Diduga Langgar Perizinan, Produksi Himalaya Es Kristal di Tangerang Diprotes Warga

- Penulis

Jumat, 30 Januari 2026 - 21:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Elemen masyarakat menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Kota Tangerang

Elemen masyarakat menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Kota Tangerang

TANGERANG, PUSAT-BERITA — Sejumlah elemen masyarakat menyampaikan tuntutan kepada Pemerintah Kota Tangerang terkait dugaan pelanggaran perizinan dan alih fungsi bangunan yang dilakukan oleh aktivitas produksi Himalaya Es Kristal. Tuntutan tersebut disampaikan melalui surat pemberitahuan aksi yang ditujukan kepada Satpol PP dan Pemkot Tangerang.

Dalam tuntutan aksinya, massa mendesak Satpol PP Kota Tangerang untuk segera melakukan penyegelan dan penutupan terhadap lokasi produksi Himalaya Es Kristal. Selain itu, mereka juga meminta adanya transparansi dan klarifikasi terbuka dari Satpol PP terkait dugaan pembiaran aktivitas produksi yang diduga bermasalah secara perizinan.

“Kami mendesak Satpol PP Kota Tangerang untuk segera menyegel dan menutup produksi Himalaya Es Kristal, serta menuntut transparansi dan klarifikasi dari Satpol PP terhadap pemberian aktivitas produksi nya yang bermasalah,” tegas Agung dalam orasinya.

Tak hanya itu, massa turut mendesak Pemerintah Kota Tangerang untuk melakukan audit menyeluruh terhadap legalitas perizinan dan kelayakan operasional usaha tersebut. Mereka juga menuntut penghentian seluruh aktivitas produksi es kristal hingga seluruh persoalan hukum dan administrasi diselesaikan.

“Kami pun meminta kepada Pemkot Tangerang untuk segera mengaudit operasional Es Kristal dan segera menyelesaikan persoalan hukum dan administrasi ini.” Lanjutnya.

Berdasarkan kajian aksi demonstrasi yang disusun dari laporan masyarakat dan hasil investigasi lapangan, ditemukan sejumlah dugaan pelanggaran. Salah satunya adalah alih fungsi bangunan yang semula berizin sebagai gudang, namun digunakan sebagai tempat produksi es kristal. Tindakan tersebut dinilai bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023, yang mewajibkan penggunaan bangunan sesuai dengan fungsi yang tercantum dalam perizinan.

Selain itu, penggunaan gudang sebagai lokasi produksi dinilai sebagai perubahan fungsi bangunan yang secara hukum mewajibkan penyesuaian perizinan, termasuk kepemilikan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2021.

Baca Juga :  SEMMI Kecam Perlakuan Rasis Oknum Satpol PP Kota Tangerang

“Awal semula ini hanya untuk gudang saja, tapi malah digunakan sebagai tempat produksi es kristal. Tindakan ini bertentangan dengan UU No 28 Tahun 20022 yang menyebutkan berarti harus ada izin dulu, namun ini belum ada,” tambah Holid di orasinya.

Aktivitas produksi es kristal juga dikategorikan sebagai kegiatan usaha industri yang wajib memiliki Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, termasuk Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin operasional sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2021.

Aspek tata ruang turut menjadi sorotan.

Pengalihan fungsi bangunan dan kegiatan produksi disebut harus memperhatikan kesesuaian tata ruang serta memiliki Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang juncto Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021.

Tak kalah penting, setiap kegiatan usaha yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan diwajibkan memiliki dokumen lingkungan seperti AMDAL, UKL-UPL, atau SPPL, sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam dokumen kajian tersebut juga disebutkan bahwa laporan resmi telah disampaikan kepada Satpol PP Kota Tangerang pada Senin, 26 Januari 2026. Namun hingga kini, laporan tersebut disebut belum ditindaklanjuti.

Kondisi ini memunculkan dugaan adanya pembiaran, bahkan kecurigaan adanya relasi tidak wajar antara aparat penegak perda dengan pihak perusahaan.

Massa menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga pemerintah daerah bertindak tegas dan memastikan seluruh aktivitas usaha di Kota Tangerang berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hari Masyarakat Adat Sedunia, SEMMI Tangerang: Pengakuan Masyarakat Adat Belum Tuntas
Truk ODOL Marak, Warga Nibung Geram Ancam Turun ke Jalan
Buka Pelantikan dan Rakerwil, Wagub Banten Apresiasi DPW IMMI Banten
Sambut HUT RI ke-81, Pemuda Pondok Pucung Sulap Tembok Kosong Jadi Mural Kemerdekaan
Diskon 81 Persen! Tirta Benteng Buka Pemasangan Baru Air Bersih
‎PKB Kota Tangerang Perkuat Konsolidasi, Billboard Kepengurusan Baru Terpasang di Sejumlah Titik ‎
‎Ruky Evana: Pengungkapan 46 Juta Butir Obat Keras Daftar G Bukti Keseriusan Polres Tangsel
LMND Banten Apresiasi Polres Tangsel Ungkap 46 Juta Butir Obat Keras Ilegal
Berita ini 85 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 00:56 WIB

Hari Masyarakat Adat Sedunia, SEMMI Tangerang: Pengakuan Masyarakat Adat Belum Tuntas

Minggu, 9 Agustus 2026 - 00:21 WIB

Truk ODOL Marak, Warga Nibung Geram Ancam Turun ke Jalan

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:47 WIB

Buka Pelantikan dan Rakerwil, Wagub Banten Apresiasi DPW IMMI Banten

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:37 WIB

Diskon 81 Persen! Tirta Benteng Buka Pemasangan Baru Air Bersih

Kamis, 6 Agustus 2026 - 17:44 WIB

‎PKB Kota Tangerang Perkuat Konsolidasi, Billboard Kepengurusan Baru Terpasang di Sejumlah Titik ‎

Berita Terbaru

Koordinator lapangan aksi, Lensa Sakban (foto/pusat-berita.com)

Daerah

Truk ODOL Marak, Warga Nibung Geram Ancam Turun ke Jalan

Minggu, 9 Agu 2026 - 00:21 WIB

Ilustrasi layanan pinjaman daring (pindar) di Indonesia. Pendanaan dari lender luar negeri mencapai Rp17,28 triliun hingga Juni 2026 (foto/istimewa).

Nasional

Pendanaan Pindar dari Lender Asing Tembus Rp 17,28 Triliun

Sabtu, 8 Agu 2026 - 21:03 WIB