Analisis Toleransi Beragama Di Kalangan Mahasiswa Muhammadiyah Tangerang

- Penulis

Rabu, 2 Juli 2025 - 21:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh Alya Mawardah, Ami Zahrotun Najwah, Sindi Sri Lestari, Siti Maryam | Semester 2 Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu sosial dan Imu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang.


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat dan bentuk toleransi beragama di kalangan mahasiswa Muhammadiyah Tangerang. Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dikenal dengan purifikasi ajaran agamanya. Namun, dalam konteks masyarakat majemuk, pemahaman dan praktik toleransi menjadi krusial, terutama bagi generasi muda seperti mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, melibatkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif terhadap sejumlah mahasiswa Muhammadiyah di Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa Muhammadiyah Tangerang secara umum memiliki pemahaman yang baik mengenai pentingnya toleransi beragama sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Bentuk toleransi yang dipraktikkan meliputi sikap saling menghormati, tidak mengganggu ibadah agama lain, dan membangun komunikasi antarumat beragama. Meskipun demikian, ditemukan adanya variasi dalam tingkat toleransi, di mana beberapa mahasiswa menunjukkan keterbukaan yang lebih besar dalam berinteraksi dengan penganut agama lain, sementara yang lain cenderung membatasi interaksi pada hal-hal yang bersifat umum dan tidak menyentuh ranah akidah. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat toleransi meliputi pemahaman keagamaan, lingkungan sosial, dan pengalaman berinteraksi dengan penganut agama lain. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pendidikan multikultural dan dialog antarumat beragama di lingkungan kampus untuk meningkatkan dan memperluas cakupan toleransi di kalangan mahasiswa Muhammadiyah Tangerang.

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan dalam menyampaikan pendapat serta menghargai perbedaan kepentingan. Dalam konteks kehidupan beragama, negara memiliki peran yang sangat krusial untuk menjamin hak setiap warganya dalam memeluk dan menjalankan ajaran agamanya sesuai keyakinan masing-masing. Bagi masyarakat Indonesia, agama tidak hanya dianggap sebagai aspek spiritual, tetapi juga bagian dari takdir hidup dan identitas budaya yang melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai bangsa yang memiliki keragaman luar biasa dalam aspek suku, budaya, etnis, bahasa, dan agama, Indonesia termasuk salah satu negara paling majemuk di dunia.

Selain enam agama resmi yang diakui negara, terdapat pula ratusan suku bangsa, bahasa daerah, serta berbagai kepercayaan lokal yang masih dipelihara oleh komunitas-komunitas adat. Keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa ini, pada sisi lain juga menyimpan potensi konflik, khususnya yang berkaitan dengan isu-isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan). Oleh karena itu, kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga persatuan dalam keberagaman perlu senantiasa dibangun dan diperkuat (Adha & Susanto, 2020). Toleransi menjadi salah satu nilai kunci dalam merawat keharmonisan sosial di tengah masyarakat yang plural.

Nilai ini mencerminkan sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada dalam kehidupan bersama. Dalam konteks kehidupan beragama, toleransi diartikan sebagai kemampuan menerima perbedaan keyakinan dan memberikan ruang kebebasan kepada setiap individu untuk menjalankan ibadah sesuai ajaran agamanya, tanpa tekanan, diskriminasi, atau gangguan dari pihak lain (Novita, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa toleransi beragama tidak hanya bersifat pasif, tetapi merupakan tindakan aktif yang mendorong terciptanya kehidupan sosial yang damai dan inklusif. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tingkat toleransi di lingkungan pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh faktor pendidikan, pengalaman, dan lingkungan sosial. Abdullah (2020) menegaskan bahwa program-program kampus yang menitikberatkan pada nilai-nilai keberagaman dan inklusivitas terbukti mampu meningkatkan sikap toleran mahasiswa.

Hal senada juga diungkapkan oleh Zakaria dan Ahmad (2021), yang menemukan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan secara langsung dapat memperkuat pemahaman lintas iman, terutama bila pendidikan agama yang diterima menekankan pada nilai-nilai moderat dan dialogis. Namun demikian, fakta di lapangan menunjukkan bahwa identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai toleransi sempat mengalami kemunduran.

Munculnya ujaran kebencian terhadap kelompok agama tertentu, serta berkembangnya radikalisme dan aksi kekerasan yang berlatar belakang keagamaan, menjadi tantangan nyata yang menguji daya tahan nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan kita. Dalam konteks ini, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa memegang peran penting dalam menjaga nilai-nilai toleransi dan mencegah tumbuhnya sikap intoleran di lingkungan masyarakat.

