Berburu Sapu-Sapu, Lindungi Perusak: Ironi Penyelamatan Sungai

- Penulis

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto/Pusat-berita.com.

Foto/Pusat-berita.com.

Oleh Topan Bagaskara | Ketua Umum SEMMI Tangerang


Penangkapan massal ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta dipertontonkan seolah-olah sebagai kemenangan besar bagi lingkungan. Ton demi ton diangkat, kamera menyala, narasi “penyelamatan ekosistem” digaungkan.

Penangkapan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar di sungai-sungai perkotaan sering diposisikan sebagai langkah strategis dalam memulihkan ekosistem. Pendekatan ini didasarkan pada fakta bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif dengan tingkat adaptasi tinggi yang dapat mengganggu keseimbangan komunitas biotik.

Namun, pendekatan tersebut berpotensi reduksionis apabila tidak mempertimbangkan faktor struktural yang melatarbelakangi dominasi spesies tersebut.

Masalahnya: itu hanya setengah kebenaran—dan setengah kebenaran sering kali lebih berbahaya daripada kebohongan

Berbagai studi menunjukkan bahwa degradasi kualitas air akibat pencemaran—baik dari limbah industri, domestik, maupun bahan kimia—memiliki dampak signifikan terhadap penurunan keanekaragaman hayati perairan. Spesies lokal yang umumnya memiliki toleransi lingkungan lebih sempit menjadi kelompok yang paling terdampak.

Dalam konteks ini, keberhasilan ikan sapu-sapu mendominasi tidak semata-mata disebabkan oleh karakter invasifnya, tetapi juga oleh kondisi lingkungan yang telah terdegradasi. Dengan kata lain, dominasi tersebut merupakan indikator dari ekosistem yang terganggu.

Oleh karena itu, pengendalian populasi ikan sapu-sapu tanpa diiringi perbaikan kualitas habitat berisiko menjadi intervensi jangka pendek yang tidak menyentuh akar permasalahan. Lebih jauh, pendekatan semacam ini dapat menciptakan ilusi keberhasilan kebijakan lingkungan, sementara sumber utama kerusakan—pencemaran—tetap berlangsung.

Dan disinilah ironi itu terjadi

Kita memburu makhluk yang bertahan hidup, sementara pihak yang merusak habitatnya justru sering luput dari sorotan. Lebih mudah mengangkat ikan dari sungai daripada menindak tegas pencemar yang memiliki kekuatan ekonomi dan politik.

Maka, berburu ikan sapu-sapu menjadi solusi yang aman: terlihat tegas, mudah dipublikasikan, tetapi tidak menyentuh akar masalah.

Jika pencemaran tidak dihentikan, populasi ikan sapu-sapu akan kembali. Lagi. Dan lagi. Kita hanya sedang mengulang siklus yang sama sambil berpura-pura sedang memperbaiki keadaan.

Baca Juga :  Dedi Mulyadi dan Praktik Politik Melodramatik Bahaya Demokrasi Semu Serta Degradasi Ruang Publik

Dengan demikian, menempatkan ikan sapu-sapu sebagai penyebab utama kerusakan ekosistem merupakan simplifikasi yang menyesatkan. Mereka bukan hanya agen gangguan, tetapi juga produk dari sistem yang telah rusak.

Di sinilah problem kebijakan menjadi jelas

Pengendalian populasi tanpa restorasi habitat dan penegakan hukum terhadap pencemar akan menghasilkan efek jangka pendek yang bersifat sementara. Secara ekologis, ini menciptakan feedback loop: selama tekanan pencemaran tetap tinggi, relung ekologis yang kosong akan kembali diisi oleh spesies yang paling adaptif—dalam hal ini, ikan sapu-sapu.

Lebih problematis lagi, pendekatan ini berpotensi menciptakan policy illusion—ilusi keberhasilan kebijakan. Negara tampak bertindak, tetapi intervensi diarahkan pada aspek yang paling mudah dieksekusi, bukan yang paling menentukan.

Ketimpangan ini tidak lepas dari dimensi politik-ekonomi. Penindakan terhadap spesies invasif relatif bebas risiko, sementara penegakan hukum terhadap pencemar sering kali berhadapan dengan aktor-aktor berkepentingan besar. Akibatnya, kebijakan cenderung bergerak ke arah yang “aman secara politik”, meskipun tidak efektif secara ekologis.

Jika tujuan yang ingin dicapai adalah pemulihan ekosistem yang berkelanjutan, maka pendekatan yang diambil harus bersifat sistemik. Pengendalian spesies invasif perlu diintegrasikan dengan:

* Penegakan hukum lingkungan yang konsisten,

* Pengurangan beban pencemaran,

* Serta rehabilitasi kualitas habitat perairan.

Tanpa intervensi pada akar masalah, upaya penangkapan ikan sapu-sapu hanya akan berfungsi sebagai respons berulang terhadap konsekuensi yang terus diproduksi oleh sistem yang sama.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana mengurangi populasi ikan sapu-sapu, tetapi apakah kita memiliki keberanian untuk memperbaiki kondisi yang membuat mereka menjadi dominan.

Ini bukan tentang membela ikan sapu-sapu. Ini tentang kejujuran dalam melihat masalah.

Selama keberanian untuk menindak pencemar masih kalah oleh kepentingan, maka yang akan terus dikorbankan bukan hanya ikan—tetapi juga akal sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pemangkasan Program Studi Berbasis Kebutuhan Industri: Ancaman Bagi Prodi Ilmu Hukum?
Sebelum Terlambat: Memperketat Pengawasan Daycare demi Buah Hati di Tangerang
Kekuasaan Tanpa Moral: Jalan Sunyi Menuju Kehancuran
Trump, Iran, dan Ilusi Perdamaian: Politik Ketidakpastian sebagai Senjata
66 Tahun PMII: Refleksi Kritis dan Kegagalan IKA PMII Kota Tangerang
Prestise atau Strategi? Dilema Indonesia dalam Kemitraan Militer dengan AS
Jembatan Kalibaru Rusak Lagi, Mahasiswa Tangerang Utara Desak Tanggung Jawab Pemerintah
Kekuasaan Tanpa Koreksi: Jalan Sunyi Menuju Krisis Demokrasi 
Berita ini 14 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:25 WIB

Berburu Sapu-Sapu, Lindungi Perusak: Ironi Penyelamatan Sungai

Kamis, 30 April 2026 - 15:38 WIB

Pemangkasan Program Studi Berbasis Kebutuhan Industri: Ancaman Bagi Prodi Ilmu Hukum?

Rabu, 29 April 2026 - 22:10 WIB

Sebelum Terlambat: Memperketat Pengawasan Daycare demi Buah Hati di Tangerang

Rabu, 29 April 2026 - 18:22 WIB

Kekuasaan Tanpa Moral: Jalan Sunyi Menuju Kehancuran

Kamis, 23 April 2026 - 01:03 WIB

Trump, Iran, dan Ilusi Perdamaian: Politik Ketidakpastian sebagai Senjata

Berita Terbaru