JAKARTA, PUSATBERITA – Belakangan ini, satu pemandangan terasa semakin akrab di ruang digital. Linimasa media sosial dipenuhi unggahan saldo emas digital, foto logam mulia hasil pembelian terbaru, hingga potongan berita harga emas yang kembali menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena serupa juga merembes ke ruang-ruang perbincangan informal. Topik yang dulu berkisar pada skor pertandingan sepak bola atau isu politik harian, kini bergeser ke satu pertanyaan yang sama, apakah membeli emas saat ini masih masuk akal, atau justru sudah terlambat?
Fenomena ini bukan muncul tanpa sebab. Dunia tengah berada dalam fase ketidakpastian yang serius. Ketegangan geopolitik yang melibatkan kekuatan besar global, konflik berkepanjangan, serta kebijakan ekonomi yang agresif di banyak negara memicu kecemasan luas terhadap stabilitas nilai mata uang dan sistem keuangan internasional. Dalam situasi seperti ini, emas kembali menempati posisinya sebagai aset favorit.
Lonjakan harga pun tak terhindarkan. Hingga Kamis (29/1/2026), harga emas spot dunia tercatat melonjak dan menembus level di atas 5.000 dolar AS per ons, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah perdagangan global. Di dalam negeri, berdasarkan data resmi PT Antam, harga emas batangan ukuran 1 gram mencapai Rp2.968.000 per batang. Angka tersebut menjadi level tertinggi yang pernah dicapai, sekaligus menegaskan besarnya arus minat terhadap logam mulia.
Kondisi ini memunculkan satu pertanyaan penting: mengapa emas kembali menjadi begitu “sakti” ketika dunia bergejolak?
Emas dan Sejarahnya sebagai Pelabuhan Aman
Secara historis, emas telah lama diposisikan sebagai safe haven atau aset pelindung nilai. Dalam berbagai siklus krisis ekonomi dunia, emas hampir selalu tampil sebagai instrumen yang mampu bertahan, bahkan menguat, ketika aset lain tertekan. Salah satu alasannya terletak pada sifat dasar emas itu sendiri yaitu jumlahnya terbatas dan tidak dapat diciptakan secara instan.
Dalam kajian ekonomi global, kondisi krisis kerap ditandai dengan kebijakan pencetakan uang besar-besaran oleh negara untuk menutup defisit, membiayai konflik, atau menyelamatkan sektor keuangan. Langkah ini, meski bersifat jangka pendek, perlahan menggerus nilai mata uang fiat melalui inflasi. Dalam situasi tersebut, emas kembali dipandang sebagai “uang sejati” yang tidak terikat pada janji atau kestabilan satu institusi tertentu.
Berbeda dengan simpanan bank, obligasi, atau instrumen keuangan lainnya, emas tidak memiliki counterparty risk. Artinya, nilai emas tidak bergantung pada kemampuan pihak lain untuk memenuhi kewajibannya. Ketika bank gagal, mata uang terdepresiasi, atau sanksi ekonomi diberlakukan, emas fisik tetap mempertahankan eksistensinya sebagai aset bernilai.
Tren global memperkuat pandangan ini. World Gold Council (WGC) dalam sejumlah laporan mencatat peningkatan signifikan pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara. Langkah tersebut bukan sekadar mengikuti tren pasar, melainkan bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. Jika lembaga keuangan paling berpengaruh di dunia memilih memperbesar porsi emas fisik, hal ini menjadi sinyal kuat tentang meningkatnya risiko sistemik global.
Perak, Saudara Kandung yang Kerap Terlupakan
Meski emas mendominasi perhatian publik, perak sebenarnya memiliki posisi unik yang sering luput dari sorotan. Dari sisi harga, perak jauh lebih terjangkau dibanding emas. Kondisi ini membuatnya lebih mudah diakses oleh masyarakat yang baru mulai membangun aset logam mulia dengan dana terbatas.
Namun keunggulan perak tidak berhenti pada faktor harga. Berbeda dengan emas yang fungsi utamanya bersifat moneter, perak memiliki peran ganda sebagai logam industri. Perak menjadi komponen penting dalam berbagai teknologi modern, mulai dari panel surya untuk energi terbarukan hingga kendaraan listrik dan perangkat elektronik canggih.
Ketergantungan industri terhadap perak membuat pergerakan harganya tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen krisis atau ketakutan pasar, tetapi juga oleh laju inovasi teknologi dan transisi energi global. Dalam konteks jangka panjang, faktor ini memberikan dimensi tambahan terhadap potensi nilai perak.
Para pelaku pasar juga kerap menggunakan indikator Gold-Silver Ratio (GSR) untuk membaca peluang. Rasio ini menunjukkan berapa ons perak yang dibutuhkan untuk membeli satu ons emas. Secara historis, ketika rasio berada di level tinggi, perak dinilai relatif murah dan memiliki kecenderungan mengalami kenaikan harga yang lebih agresif untuk menyesuaikan diri.
Stabilitas atau Pertumbuhan: Menentukan Pilihan
Dalam menentukan pilihan antara emas dan perak, faktor utama yang perlu diperhatikan adalah tujuan dan profil risiko. Emas menawarkan stabilitas. Pergerakan harganya relatif lebih tenang dan berfungsi sebagai benteng pertahanan nilai aset, terutama dalam situasi krisis berkepanjangan. Emas juga lebih ringkas untuk disimpan dan diperdagangkan.
Sebaliknya, perak memiliki volatilitas yang lebih tinggi. Potensi keuntungannya bisa lebih besar, tetapi disertai fluktuasi harga yang lebih tajam. Karena itu, perak sering dipandang sebagai aset dengan karakter lebih agresif dibanding emas.
Sejumlah pakar keuangan menyarankan pendekatan kombinasi. Salah satu strategi yang kerap direkomendasikan adalah komposisi 80 persen emas dan 20 persen perak. Dengan strategi ini, investor memperoleh perlindungan nilai dari emas sekaligus peluang pertumbuhan dari perak.
Logam Mulia sebagai Asuransi, Bukan Jalan Pintas
Penting untuk dipahami bahwa membeli emas atau perak di tengah gejolak global bukanlah strategi untuk meraih kekayaan secara instan. Logam mulia lebih tepat diposisikan sebagai bentuk asuransi finansial. Fungsinya bukan untuk berspekulasi jangka pendek, melainkan melindungi daya beli dari risiko inflasi, krisis moneter, dan ketidakstabilan geopolitik.
Dalam kondisi pasar yang rapuh, aset-aset tertentu justru menunjukkan daya tahan lebih baik. Ketika pasar saham tertekan dan mata uang bergejolak, emas dan perak kerap tetap berdiri kokoh, bahkan menguat. Karakter inilah yang membuat logam mulia kembali menjadi pilihan rasional di tengah ketidakpastian.
Di tengah maraknya tren pamer kepemilikan emas di media sosial, satu hal yang patut diingat adalah pentingnya kesadaran dan pemahaman sebelum membeli. Logam mulia seharusnya dibeli bukan karena dorongan tren, melainkan karena pemahaman bahwa di dunia yang terus bergeser dan penuh risiko, memiliki aset nyata yang diakui secara global adalah salah satu cara paling masuk akal untuk menjaga masa depan finansial.