METODE PENELITIAN

beragama dalam kehidupan kampus sehari-hari. Untuk memperkaya data kualitatif yang diperoleh melalui observasi, peneliti juga menyebarkan kuesioner kepada 19 mahasiswa dari berbagai jurusan. Kuesioner tersebut dirancang untuk mengumpulkan data kuantitatif mengenai pengalaman dan persepsi mahasiswa terhadap keberagaman agama di lingkungan akademik. Beberapa indikator yang diukur meliputi frekuensi interaksi lintas agama, sikap terhadap perbedaan keyakinan, serta faktor-faktor sosial yang memengaruhi tingkat penerimaan terhadap keberagaman. Seluruh data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan kuesioner dianalisis dengan pendekatan tematik deskriptif sebagaimana dijelaskan oleh Nowell et al. (2017), yang menekankan pada pengidentifikasian tema-tema utama dari narasi partisipan. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memahami kecenderungan umum dalam sikap mahasiswa terhadap perbedaan agama, serta menemukan faktor-faktor yang mendorong terbentuknya sikap toleran maupun intoleran. Temuan dari studi ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru mengenai dinamika interaksi sosial di lingkungan kampus yang multikultural, serta mendukung upaya pembinaan kesadaran toleransi melalui pendidikan tinggi

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Toleransi beragama merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga keharmonisan sosial di Indonesia yang dikenal akan kemajemukannya dalam aspek agama, suku, dan budaya. Dalam lingkungan pendidikan tinggi, khususnya pada institusi berbasis keagamaan, peran kampus menjadi sangat strategis dalam membentuk pemahaman dan sikap mahasiswa terhadap nilai-nilai toleransi. Pendidikan toleransi di perguruan tinggi bukan hanya bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang keberagaman agama, tetapi juga untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya saling menghormati antarumat beragama (Astuti et al., 2024). Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa melalui interaksi sosial, diskusi kelompok, seminar lintas iman, serta kegiatan kolaboratif antar organisasi kemahasiswaan.

Dalam praktiknya, kampus diharapkan menjadi teladan nyata dalam mengimplementasikan toleransi beragama. Dosen dan tenaga pendidik memegang peranan penting dalam proses internalisasi nilai ini, baik melalui pengajaran formal maupun melalui sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan kampus. Lingkungan akademik yang terbuka dan inklusif akan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk tidak hanya memahami, tetapi juga mempraktikkan sikap toleran dalam interaksi lintas agama.

Mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) dituntut memiliki kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, dan kesadaran terhadap pentingnya menghargai keberagaman sebagai bekal dalam menghadapi kompleksitas kehidupan masyarakat modern. Di Universitas Muhammadiyah Tangerang, keberagaman mahasiswa tercermin dari latar belakang agama, budaya, bahasa, dan daerah asal yang beragam. Pada tanggal 15 juni, peneliti melakukan wawancara dengan seorang mahasiswa yang akan disamarkan dengan inisial AA. Dalam wawancara tersebut, mahasiswa AA menyatakan bahwa “perbedaan dalam agama, budaya, maupun suku sempat menjadi tantangan dalam membangun komunikasi awal di kampus.” Namun, ia juga menekankan bahwa kondisi ini adalah hal yang umum di masyarakat Indonesia, baik di lingkungan akademik maupun sosial.

Data kuantitatif diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada 20 mahasiswa, dengan rincian sebagai berikut:

Dari data tersebut terlihat bahwa mahasiswa beragama Islam merupakan mayoritas, yaitu sebanyak 14 orang, sementara mahasiswa beragama Kristen berjumlah 6 orang. Komposisi ini menggambarkan realitas multikultural di lingkungan kampus, di mana keberagaman tetap menjadi bagian penting dari dinamika sosial mahasiswa. Berdasarkan hasil kuesioner, seluruh responden menunjukkan pemahaman dasar yang baik terhadap konsep toleransi beragama.

Mayoritas dari mereka mengaku menjunjung tinggi prinsip saling menghormati dan menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan bersama.Namun, data wawancara juga mengungkap adanya kesenjangan antara pemahaman konseptual dan penerapan nyata. Beberapa mahasiswa, terutama yang baru memasuki jenjang pendidikan tinggi, mengaku masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan yang plural. Tantangan ini terutama dialami oleh mahasiswa yang sebelumnya menempuh pendidikan di lingkungan yang homogen secara agama, seperti sekolah berbasis agama tertentu atau pesantren. Hambatan dalam interaksi sosial sempat muncul, terutama dalam kegiatan kerja kelompok atau diskusi kelas.

Meskipun demikian, seiring waktu dan intensitas interaksi yang meningkat, mahasiswa mulai saling memahami dan menghargai perbedaan yang ada. Banyak yang menyatakan bahwa setelah mengenal satu sama lain lebih dalam, komunikasi menjadi lebih lancar dan hubungan sosial semakin erat. Untuk meningkatkan praktik toleransi di lingkungan kampus, para responden memberikan beberapa saran konstruktif, antara lain: memperbanyak kegiatan lintas agama yang inklusif, menyediakan forum diskusi terbuka antarumat beragama, serta memperkuat komunikasi melalui program kerja sama antarmahasiswa dari berbagai latar belakang keagamaan. Salah satu responden menegaskan bahwa “komunikasi yang baik dan adanya ruang untuk bertukar pandangan antaragama sangat membantu membangun rasa saling menghargai.”

