JAKARTA, PUSATBERITA — Sejumlah wilayah di Jakarta kembali terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 90 sentimeter. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, sebanyak 45 RT dan 22 ruas jalan masih tergenang pada Kamis (22/1). Fenomena ini menambah panjang daftar banjir musiman yang terus berulang di ibu kota setiap musim hujan.
Banjir di Jakarta bukan persoalan baru. Dari pergantian gubernur hingga perubahan tata ruang, persoalan ini tak kunjung tuntas. Bahkan sejak masa kolonial ketika Jakarta masih bernama Batavia, wilayah ini telah menjadi langganan banjir. Meski demikian, sejarah mencatat ada sosok yang pernah melakukan langkah signifikan dalam upaya mengendalikan banjir.
Sosok tersebut adalah Herman van Breen, insinyur sipil lulusan Polytechnische School Delft yang lahir pada 28 Mei 1881. Van Breen dikenal sebagai tokoh penting di balik pembangunan bendungan dan kanal di Batavia setelah banjir besar melanda kota itu pada 1873. Pemerintah kolonial Belanda saat itu dibuat kelabakan menghadapi banjir yang merendam hampir seluruh wilayah Batavia.
Dalam buku Banjir Kanal Timur: Karya Anak Bangsa (2010) karya Kusumaputra dijelaskan bahwa badan pekerjaan umum kolonial, Burgerlijke Openbare Werken (BOW), bahkan sempat diejek sebagai Batavia Onder Water atau “Batavia di bawah air” karena seringnya kota itu terendam. Setelah banjir besar kembali terjadi pada 1918 dan menelan korban jiwa, pemerintah kolonial mulai menyusun rencana pengendalian banjir dan menunjuk Prof. Dr. Herman van Breen sebagai Ketua Tim Penyusun Rencana Pencegahan Banjir. Saat itu, luas Kota Batavia hanya sekitar 2.500 hektare.
Upaya Van Breen dalam merancang sistem pengendalian banjir juga mendapat dukungan tokoh Indonesia, M.H. Thamrin, yang saat itu menjabat sebagai anggota Dewan Kota Batavia. Pada 1919, Thamrin dan Van Breen merintis strategi penanggulangan banjir yang menjadi fondasi awal penataan sungai dan kanal di Jakarta.
Meski banjir tak mungkin sepenuhnya dihilangkan, sejarah menunjukkan bahwa langkah penanggulangan yang terencana dan menyeluruh dapat memberikan perubahan signifikan. Kini, ketika Jakarta kembali dilanda genangan, catatan upaya masa lalu menjadi pengingat bahwa persoalan banjir membutuhkan kerja serius, berkesinambungan, dan berbasis perencanaan jangka panjang.











