Alarm Reformasi dan Demokrasi Mati, Poros Baru Nobar Pesta Babi

- Penulis

Kamis, 21 Mei 2026 - 23:24 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lewat nobar film Pesta Babi Poros Baru Tangerang peringati matinya demokrasi (foto/pusat-berita.com).

Lewat nobar film Pesta Babi Poros Baru Tangerang peringati matinya demokrasi (foto/pusat-berita.com).

‎TANGERANG, PUSATBERITA – Poros Baru Tangerang menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi dalam rangka memperingati 21 Mei, momentum runtuhnya rezim Orde Baru sekaligus penanda lahirnya Reformasi 1998, pada Kamis (21/5/2026).

‎Kegiatan yang berlangsung di Taman Gajah itu bukan sekadar agenda menonton film, melainkan ruang konsolidasi rakyat sipil di tengah situasi demokrasi Indonesia yang dinilai semakin mengalami kemunduran.

Di tengah meningkatnya pembungkaman kritik, kriminalisasi suara rakyat, hingga menyempitnya ruang kebebasan sipil, forum tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap matinya kesadaran publik dan semakin menguatnya praktik kekuasaan yang anti-kritik.

‎Mahasiswa, komunitas pengemudi ojek online, pegiat literasi, hingga masyarakat sipil hadir dan berkumpul untuk merefleksikan wajah demokrasi Indonesia hari ini. Mereka menilai Reformasi yang diperjuangkan dengan darah dan pengorbanan rakyat pada 1998 kini perlahan dibajak oleh kepentingan elite politik dan oligarki kekuasaan.

‎Sekretaris Jenderal Forum Aksi Mahasiswa (FAM), Akbar, menegaskan bahwa kegiatan nobar tersebut merupakan bagian dari pendidikan politik rakyat agar masyarakat tidak kehilangan ingatan sejarah di tengah derasnya propaganda kekuasaan.

‎“Film Pesta Babi kami pilih karena berbicara tentang suara-suara yang selama ini dibungkam. Ia merekam ketimpangan, relasi kuasa, kekerasan simbolik, dan wajah ketidakadilan yang terus dipelihara oleh sistem. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi alarm bagi rakyat agar sadar bahwa demokrasi sedang berada di titik rawan,” ujar Akbar.

‎Menurutnya, gejala kemunduran demokrasi hari ini semakin nyata ketika kritik publik dipandang sebagai ancaman, sementara kekuasaan berjalan tanpa kontrol yang sehat.

Baca Juga :  PK IPNU–IPPNU UIN SMH Banten Gelar Pembukaan Pengajian Rutin Kitab Kasyifatussaja

‎“Dulu rakyat melawan otoritarianisme di jalan-jalan demi kebebasan. Hari ini, kebebasan itu kembali dipersempit secara perlahan. Kritik dicurigai, aktivis dibungkam, dan suara rakyat dipinggirkan. Reformasi belum selesai,” tegasnya.

‎Senada dengan itu, Sekretaris Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia Tangerang (SEMMI), Aditya Nugraha, mengatakan bahwa peringatan 21 Mei tidak boleh berhenti hanya sebagai seremoni sejarah yang kehilangan makna politiknya.

‎“21 Mei bukan sekadar tanggal runtuhnya rezim. Ini pengingat bahwa perjuangan melawan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan masih berlangsung sampai hari ini. Demokrasi tanpa keberpihakan kepada rakyat hanyalah topeng bagi kepentingan elite,” ujar Aditya.

‎Ia juga menyoroti melemahnya kontrol publik terhadap negara, meningkatnya pembatasan kebebasan sipil, serta berbagai persoalan kemanusiaan yang dinilai terus dibiarkan, termasuk situasi yang terjadi di Papua.

‎“Ini ancaman nyata bagi demokrasi. Ketika rakyat takut bersuara, saat itu demokrasi sedang sekarat. Sementara di Papua, persoalan kemanusiaan terus berlangsung tanpa penyelesaian yang adil. Negara tidak boleh terus menormalisasi penderitaan rakyat,” tegasnya.‎

‎Kegiatan nobar berlangsung hingga malam hari dan ditutup dengan mimbar bebas mengenai tantangan demokrasi pasca-Reformasi, meningkatnya represi terhadap kebebasan sipil, serta pentingnya solidaritas rakyat dalam mempertahankan nilai-nilai keadilan, hak asasi manusia, dan kebebasan berekspresi.

‎Di akhir kegiatan, peserta menyerukan bahwa perjuangan Reformasi tidak boleh berhenti hanya dalam peringatan tahunan. Reformasi harus terus hidup dalam keberanian rakyat untuk bersuara, melawan ketidakadilan, dan menjaga demokrasi agar tidak kembali jatuh ke tangan kekuasaan yang represif.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bank Muamalat dan BMM Salurkan Beasiswa Rp66 Juta untuk Bantuan Pendidikan
PIM Tagih Keseriusan Polri Usut Tuntas Penyadapan Presiden
Relokasi PKL Pasar Anyar, Satpol PP Kota Tangerang Utamakan Dialog dan Solusi
Desakan Pemakzulan, Foto Gibran Diturunkan di DPRD DIY
KMHDI Apresiasi Ketegasan Polri Bongkar Dugaan Penyadapan Presiden: Desak Tiga Tersangka Segera Ditahan
Tiga Jenderal di Tetapkan Jadi Tersangka Dalam Kasus Penyadapan Presiden Prabowo
Dugaan Presiden Disadap Secara Ilegal, Eks Kapolri Masuk Daftar
Apel Pagi Kemenag Kota Tangerang, Kepala Kantor Tekankan Tiga Aspek Kedisiplinan Pegawai
Berita ini 35 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 19:04 WIB

Bank Muamalat dan BMM Salurkan Beasiswa Rp66 Juta untuk Bantuan Pendidikan

Jumat, 6 November 2026 - 18:48 WIB

PIM Tagih Keseriusan Polri Usut Tuntas Penyadapan Presiden

Kamis, 5 November 2026 - 12:03 WIB

Relokasi PKL Pasar Anyar, Satpol PP Kota Tangerang Utamakan Dialog dan Solusi

Rabu, 4 November 2026 - 12:59 WIB

Desakan Pemakzulan, Foto Gibran Diturunkan di DPRD DIY

Rabu, 4 November 2026 - 00:25 WIB

KMHDI Apresiasi Ketegasan Polri Bongkar Dugaan Penyadapan Presiden: Desak Tiga Tersangka Segera Ditahan

Berita Terbaru

Daniel H Nainggolan, Ketua Umum Poros Intelektual Muda (Foto/ist)

Jakarta

PIM Tagih Keseriusan Polri Usut Tuntas Penyadapan Presiden

Jumat, 6 Nov 2026 - 18:48 WIB

Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra (foto/istimewa)

Pilihan Redaksi

Mantan Presiden Bisa Diperiksa dalam Kasus Penyadapan

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:10 WIB

Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Nasional

Yusril Ungkap Indikasi Makar di Balik Penyadapan Prabowo

Rabu, 4 Nov 2026 - 17:45 WIB