnu PS Megananda, pelaku budaya Banten, dan tokoh masyarakat Cilegon, Muhammad Ibrahim Aswadi.

Acara ditutup dengan orasi budaya Indra Kusuma yang menegaskan bahwa krisis ekologi Cilegon bukan semata soal teknis pembangunan, melainkan soal keberlanjutan hidup bersama di tengah kota industri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rembug Muda Nahdliyin Soroti Arah Gagasan NU Menjelang Muktamar PBNU 2026
Digitalisasi Parkir Stadion Benteng, SEMMI: Ancam Ekonomi Rakyat
Hafidz Firdaus Serap Aspirasi, Macet dan Banjir Poris Jadi Prioritas
Kebakaran Besar Pabrik Karet di Tanah Tinggi Kota Tangerang
‎Konfercab II GAMKI Kota Tangerang Pilih Gesuri Mesias sebagai Ketua Umum
Lintas Relawan Pondok Aren Gelar Kolaborasi Kesiagaan Bencana
Erry Indriani: Kecemasan Fresh Graduate Bukan Karena Lemah Mental
Poros Baru Tangerang: Hentikan MBG, Tolak Geothermal, Kritik Aktivis Karbitan
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 17:30 WIB

Rembug Muda Nahdliyin Soroti Arah Gagasan NU Menjelang Muktamar PBNU 2026

Senin, 22 Juni 2026 - 13:37 WIB

Digitalisasi Parkir Stadion Benteng, SEMMI: Ancam Ekonomi Rakyat

Senin, 22 Juni 2026 - 01:05 WIB

Hafidz Firdaus Serap Aspirasi, Macet dan Banjir Poris Jadi Prioritas

Senin, 22 Juni 2026 - 00:45 WIB

Kebakaran Besar Pabrik Karet di Tanah Tinggi Kota Tangerang

Sabtu, 20 Juni 2026 - 22:05 WIB

Lintas Relawan Pondok Aren Gelar Kolaborasi Kesiagaan Bencana

Berita Terbaru

Abdul Hakim, Direktur Center for Resistance and Liberation Studies STISNU Nusantara Kota Tangerang (foto/istimewa)

Opini

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:51 WIB