Tekad Tanjiro: Pelajaran Tentang Kegigihan Ditengah Keputusasaan

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 00:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba (Dok. Ign.com)

Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba (Dok. Ign.com)

Oleh Achmad Tedy Alfadillah | Kader PK SEMMI Madani Tangerang


Anime Demon Slayer bukan hanya menyajikan aksi pertarungan yang memukau dan visual yang memanjakan mata, tetapi juga menyimpan nilai-nilai kehidupan yang mendalam. Salah satu momen paling menyentuh terjadi di awal cerita, ketika karakter utama, Tanjiro Kamado, menghadapi tragedi yang mengubah seluruh hidupnya.

Setelah kembali dari kota usai menjual arang, Tanjiro menemukan keluarganya telah dibantai oleh iblis. Hanya adiknya, Nezuko, yang masih bertahan hidup meski dalam kondisi sekarat. Namun harapan itu berubah menjadi ketakutan saat Nezuko menunjukkan gejala menjadi iblis dan menyerang Tanjiro.

Di tengah dinginnya salju dan suasana yang mencekam, Tanjiro berusaha keras menahan adiknya yang mengamuk. Dalam keadaan genting itulah, muncul seorang pemburu iblis (dari pasukan Kisatsutai) yang langsung berusaha membunuh Nezuko demi mencegah ancaman lebih besar.

Tanjiro, yang menyaksikan adiknya hendak dibunuh, tak punya pilihan selain bersujud dan memohon agar Nezuko diberi kesempatan. Ia mencoba menjelaskan bahwa Nezuko berbeda, bahwa ia masih memiliki sisi manusia. Namun sang pemburu iblis dengan dingin menyatakan, “Apakah dengan engkau mengemis bisa mengembalikan keluargamu? Apakah dengan bersujud, adikmu bisa kembali menjadi manusia?”

Baca Juga :  Program 3G Tak Subtantif, SEMMI Tangerang Gelar Aksi 100 Hari Kerja

Perkataan itu seperti pukulan telak bagi Tanjiro, namun juga menyadarkannya: bahwa air mata dan permohonan tidak cukup untuk mengubah takdir. Tanjiro pun mencoba melawan meski ia tahu dirinya tak sebanding. Pertarungan singkat itu berakhir dengan Tanjiro pingsan, tapi sang pemburu iblis melihat sesuatu dalam diri Tanjiro tekad dan keberanian luar biasa untuk melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa.

Kisah ini memberi kita pelajaran penting. Dalam hidup, kesedihan dan kehilangan tidak bisa selalu diselesaikan dengan air mata atau harapan kosong. Diperlukan usaha nyata, keberanian, dan tekad yang kuat untuk mengubah keadaan. Tanjiro adalah contoh bahwa dalam keputusasaan sekalipun, manusia tetap memiliki pilihan: menyerah atau berjuang.

Sebagaimana Tanjiro tidak menyerah meskipun kehilangan hampir segalanya, kita pun diajak untuk terus melangkah, menghadapi hidup dengan kepala tegak, dan berusaha semaksimal mungkin demi orang-orang yang kita cintai dan demi harapan yang belum padam.


Artikel Lain: Pati: Dari Pajak Ke Perlawanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pasca 1 dan 2 Mei; Presiden, Buruh, Guru
Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara Dalam Kacamata Psikologi Sosial
Kebebasan Palsu di Era Kapitalisme Digital
Republik dalam Ruang Gema
Berburu Sapu-Sapu, Lindungi Perusak: Ironi Penyelamatan Sungai
Pemangkasan Program Studi Berbasis Kebutuhan Industri: Ancaman Bagi Prodi Ilmu Hukum?
Sebelum Terlambat: Memperketat Pengawasan Daycare demi Buah Hati di Tangerang
Kekuasaan Tanpa Moral: Jalan Sunyi Menuju Kehancuran
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:45 WIB

Pasca 1 dan 2 Mei; Presiden, Buruh, Guru

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:01 WIB

Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara Dalam Kacamata Psikologi Sosial

Kamis, 7 Mei 2026 - 11:57 WIB

Kebebasan Palsu di Era Kapitalisme Digital

Kamis, 7 Mei 2026 - 05:32 WIB

Republik dalam Ruang Gema

Selasa, 5 Mei 2026 - 15:25 WIB

Berburu Sapu-Sapu, Lindungi Perusak: Ironi Penyelamatan Sungai

Berita Terbaru

Opini

Pasca 1 dan 2 Mei; Presiden, Buruh, Guru

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:45 WIB