Hikigaya Hachiman Jujur Dalam Kesendirian, Menolak Hidup Dalam Kepalsuan 

- Penulis

Jumat, 19 September 2025 - 21:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anime Oregairu (Dok.Istimewa)

Anime Oregairu (Dok.Istimewa)

Oleh Achmad Tedy Alfadillah | Kader SEMMI Tangerang


Tokoh anime Oregairu atau My Teen Romantic Comedy SNAFU, Hikigaya Hachiman, kembali jadi sorotan di kalangan penggemar anime dan generasi muda. Bukan karena sikapnya yang sinis dan dingin, melainkan karena filosofi hidupnya yang unik, realistis, bahkan terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini.

Hachiman dikenal sebagai sosok yang berbeda dari tipikal protagonis anime pada umumnya. Ia tidak percaya pada kebahagiaan remaja indah yang sering digambarkan dalam film atau novel. Sebaliknya, ia menilai dunia penuh kepalsuan, di mana orang berbuat baik hanya untuk pencitraan. Aku lebih memilih kesepian daripada harus terjebak dalam kepalsuan, begitu salah satu prinsip yang dipegangnya.

Tak hanya itu, Hachiman kerap memilih menjadi kambing hitam demi kebahagiaan orang lain. Meski harus disalahpahami, ia rela menanggung luka emosional agar masalah selesai.

Filosofi kritis juga terlihat dari cara Hachiman menanggapi norma sosial. Ia menolak ikut arus demi diterima, menegaskan bahwa persahabatan yang dipaksakan hanyalah kesepakatan semu belaka. Pandangan ini sekaligus mengkritik standar sosial yang sering menekan anak muda untuk terlihat sempurna di mata orang lain.

Baca Juga :  Ambisi Politik Presiden dan Politikus Otak Patungan

Sikapnya yang jujur, meski kerap menyakitkan, justru menunjukkan idealisme tersendiri. Aku ingin sesuatu yang nyata, meski itu menyakitkan, ujar Hachiman, menegaskan keinginannya terhadap hubungan tulus, bukan sekadar interaksi palsu yang manis di permukaan.

Perjalanan Hachiman sesungguhnya adalah pencarian akan ikatan asli. hubungan jujur yang terbebas dari kepura-puraan. Melalui interaksi dengan Yukino dan Yui , ia menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari sandiwara sosial, melainkan dari keterbukaan dan kejujuran.

Filosofi Hachiman ini semakin relevan dengan kondisi generasi muda masa kini. Banyak remaja merasa tertekan oleh standar sosial, kesepian meski berada di keramaian, hingga sadar bahwa interaksi di media sosial sering kali hanya pencitraan belaka.

Pesan penting yang bisa dipetik:

Tidak masalah menjadi berbeda, Lebih baik jujur dalam kesendirian, daripada ramai dalam kepalsuan.

Hubungan tulus hanya bisa lahir dari keterbukaan, bukan manipulasi.

Dengan cara pandang yang nyeleneh tapi jujur, Hachiman memberi perspektif manis, bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti arus kepalsuan. Kadang, kejujuran yang menyakitkan jauh lebih berharga daripada kepalsuan yang manis.


Artikel Lain Batik Slobog Gustika Hatta dan Tradisi Perlawanan Simbolik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis
Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian
‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan
7 Dekade SEMMI: Mengukuhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi
Aktivis HAM Diserang, Demokrasi Hanya Omon-omon
PMII di Persimpangan Jalan: Organisasi Kader atau Alat Manuver Politik
Fenomena Kesehatan Mental Tren Dalam Media Sosial
Hari Perempuan Sedunia: BEM PTNU Banten Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Perempuan dan Minimnya Keterwakilan Politik
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:23 WIB

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:12 WIB

Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:32 WIB

‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan

Rabu, 18 Maret 2026 - 13:11 WIB

7 Dekade SEMMI: Mengukuhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi

Minggu, 15 Maret 2026 - 15:12 WIB

Aktivis HAM Diserang, Demokrasi Hanya Omon-omon

Berita Terbaru

Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Abdul Hakim (Foto/Istimewa).

Opini

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis

Kamis, 26 Mar 2026 - 16:23 WIB

Foto: Teknologi AI.

Opini

Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian

Kamis, 26 Mar 2026 - 16:12 WIB

Foto/istimewa.

Opini

‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan

Selasa, 24 Mar 2026 - 22:32 WIB