TANGERANG, PUSATBERITA — Turnamen Golf Walikota Cup II Kota Tangerang-Banten akan digelar pada 27 Agustus 2026 di Modern Golf & Country Club Kota Tangerang. Kegiatan tersebut membawa nama Wali Kota Tangerang dan menawarkan sejumlah hadiah bagi peserta.
Empat kendaraan dicantumkan sebagai hadiah hole in one, yakni JAECOO J5, Toyota Innova Zenix, BYD Atto 1, dan Mitsubishi Destinator. Selain itu, panitia menyiapkan grand lucky draw berupa uang tunai Rp30 juta.
Sekretaris Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang, Aditya Nugraha, mempertanyakan sumber pembiayaan hadiah serta bentuk keterlibatan pemerintah dalam turnamen tersebut.
“Kami tidak mempersoalkan golf sebagai olahraga. Yang kami pertanyakan adalah transparansi dan prioritas. Kalau empat mobil itu murni dari sponsor, sampaikan kepada publik. Kalau ada uang pemerintah yang digunakan, masyarakat berhak tahu berapa nilainya dan apa dasar penganggarannya,” ujar Aditya saat diwawancarai Kamis, 13 Agustus 2026.
Jika menggunakan harga awal kendaraan di pasar, nilai empat mobil tersebut secara ilustratif mencapai sekitar Rp1,29 miliar. Angka itu bukan nilai resmi hadiah maupun bukti pembiayaan dari APBD. Harga aktual dapat berbeda berdasarkan varian, pajak, promosi, dan skema kerja sama dengan sponsor.
Pertanyaan mengenai prioritas menjadi relevan ketika dibandingkan dengan kebutuhan Kota Tangerang. APBD 2026 mencapai sekitar Rp5,53 triliun, sementara pemerintah mengalokasikan Rp48,9 miliar untuk program Sekolah Gratis yang ditargetkan menjangkau 29.230 siswa.
Pada penerimaan murid baru 2026/2027, sekitar 25 ribu calon siswa mendaftar ke SD negeri, sedangkan daya tampungnya sekitar 18 ribu kursi.
Menurut Aditya, perbandingan tersebut bukan berarti nilai hadiah dapat begitu saja dialihkan menjadi anggaran pendidikan. Namun, pemerintah perlu mempertimbangkan manfaat publik dari setiap bentuk dukungan terhadap sebuah kegiatan.
“Silakan olahraga dikembangkan. Tetapi pemerintah harus sensitif terhadap skala kebutuhan masyarakat. Jangan sampai kemewahan sebuah kegiatan justru lebih terlihat daripada keberpihakan terhadap kebutuhan warga,” ujarnya.
Ia juga meminta kejelasan mengenai manfaat turnamen bagi pengembangan olahraga di Kota Tangerang, terutama jika terdapat dukungan pemerintah.
”Kalau memang ada dukungan pemerintah, apa manfaat langsungnya untuk masyarakat? Apakah ada pembinaan atlet muda, fasilitas olahraga yang bisa digunakan masyarakat, atau program lain yang bisa dirasakan warga?,” kata Aditya.
Karena itu, posisi pemerintah dalam Turnamen Golf Wali Kota Cup II perlu diperjelas, termasuk sumber pembiayaan hadiah dan bentuk dukungan yang diberikan. Jika seluruhnya berasal dari sponsor, informasi tersebut dinilai penting untuk disampaikan secara terbuka.
Bagi Aditya, persoalannya bukan tentang siapa yang mendapatkan mobil, melainkan tentang transparansi dan manfaat publik dari kegiatan yang membawa nama kepala daerah.
“Pertanyaannya sederhana: siapa yang membayar hadiah itu, pemerintah terlibat sejauh apa, dan apa yang sebenarnya kembali kepada masyarakat?,” tutup Aditya.











