TANGERANG, PUSATBERITA — Gelaran Tangerang 10K pada Minggu, 13 September 2026, yang seharusnya menjadi ajang olahraga dan hiburan masyarakat justru diwarnai kericuhan. Penutupan sejumlah ruas jalan untuk mendukung pelaksanaan lomba lari membuat arus lalu lintas tersendat parah dan memicu ketegangan antara pengguna jalan dengan peserta.
Kemacetan terjadi di sejumlah jalur utama yang terdampak pengalihan lalu lintas. Akses menuju kawasan Stasiun Tangerang dan sejumlah ruas protokol ikut mengalami kepadatan. Kondisi tersebut membuat sebagian pengendara harus berhenti dalam waktu cukup lama.
Situasi semakin panas ketika sejumlah pengendara sepeda motor berusaha menerobos pembatas yang dipasang untuk memisahkan jalur kendaraan dengan lintasan pelari. Pengendara yang terjebak kemacetan meluapkan kekesalannya dengan membunyikan klakson dan memaksa mencari jalan keluar dari kepadatan.
Di sisi lain, peserta lomba yang sedang berlari merasa keberadaan kendaraan di jalur steril mengganggu keselamatan dan jalannya perlombaan. Ketegangan antara kedua pihak pun tak terhindarkan.
Adu mulut kemudian terjadi di sejumlah titik. Situasi bahkan berkembang menjadi aksi saling dorong dan pelemparan botol air mineral.
Persoalan ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan acara berskala besar di ruang publik tidak cukup hanya dengan menyiapkan panggung, rute lomba, dan pengamanan peserta. Manajemen lalu lintas serta komunikasi kepada masyarakat yang terdampak juga menjadi bagian penting dari penyelenggaraan kegiatan.
Minimnya sosialisasi mengenai rekayasa lalu lintas disebut menjadi salah satu persoalan yang memperburuk keadaan. Warga yang menggunakan jalan untuk bekerja, mengantar keluarga, mengakses stasiun, maupun menjalankan aktivitas sehari-hari merasa ikut menanggung dampak dari kegiatan tersebut.
Kericuhan yang terjadi menjadi catatan bahwa penggunaan ruang publik harus memperhitungkan kepentingan masyarakat secara lebih menyeluruh. Event olahraga memang dapat menjadi bagian dari promosi kota dan mendorong gaya hidup sehat, tetapi pelaksanaannya tidak seharusnya membuat akses warga lumpuh tanpa persiapan yang memadai.
Ke depan, penyelenggara dan pemerintah daerah perlu memastikan informasi mengenai penutupan jalan, jalur alternatif, waktu rekayasa lalu lintas, hingga titik-titik yang terdampak disampaikan jauh sebelum kegiatan berlangsung.
Koordinasi antara panitia, pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, serta masyarakat juga perlu diperkuat. Dengan perencanaan yang matang, kegiatan olahraga dapat tetap berjalan tanpa mengorbankan hak masyarakat untuk beraktivitas dan menggunakan ruang publik.
Tangerang 10K pada akhirnya bukan hanya soal keberhasilan lomba lari. Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa sebuah acara publik harus mampu mempertemukan kepentingan peserta dengan kepentingan warga yang sehari-hari menggunakan jalan dan ruang kota tersebut.













Komentar