Jembatan Kalibaru Rusak Lagi, Mahasiswa Tangerang Utara Desak Tanggung Jawab Pemerintah

- Penulis

Senin, 13 April 2026 - 23:44 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Bung Boy | Koordinator Himpunan Mahasiswa Tangerang Utara


Sudah hampir satu minggu, Jembatan Kalibaru yang menghubungkan Teluknaga–Pakuhaji mengalami kerusakan serius dan memicu kemacetan parah. Kondisi ini tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga melumpuhkan aktivitas ekonomi serta mengganggu akses pendidikan masyarakat Tangerang Utara.

Perlu dipahami, Jembatan Kalibaru merupakan bagian dari jalan provinsi yang berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas PUPR Provinsi Banten, yang secara teknis dijalankan oleh UPTD Pengelolaan Jalan dan Jembatan Wilayah Kabupaten Tangerang. Namun di saat yang sama, jembatan ini berada dalam wilayah administratif Kabupaten Tangerang, sehingga Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air tidak bisa lepas tangan, terutama dalam hal pengawasan dan mitigasi dampak di lapangan. Sementara itu, pengaturan lalu lintas menjadi tanggung jawab Dinas Perhubungan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten.

Sejarah mencatat, jembatan ini dibangun pada tahun 1985 untuk menopang kendaraan bertonase ringan. Namun hari ini, realitas telah berubah. Kawasan yang dulunya agraris kini dipaksa menyesuaikan diri dengan arus industrialisasi, dan Jembatan Kalibaru menjadi korban dari perubahan yang tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur. Beban kendaraan berat yang melintas setiap hari menjadi penyebab utama kerusakan yang terus berulang.

Dalam situasi seperti ini, kami tidak bisa lagi menerima pola penanganan yang bersifat tambal sulam. Maka dari itu, pertama, kami mendesak Dinas PUPR Provinsi Banten melalui UPTD terkait untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh sekaligus evaluasi struktural terhadap jembatan, agar solusi yang diambil tidak lagi bersifat sementara.

Baca Juga :  Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua

Kedua, kami menuntut Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air untuk hadir secara aktif di lapangan, tidak hanya sebagai pelengkap administratif, tetapi sebagai pihak yang memastikan keselamatan masyarakat tetap terjaga di tengah kondisi darurat ini.

Ketiga, kami menegaskan kepada Dinas Perhubungan Provinsi Banten dan Kabupaten Tangerang agar segera mengambil langkah tegas dalam membatasi kendaraan bertonase tinggi. Tanpa pengendalian beban lalu lintas, perbaikan apa pun hanya akan menjadi siklus kerusakan yang terus berulang.

Keempat, kami mendorong adanya langkah jangka panjang yang terukur, baik melalui peningkatan kapasitas struktur, pelebaran akses jalan, hingga kemungkinan pembangunan ulang jembatan jika memang sudah tidak layak dipertahankan.

Dan yang tidak kalah penting, kelima, kami menuntut transparansi penuh dari seluruh proses yang dilakukan pemerintah. Masyarakat berhak tahu, berhak mengawasi, dan berhak memastikan bahwa solusi yang dihadirkan benar-benar untuk kepentingan publik.

Pada akhirnya, kami menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan cerminan dari lemahnya koordinasi dan tanggung jawab antar instansi. Tidak boleh ada lagi saling lempar kewenangan antara Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama. Infrastruktur publik harus berpihak pada rakyat, bukan justru dikorbankan oleh kepentingan industri yang tidak terkendali.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Eco-Anxiety: Krisis Iklim dan Persoalan HAM
‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan
Islam Jangan Hanya Menjadi Identitas: Keislaman Harus Melahirkan Keberanian Melawan Ketidakadilan
Merdeka untuk Siapa? Banten di Tengah Ledakan Inventasi dan Ketimpangan
Ketika Kampus Lupa Mendidik Manusia
Bocor Alus, Jokowi, dan Pesan dari Kacamata Prabowoisme
Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung
Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Berita ini 105 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:14 WIB

‎Eco-Anxiety: Krisis Iklim dan Persoalan HAM

Selasa, 25 Agustus 2026 - 13:04 WIB

‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:26 WIB

Islam Jangan Hanya Menjadi Identitas: Keislaman Harus Melahirkan Keberanian Melawan Ketidakadilan

Senin, 17 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Merdeka untuk Siapa? Banten di Tengah Ledakan Inventasi dan Ketimpangan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:37 WIB

Ketika Kampus Lupa Mendidik Manusia

Berita Terbaru

Ilustrasi Satpol PP Kabupaten Tangerang

Banten

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah

Senin, 21 Sep 2026 - 18:25 WIB

Foto ilustrasi umat Kristiani beribadah (Foto/istimewa)

Banten

Ibadah GKPI Mauk-Sepatan Dibubarkan, Jemaat Diancam Sajam

Minggu, 20 Sep 2026 - 15:01 WIB