PMII di Persimpangan Jalan: Organisasi Kader atau Alat Manuver Politik

- Penulis

Rabu, 11 Maret 2026 - 14:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Ishaq Rumakway | Ketua Bidang Diskusi dan Kajian Rayon Pembebasan Hasan Hanafi


Sebagai kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, saya memandang perlu menyampaikan kritik terbuka terhadap langkah Pengurus Besar PMII yang melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta terkait seruan agar Indonesia keluar dari Board of Peace.

‎Aksi yang dilakukan oleh PB PMII tersebut justru menimbulkan kegelisahan dan pertanyaan serius di kalangan kader. Pasalnya, gerakan tersebut dilakukan tanpa melalui mekanisme konsolidasi organisasi yang jelas dan transparan kepada kader di berbagai tingkatan, mulai dari rayon, komisariat, cabang, hingga PKC.

‎Padahal, sebagai organisasi kader yang memiliki tradisi intelektual dan mekanisme organisasi yang kuat, setiap sikap politik PMII seharusnya lahir dari proses diskusi, analisis, dan konsolidasi yang matang. Tanpa proses tersebut, aksi yang dilakukan hanya akan terkesan sebagai gerakan yang prematur, elitis, dan jauh dari semangat kolektivitas kader.

‎Lebih ironis lagi, flyer seruan aksi baru disebarkan hanya beberapa jam sebelum pelaksanaan kegiatan. Hal ini semakin memperjelas bahwa aksi tersebut tidak dipersiapkan secara serius dan tidak melibatkan struktur organisasi PMII secara luas. Situasi ini tentu menimbulkan pertanyaan mendasar: atas nama siapa aksi tersebut dilakukan? Apakah benar mewakili sikap organisasi, atau hanya sekadar langkah sepihak dari segelintir elit di PB PMII?

Baca Juga :  Tekad Tanjiro: Pelajaran Tentang Kegigihan Ditengah Keputusasaan

‎Jika sebuah aksi dilakukan tanpa melibatkan rayon, komisariat, cabang, maupun PKC, maka sangat sulit untuk menyebutnya sebagai gerakan organisasi. PMII bukan organisasi segelintir orang di pusat, melainkan organisasi kader yang hidup dari basis kaderisasi di bawah.

‎Kami menilai langkah PB PMII tersebut justru berpotensi mencederai tradisi demokrasi internal, merusak mekanisme organisasi, serta menjauhkan PMII dari karakter dasarnya sebagai gerakan intelektual mahasiswa.

‎Sebagai kader, kami berhak mempertanyakan arah, legitimasi, dan mekanisme gerakan tersebut. Kritik ini adalah bentuk tanggung jawab moral kader untuk menjaga marwah organisasi agar tidak dijalankan secara serampangan dan tanpa basis kader.

‎PMII tidak boleh dijadikan alat manuver politik sesaat yang kehilangan akar kader dan proses organisasi.

‎Jika PB PMII ingin membawa nama besar organisasi dalam sebuah gerakan politik, maka sudah seharusnya mereka menghormati mekanisme organisasi dan melibatkan kader di seluruh tingkatan, bukan berjalan sendiri tanpa konsolidasi yang jelas.

‎PMII dibangun oleh kader, oleh tradisi intelektual dan proses kaderisasi yang panjang. Karena itu, organisasi ini tidak boleh dikelola oleh segelintir elit yang bertindak sepihak tanpa konsolidasi dan tanpa mandat kader. PMII adalah rumah bersama kader, bukan panggung bagi kepentingan segelintir orang yang mengatasnamakan organisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua
Zaman yang Merayakan Kekeruhan
Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan
Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua
Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan
Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua
Demokrasi Tidak Mati Mendadak Tapi Dilemahkan Perlahan
Berita ini 141 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:37 WIB

Mimpi yang Retak di Tengah Kota

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:27 WIB

Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua

Selasa, 9 Juni 2026 - 03:41 WIB

Zaman yang Merayakan Kekeruhan

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:33 WIB

Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua

Berita Terbaru

Banten

Penemuan Mayat Pria di Sebuah Kontrakan Area Benda

Sabtu, 13 Jun 2026 - 10:56 WIB