JAKARTA, PUSATBERITA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) semakin mengalami tekanan mendalam menjelang penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (28/1/2026). Indeks tercatat turun 7,71 persen atau 692,47 poin ke level 8.287,76 per pukul 11.15 WIB.
Sejak pembukaan, IHSG melemah di posisi 8.393,51. Indeks sempat berupaya bangkit dan menyentuh level tertinggi harian di 8.596,17, tapi penguatan tersebut tidak bertahan lama.
Tekanan jual kembali mendominasi sehingga IHSG turun lebih dalam dan menyentuh level terendah di 8.281,57.
Merespons tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan akan melakukan koordinasi intensif dengan semua pemangku kepentingan untuk merespons kondisi pasar yang bergejolak hari ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan bahwa BEI akan menempuh berbagai langkah yang diperlukan bersama para pemangku kepentingan pasar modal.
“Jadi pada hari ini pada intinya kita akan melakukan segala effort kerja sama dengan tentunya semua stakeholder kita untuk follow up hal-hal yang dipandang perlu,” ujar Nyoman saat dikonfirmasi wartawan.
Terkait arah pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya, ia menegaskan, pihaknya masih akan mencermati dinamika pasar.
“Lihat kondisi ya,” paparnya.
Anjloknya IHSG terjadi setelah MSCI memutuskan menghentikan sementara sejumlah perubahan indeks yang melibatkan emiten Indonesia.
Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran atas tingginya konsentrasi kepemilikan saham di perusahaan-perusahaan tercatat.
Dikutip dari Bloomberg, penangguhan tersebut akan berlaku hingga otoritas pasar, termasuk BEI, dinilai mampu mengatasi kekhawatiran terkait struktur kepemilikan saham yang dinilai terlalu terkonsentrasi.
Kebijakan itu menjadi tekanan terbaru bagi pasar saham Indonesia, yang merupakan pasar modal terbesar di kawasan Asia Tenggara.
Dalam pernyataannya, MSCI menyebutkan akan segera menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam indeks-indeksnya, serta membekukan kenaikan jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.
Keputusan tersebut diambil dengan alasan masih adanya persoalan mendasar terkait kelayakan investasi, termasuk kekhawatiran terhadap potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mendistorsi proses pembentukan harga saham.
MSCI juga mengingatkan bahwa apabila hingga Mei 2026 Indonesia belum menunjukkan kemajuan yang memadai dalam peningkatan transparansi, lembaga tersebut akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia.
Peninjauan ulang ini berpotensi berdampak signifikan, mulai dari penurunan bobot seluruh saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index, hingga kemungkinan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier (frontier market).
Pengumuman tersebut disampaikan MSCI pada Selasa (27/1/2026). Langkah ini diambil setelah MSCI menuntaskan proses konsultasi pasar terkait penilaian free float saham Indonesia.
Dalam konsultasi tersebut, sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan Monthly Holding Composition Report yang diterbitkan oleh KSEI sebagai referensi tambahan. Namun demikian, mayoritas investor justru menyampaikan kekhawatiran serius, khususnya terkait klasifikasi pemegang saham dalam data KSEI.
MSCI mencatat, meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float yang disediakan BEI, investor menilai persoalan mendasar terkait transparansi dan struktur kepemilikan saham di pasar Indonesia masih belum sepenuhnya teratasi.
Penyebab IHSG Anjlok
Adapun IHSG ambruk merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait penilaian free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.
Dalam pengumuman tersebut, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia meski terdapat perbaikan minor pada data free float dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI).
MSCI menjelaskan bahwa sebagian pelaku pasar global mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai data tambahan. Namun, banyak investor menyampaikan kekhawatiran signifikan atas kategorisasi pemegang saham KSEI yang dinilai belum cukup andal untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan mendasar masih berkaitan dengan keterbatasan transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi perilaku perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu pembentukan harga wajar.
Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan informasi kepemilikan saham yang lebih rinci dan dapat diandalkan, termasuk pemantauan konsentrasi kepemilikan saham, guna mendukung penilaian free float yang lebih robust.
”Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment untuk sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera,” sebagaimana disampaikan dalam pengumuman di situs resminya.
Langkah ini diambil untuk memitigasi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sembari menunggu adanya perbaikan transparansi dari otoritas pasar terkait.
Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan jumlah saham atau Number of Shares (NOS) hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, MSCI tidak akan menambahkan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) serta menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.
Atas kejadian ini, terdapat kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI membuka peluang reklasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market, dengan tetap melalui proses konsultasi pasar.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan pengumuman MSCI tersebut berdampak kepada risiko volatilitas meningkat dan potensi outflow asing bisa muncul, khususnya pada saham-saham yang sensitif terhadap arus dana berbasis indeks.
Sebagaimana diketahui, sejumlah saham di Indonesia bergerak naik dengan narasi hendak masuk ke dalam indeks MSCI.
Komitmen BEI, KSEI & OJK
JOtoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan akan terus berkomitmen untuk memperkuat koordinasi dengan perusahaan penyedia indeks pasar saham global MSCI Inc. (MSCI) terkait pengumuman hasil konsultasi terkait penilaian free float saham-saham Indonesia di indeks bergengsi dunia.
Menindaklanjuti pengumuman MSCI, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan otoritas bursa saham RI bersama Self-Regulatory Organization (SRO) lainnya yaitu PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen untuk terus memperkuat koordinasi dengan MSCI.
”Kami memandang masukan yang disampaikan MSCI adalah bagian penting dalam upaya berkelanjutan untuk memperkuat kredibilitas pasar modal Indonesia. Kami memahami bahwa pembobotan MSCI memiliki peran strategis bagi pasar keuangan global serta menjadi salah satu referensi utama bagi investor,” ujar Corporate Secretary Kautsar Primadi lewat keterangan resmi, dikutip CNBC Indonesia, Rabu (28/1/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, BEI menyebut akan berkomitmen untuk mengupayakan yang terbaik dalam rangka meningkatkan bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI. Komitmen tersebut akan diwujudkan melalui penguatan transparansi data pasar, termasuk penyediaan informasi yang lebih akurat dan andal, sesuai dengan praktik terbaik secara global dan ekspektasi pemangku kepentingan global.
”Sebagai bagian dari langkah konkret yang telah dilakukan, BEI telah menyampaikan pengumuman data free-float secara komprehensif melalui website resmi BEI sejak 2 Januari 2026, serta akan disampaikan secara rutin setiap bulannya,” ungkap Kautsar.
Selanjutnya, BEI bersama SRO dan OJK akan terus berkoordinasi dengan MSCI guna memastikan keselarasan pemahaman serta implementasi peningkatan transparansi informasi. Melalui koordinasi yang berkesinambungan tersebut, BEI merasa optimistis dapat terus memperkuat daya saing Pasar Modal Indonesia di tingkat global, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap Pasar Modal nasional.











