TANGERANG, PUSATBERITA — Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyoroti kondisi kualitas air Sungai Cisadane yang tercemar berat. Temuan tersebut disampaikan dalam dialog publik Membaca Cai Cisadane yang digelar Nawal Institute di Kampung Karawaci Ilir, Kota Tangerang, Sabtu (24/10/2026).
Perwakilan BBWSCC, Iqbal Faruq, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan Sungai Cisadane masuk kategori tercemar berat dari hilir hingga hulu.
“Dalam klasifikasi hasil pemantauan, terdapat kategori baik, tercemar sedang, dan tercemar berat. Berdasarkan hasil pemantauan, kondisi Sungai Cisadane dari hilir hingga hulu masuk kategori tercemar berat,” ujar Iqbal.
Iqbal menjelaskan, pemantauan kualitas air dilakukan melalui pengujian sejumlah parameter, meliputi aspek kimia, biologi, dan mikrobiologi. Ia juga menyoroti aktivitas industri yang mengambil air dari sumber air tanpa memenuhi ketentuan perizinan, serta persoalan pembuangan limbah yang perlu menjadi perhatian dalam pengawasan sungai.
Menurut Iqbal, Sungai Cisadane berkaitan dengan peruntukan air golongan 1 yang masih digunakan untuk kebutuhan konsumsi. Namun, peruntukan air perlu dibedakan dari kondisi kualitas air. Penggunaan air untuk konsumsi tetap harus mempertimbangkan hasil pengujian kualitas air dan persyaratan pengolahan yang berlaku.
Temuan tersebut mendapat konteks dari sejumlah penelitian mengenai kualitas air Sungai Cisadane. Penelitian Romi Tarigan, Sigid Hariyadi, dan Majariana Krisanti terhadap kualitas air bagian hilir Cisadane pada periode 2017–2019 menemukan tingkat pencemaran yang bervariasi, termasuk kategori tercemar berat pada musim kemarau 2018.
Sementara itu, penelitian Yoel Marthin Simamora pada 2026 berjudul “Biodiversitas Makrozoobentos sebagai Bioindikator Status Ekologis Sungai Cisadane” menemukan indikasi pencemaran berat di bagian tengah dan hilir, sedangkan bagian hulu dikategorikan tercemar sedang berdasarkan indikator makrozoobentos yang digunakan.
Kedua penelitian tersebut memiliki periode, lokasi, dan metode pengukuran berbeda. Hasilnya memberikan gambaran bahwa kualitas air Cisadane telah menjadi perhatian dalam penelitian ilmiah.
Akademisi Ukon Sukanda menilai pengelolaan sungai perlu mempertimbangkan hubungan masyarakat dengan lingkungan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Menurut dia, pembangunan di sekitar sungai tidak seharusnya mengabaikan pengalaman dan kepentingan warga.
“Sungai ini bukan sekadar saluran air. Ada kehidupan masyarakat yang tumbuh bersamanya. Karena itu, pembangunan di sekitar sungai harus mendengarkan warga dan mempertimbangkan dampaknya terhadap ekosistem,” kata Ukon.
Ia juga menyoroti pembangunan turap di sepanjang sungai yang perlu dikaji berdasarkan dampaknya terhadap lingkungan. Pelibatan warga dalam perencanaan dan pengawasan, menurut dia, penting agar kebijakan pengelolaan sungai tidak berjalan sepihak.
Sementara itu, Mulyadi, warga Kampung Karawaci Ilir, mengatakan persoalan sampah di Sungai Cisadane telah berlangsung lama. Ia menilai kebiasaan sebagian warga membuang sampah ke sungai turut memperburuk kondisi lingkungan.
“Persoalan sampah ini sudah berlangsung lama. Masih ada warga yang membuang sampah ke sungai karena tidak mau mengeluarkan biaya untuk pengangkutan sampah. Kebiasaan seperti ini juga harus diubah,” ujar Mulyadi.
Dialog yang digelar Nawal Institute mempertemukan perspektif pemerintah, akademisi, dan warga untuk membahas kualitas air, aktivitas industri, pembangunan bantaran sungai, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan.
Nawal Institute mendorong penanganan persoalan Cisadane melalui keterbukaan data, pengawasan yang konsisten, dan kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat. Upaya pemulihan sungai perlu menyentuh bukan hanya persoalan sampah, tetapi juga sumber pencemaran dan tata kelola lingkungan di sepanjang alirannya.












