Jaringan GUSDURian Tangerang Buka Suara Tolak Perluasan Kekuasaan TNI-Polri

- Penulis

Minggu, 30 Maret 2025 - 10:37 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Isyatami Aulia, Koordinator Jaringan GUSDURian Tangerang Buka Suara Terkait Penolakan Perluasan Kekuasaan TNI-Polri. | Foto: Ilustrasi Pusat-Berita.com

Tangerang, PUSATBERITA – Koordinator Jaringan GUSDURian Tangerang, Isyatami Aulia buka suara soal aksi penolakan pengesahan RUU TNI yang diketok menjadi UU TNI, menciptakan gelombang protes besar terhitung sejak tanggal 20 s/d 29 Maret 2025.

Beragam elemen masyarakat tak henti-hentinya turun ke jalan. Hingga hari kesembilan aksi tercatat 72 titik demonstrasi di seluruh Indonesia menuntut pemerintah mencabut UU TNI yang dianggap memperluas kekuasaan militer dalam ranah sosial dan politik.

“Terkait UU TNI yang disahkan jelas itu melanggar supremasi sipil. Apalagi dalam prosesnya terkesan buru-buru serta tidak melibatkan partisipasi publik,” kata Isyatami Aulia dalam wawancara WhatsApp Minggu, (30/3) 2025.

Poster Peta Titik Aksi Demonstrasi Cabut UU TNI. | Sumber: Instagram @Koreksi_org.

Sebagai penggerak GUSDURian, Isyatami juga sangat menyayangkan pengesahan UU TNI ini. Menurutnya, peran ganda militer di ranah sipil menjadi kerugian tersendiri untuk masyarakat, terutama di wilayah ekosistem sosial, politik dan pemerintahan memiliki peluang menyimpang.

“Saya mengutip pendapat mbak Alissa Wahid, kalau militer ikut campur di ranah sipil akan berpotensi abai dengan tugas pertahanan. Apalagi melihat dari sejarahnya, dwifungsi pernah hidup di zaman orde baru setelah kemudian resmi dihapuskan oleh Gus Dur di masa pemerintahannya,” lanjut Isyatami.

Selain itu, perempuan yang kerap disapa Tami, dia khawatir adanya upaya pemerintah untuk segera mengesahan RUU Polri yang dicemaskan akan menjadi lembaga super kuat yang kebal dari pengawasan, termasuk ketika disalahgunakan menjadi aktor politik.

Baca Juga :  Pengurus Besar Pelajar Islam Periode 2026–2028 Gelar Pelantikan, Training Center dan Rapat Kerja

“Dalam draft RUUnya (Polri) pengawasan terhadap Polisi tidak diperkuat. Kalau tujuannya untuk menuju Polri yang lebih profesional, kenapa pengawasannya justru tidak diperhatikan. Disisi lain, adanya ini (RUU Polri) kewenangan Polri justru bertambah dan luas,” ujarnya.

Isyatami mengungkapkan, bahwa ada beberapa pasal dalam draft tersebut yang menjadi bermasalah dan perlu ditinjau ulang. Salah satunya pada Pasal 14 ayat (1) C yang mengatur bahwa Polri dapat “melaksanakan tugas lain”.

“Nah narasi ini bisa menjadi peluang dan legitimasi polisi mengerjakan urusan di luar tugas utamanya,” kata Tami.

Selanjutnya, sebagai upaya solusi persoalan pengawasan ini, Isyatami Aulia menyampaikan pemerintah dan DPR seyogyanya memperkuat sistem pengawasan eksternal terhadap Polri.

Tidak boleh, kata dia, lembaga pengawas berada di bawah subordinasi pimpinan kepolisian.

Masih kesempatan yang sama, Isyatami Aulia, Koordinator GUSDURian sangat prihatin ketika ditanyakan perihal kejadian-kejadian selama aksi kemarin.

Isyatami berkata, terkait mobil ambulance yang dihadang saat aksi dan penggeledahan tas medis oleh pihak aparat kepolisian. Menurutnya, ini jelas sudah melanggar Hukum Humaniter Internasional.

Terlalu ugal-ugalan, ucap dia, pihak kepolisian tidak sepatutnya bertindak represif dan harus memerhatikan prinsip kemanusiaan.

“Jangankan medis, warga sipil seperti Ojol (Ojek Online) yang melintas saja tidak luput mengalami kekerasan aparat (Kepolisian) saat aksi kemarin. Pihak yang katanya melindungi dan mengayomi justru menjadi alat untuk memukul masyarakat yang harusnya dilindungi,” Tutup Isyatami.

 

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Yusril Ungkap Indikasi Makar di Balik Penyadapan Prabowo
Skandal Penyadapan, Prabowo Copot Listyo Sigit
Menlu Singapura Temui Prabowo di Hambalang
Kader HMI Batusangkar Maju Caketum PB HMI, Alumni Rapatkan Barisan
Massa Aksi Bertahan di Bundaran HI di Tengah Hujan Deras
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Mahasiswa: Tepati atau Pergi
Gelorakan Dakwah Ekonomi, PB SEMMI Dorong Potensi Industri Olahraga Nasional
Syahganda Nainggolan Dilantik Jadi Kepala Bakom Gantikan Qodari
Berita ini 4 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 4 November 2026 - 17:45 WIB

Yusril Ungkap Indikasi Makar di Balik Penyadapan Prabowo

Rabu, 4 November 2026 - 13:19 WIB

Skandal Penyadapan, Prabowo Copot Listyo Sigit

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Menlu Singapura Temui Prabowo di Hambalang

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Kader HMI Batusangkar Maju Caketum PB HMI, Alumni Rapatkan Barisan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:45 WIB

Massa Aksi Bertahan di Bundaran HI di Tengah Hujan Deras

Berita Terbaru

Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra (foto/istimewa)

Pilihan Redaksi

Mantan Presiden Bisa Diperiksa dalam Kasus Penyadapan

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:10 WIB

Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Nasional

Yusril Ungkap Indikasi Makar di Balik Penyadapan Prabowo

Rabu, 4 Nov 2026 - 17:45 WIB

Foto: Yoyok/Humas Kemensetneg

Nasional

Skandal Penyadapan, Prabowo Copot Listyo Sigit

Rabu, 4 Nov 2026 - 13:19 WIB

Massa dari Forum Kebangsaan DIY menurunkan foto Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di ruang rapat DPRD DIY, sebagai bentuk protes sekaligus mendesak pemakzulan Gibran, rabu (24/11) siang (Foto/radioelshinta)

Yogyakarta

Desakan Pemakzulan, Foto Gibran Diturunkan di DPRD DIY

Rabu, 4 Nov 2026 - 12:59 WIB