JAKARTA, PUSATBERITA — Wartawan senior Edy Mulyadi menilai dinamika penegakan hukum di sektor sumber daya alam memicu perlawanan dari kelompok yang disebutnya sebagai mafia tambang dan perkebunan sawit ilegal. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya, @bangEdyChannel.
Dalam pemaparannya, Edy mengaitkan situasi tersebut dengan langkah Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dan Satgas Tambang yang disebut telah mengambil alih sejumlah aset yang diduga dikuasai secara ilegal.
Edy menyebut Satgas PKH telah merebut kembali sekitar 5,88 juta hektare kawasan perkebunan sawit yang diduga dikuasai secara ilegal. Sementara Satgas Tambang disebut telah menyita sekitar 12.300 hektare lahan tambang bermasalah.
”Satgas PKH berhasil mengembalikan 5,88 juta hektare kebun sawit yang dikuasai secara ilegal oleh oligarki. Satgas Tambang merampas sekitar 12.300 hektare lahan tambang. Semua ini benar-benar membuat para mafia tambang dan sawit murka,” kata Edy.
Edy kemudian menghubungkan kondisi tersebut dengan tekanan yang disebut dialami Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Satgas PKH.
Menurut Edy, Febrie telah menjadi target operasi pihak-pihak tertentu sejak 2024. Ia juga menyinggung dugaan penguntitan terhadap Febrie oleh oknum anggota Densus 88 yang sempat menjadi perhatian publik.
”Sebagai Ketua Harian Satgas, Jampidsus jadi target operasi sejak 2024. Dia bahkan dikuntit terus Densus 88. Penguntitan ini saja sudah membuktikan bahwa itu bukan tugas resmi lembaga. Bukan tugas pokok Densus menguntit pejabat tinggi negara,” ujar Edy.
Ia selanjutnya menduga tindakan tersebut melibatkan penyalahgunaan institusi negara oleh oknum tertentu.
”Jelas ini penyalahgunaan institusi negara oleh oknum petinggi Polri. Data yang didapat oleh intel Densus inilah yang digunakan untuk menggerebek beberapa tempat sekaligus,” kata Edy Mulyadi.
Selain itu, Edy juga menyampaikan analisis bahwa Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berpotensi menjadi sasaran berikutnya dari kelompok yang disebutnya sebagai mafia tambang dan sawit.
”Keberhasilan menyingkirkan Jampidsus membuat mafia dan Geng Oslo merasa percaya diri. Mereka menjadikan Menhan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai target berikutnya untuk disingkirkan,” ucap Edy.
Ia bahkan menilai, apabila Menteri Pertahanan berhasil dilemahkan, posisi politik Presiden Prabowo Subianto akan terdampak.
”Kalau Menhan berhasil disingkirkan, maka artinya Prabowo tidak punya instrumen lagi untuk bertahan. Prabowo dalam bahaya,” ujarnya.
Pernyataan Edy Mulyadi tersebut merupakan pandangan pribadi yang disampaikan melalui kanal YouTube miliknya. Hingga kini, pernyataan tersebut belum disertai bukti yang telah diverifikasi secara independen.
Sampai berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Kementerian Pertahanan, Kejaksaan Agung, maupun Polri terkait pernyataan Edy Mulyadi. Redaksi juga belum memperoleh konfirmasi mengenai tudingan terhadap pihak yang disebut sebagai “Geng Oslo” maupun dugaan penguntitan yang disampaikan dalam tayangan tersebut.
Informasi dalam pemberitaan ini disajikan sebagai penyampaian pernyataan narasumber. Seluruh pihak tetap berhak atas asas praduga tak bersalah hingga terdapat pembuktian melalui proses hukum yang berlaku.











