JAKARTA, PUSATBERITA – Indonesia terus berupaya membangun fondasi kekuatan udaranya, meskipun saat itu Indonesia sedang berada pada keterbatasan di awal masa kemerdekaan, salah satunya melalui penguatan kemampuan komunikasi penerbangan.
Upaya tersebut ditandai dengan pembukaan Sekolah Radio Telegrafis Udara pada 3 Maret 1947 di Pangkalan Udara Bugis, Malang, sebagaimana diungkap melalui unggahan Instagram @sejarah_tniau yang dikutip Minggu (22/3) 2026.
Pada pembukaan tersebut, sekolah menerima 34 siswa yang terdiri dari 20 anggota Inspektorat Genie Angkatan Darat serta 14 lulusan SMP yang telah melalui proses seleksi.
Para siswa kemudian dibagi ke dalam dua kelas, yakni Kelas A bagi mereka yang telah memiliki dasar radio telegrafis, dan Kelas B bagi yang belum memiliki pengetahuan dasar.
Dalam pelaksanaannya, pendidikan juga dibedakan antara calon awak udara (air crew) dan awak darat (ground crew). Khusus calon air crew, mereka diwajibkan lulus pemeriksaan kesehatan sesuai standar yang ditetapkan Opsir Udara I dr. Esnawan bersama tim medis.
Untuk memimpin lembaga pendidikan tersebut, ditunjuk Opsir Muda Udara I Adi Sumarmo Wirjokusumo sebagai Kepala Sekolah sekaligus instruktur Bahasa Inggris. Ia merupakan mantan Flight Radio Operator dari the Netherlands Indies Air Force yang memiliki pengalaman di bidang komunikasi udara.
Sebelum diresmikan secara formal pada Maret 1947, sekolah ini sebenarnya telah lebih dahulu dibuka dalam kondisi darurat pada Februari 1946. Dari penyelenggaraan awal tersebut, telah dihasilkan 16 tenaga radio telegrafis yang kemudian ditempatkan di berbagai pangkalan udara guna mendukung operasional penerbangan.
Keberadaan sekolah ini menjadi tonggak lahirnya operator radio yang berperan penting dalam mendukung perjuangan udara Republik Indonesia.












