Pasca 1 dan 2 Mei; Presiden, Buruh, Guru

- Penulis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 12:45 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Garry Vebrian

Dosen Fakultas Kesehatan

Universitas Yatsi Madani


Suatu hari, 1 Mei lalu, yah 1 Mei 2026 beberapa hari yang lalu, Presiden Prabowo “merayakan” Hari Buruh dengan gegap gempita, bukan hanya 200 ribu kaos diberikan dan disebarkan pada saat perayaan tersebut.

Tapi kebijakan populis yang membuat banyak buruh merasa “menang” atas kebijakan yang langsung diberikan presiden; sebut saja cicilan KPR sampe 40 tahun dan potongan bagi hasil ojol 8% dari aplikator yang sebelumnya 20% lebih. “Kita menang”, kata sebagian mereka.

Ilusi hidup enak, bisa punya peluang memiliki rumah dengan durasi cicilan yang panjang, artinya cicilannya ringan alias murah kan?Mereka bernyanyi atas perayaan tersebut, dan berjoget yang membuat adrenalin Presiden makin membara dengan khas pidato-pidato heroiknya.

Oke, mari kita skip dulu soal perayaan itu, entah Anda mau menyebut apa peraayaan itu, terserah Anda. Tapi mari kita lihat sehari setelah 1 Mei, yah 2 Mei, tanggal yang ditandai dengan Hari Pendidikan Nasional. Ironi muncul disini, 1 Mei, Preiden haadir pada pesta meriah tersebut, lalu 2 Mei, Presiden mengadakan rapat tertutup di Hambalang membahas pendidikan dan perkembangan geopolitik dengan beberapa pejabat negara.

Pertanyaannya, apa yang bisa dihasilkan dari rapat tertutup tersebut? Sejujurnya saya juga tidak mau tahu apa aja hasil rapat tertutup itu. Toh setelah rapat pasti press rilisnya tidak jauh berbeda yang sudah-sudah, “pemerintah selalu berkomitmen terhadap pendidikan dengan bla bla lalu bla bla dan ditutup bla bla” tanpa angka, target, timeline dan akuntabilitas.

Muak? Iyah muak, tapi yang ingin saya tanyakan adalah; Kenapa tidak ada pidato heroik dan kebijakan langsung oleh Presiden di depan para guru, siswa dan mahasiswa untuk masa depan pendidikan atau kebijakan yang “menguntungkan” guru dan siswa? Bahkan agenda perayaan khusus pun tidak ada sama sekali. Toh guru-guru juga perlu joget2 dan bernyanyi kan? Yah walaupun sekedar menghilangkan pikiran kalau mereka masih dibayar dengan tidak layak, sedangkan tanggung jawabnya besar dan punya relasi yang amat besar terhadap masa depan bangsa anak bangsa.

Baca Juga :  Aktivis Zaman Now

Dalam perspektif politik, ini adalah pilihan. 1 Mei Presiden menghadiri hari buruh secara dramatis, 2 Mei Presiden mengadakan rapat tertutup, tidak tahu apa yang dibahas dan output kebijakannya.

Sekali lagi ini pilihan dalam perspektif politik, karena guru dengan honor 300-500 ribu tidak bisa memobilisasi siswa seperti para buruh, siswa tidak bisa berteriak di muka istana ketika sekolah mereka hampir rubuh, mahasiswa ditekuk lehernya oleh kampus dan lebih memilih ngojol bagi mereka yang tidak memiliki akses “arahan kanda?”, belum lagi siswa-siswa disabilitas yang tidak punya akses organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.

Buruh memang harus diperjuangkan, karena mereka lah roda ekonomi terus bergerak, mereka harus dibela, sesuatu sikap yang juga mestinya sama dengan para guru dan anak-anak bangsa yang sampai saat ini masih sangat minim terhadap akses pendidikan yang berkualitas, persoalan struktural sekalogus sistemik yang sudah menahun belum juga selesai.

Selamat hari buruh dan pendidikan nasional. Tidak terlambat kan untuk sekedar mengucapkan?

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Menakar Dua Tahun Prabowo Gibran: Menguji Janji, Membongkar Paradoks Pembangunan, dan Menuntut Koreksi Kebijakan demi Keadilan Rakyat
Nightmare Scenario: Prabowo Mengunci Pusat Kekuasaan
TNI, Ruang Sipil, dan Jalan Generasi
Tragedi Siswa SD Pemalang: Ketika Sekolah Gagal Melindungi Anak
Potensi Desa, Kamuflase Baru Eksploitasi
‎Eco-Anxiety: Krisis Iklim dan Persoalan HAM
‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan
Islam Jangan Hanya Menjadi Identitas: Keislaman Harus Melahirkan Keberanian Melawan Ketidakadilan
Berita ini 54 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 02:24 WIB

Menakar Dua Tahun Prabowo Gibran: Menguji Janji, Membongkar Paradoks Pembangunan, dan Menuntut Koreksi Kebijakan demi Keadilan Rakyat

Rabu, 7 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Nightmare Scenario: Prabowo Mengunci Pusat Kekuasaan

Senin, 5 Oktober 2026 - 01:20 WIB

TNI, Ruang Sipil, dan Jalan Generasi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 20:02 WIB

Tragedi Siswa SD Pemalang: Ketika Sekolah Gagal Melindungi Anak

Kamis, 24 September 2026 - 12:06 WIB

Potensi Desa, Kamuflase Baru Eksploitasi

Berita Terbaru

Daniel H Nainggolan, Ketua Umum Poros Intelektual Muda (Foto/ist)

Jakarta

PIM Tagih Keseriusan Polri Usut Tuntas Penyadapan Presiden

Jumat, 6 Nov 2026 - 18:48 WIB

Menko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra (foto/istimewa)

Pilihan Redaksi

Mantan Presiden Bisa Diperiksa dalam Kasus Penyadapan

Rabu, 4 Nov 2026 - 18:10 WIB

Presiden Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri (Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Nasional

Yusril Ungkap Indikasi Makar di Balik Penyadapan Prabowo

Rabu, 4 Nov 2026 - 17:45 WIB