Baca Juga :  KAHFI BBC MOTIVATOR SCHOOL Selenggarakan Seminar Pola Pikir dan Komunikasi Efektif, Diikuti 500 Peserta

Mahasiswa juga menyarankan agar kampus lebih aktif memfasilitasi kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai persatuan dan kerukunan. Dengan demikian, dapat tercipta suasana akademik yang harmonis, inklusif, dan kondusif bagi seluruh civitas akademika tanpa memandang latar belakang agama. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan kesadaran multikultural dan mendorong integrasi nilai-nilai toleransi dalam seluruh aspek kehidupan kampus.

Hasil Pembahasan

1. Implementasi Toleransi Beragama di Universitas Muhammadiyah Tangerang

Universitas Muhammadiyah Tangerang menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan toleransi beragama di lingkungan kampus. Sebagai institusi pendidikan tinggi berbasis Islam, kampus ini berhasil membangun atmosfer akademik yang menghargai perbedaan keyakinan dan budaya. Penerapan nilai toleransi tampak dari berbagai kebijakan, salah satunya adalah penghargaan terhadap waktu ibadah mahasiswa Muslim. Setiap kali adzan berkumandang, kegiatan perkuliahan dihentikan sementara sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah salat. Tidak hanya itu, Universitas Muhammadiyah Tangerang juga mendukung kebebasan beragama mahasiswa non-Muslim dengan memberikan ruang bagi mereka untuk menjalankan aktivitas keagamaan secara mandiri. Contohnya, mahasiswa Kristen diberi kebebasan membentuk dan mengelola Komunitas Mahasiswa Kristen (KMK), yang menjadi wadah untuk beribadah, berdiskusi, dan menyelenggarakan kegiatan sosial keagamaan. Semangat kolaborasi antaragama juga tampak dalam berbagai kegiatan sosial yang melibatkan seluruh elemen kampus.

Misalnya, pada momen bencana alam atau kegiatan kemanusiaan, mahasiswa lintas agama bergotong royong melakukan penggalangan bantuan dan turun langsung sebagai relawan. Kegiatan ini membentuk kesadaran bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas lintas iman adalah pondasi kehidupan bermasyarakat. Selain itu, pelaksanaan pendidikan agama di kampus dilakukan dengan pendekatan yang inklusif. Meskipun seluruh mahasiswa mengikuti mata kuliah wajib seperti Studi Islam dan Kemuhammadiyahan, mahasiswa non-Muslim tetap difasilitasi untuk mendapatkan pengajaran sesuai kepercayaan mereka, dengan mendatangkan tenaga pengajar dari kalangan pemuka agama Kristen.

Kegiatan bersama seperti buka puasa bersama yang melibatkan mahasiswa Muslim, Kristen, dan warga sekitar juga menjadi simbol kebersamaan dan keharmonisan. Kehadiran warga Kristen dalam kegiatan tersebut—baik sebagai peserta maupun penyedia konsumsi—menunjukkan integrasi sosial yang erat antara kampus dan masyarakat lintas agama.

2. Peran Keluarga dalam Membentuk Sikap Toleransi

Lingkungan keluarga memiliki peranan fundamental dalam membentuk karakter individu, termasuk sikap terhadap keberagaman. Keluarga merupakan institusi pertama tempat individu belajar mengenal nilai-nilai sosial, termasuk nilai toleransi. Komunikasi yang dilandasi kasih sayang dan kebiasaan untuk saling membantu di dalam keluarga menciptakan pondasi sikap terbuka dan empati terhadap orang lain. Mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan pemahaman inklusif umumnya menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap perbedaan keyakinan. Sejak kecil, mereka telah terbiasa melihat orang tuanya berinteraksi secara positif dengan individu dari latar belakang berbeda, sehingga nilai-nilai seperti penghargaan terhadap perbedaan, saling menghormati, dan tenggang rasa telah tertanam dengan kuat. Dalam keseharian, contoh kecil seperti orang tua yang menyapa tetangga berbeda agama atau mengajak anak berdiskusi tentang keberagaman yang mereka lihat di lingkungan sekitar, menjadi pengalaman penting dalam membentuk persepsi anak terhadap pluralitas. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti ini akan lebih mudah menerima dan menjalin relasi yang sehat dengan sesama, tanpa prasangka.

3. Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Toleransi Beragama

Pendidikan memiliki kontribusi besar dalam menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai toleransi. Sistem pendidikan nasional pun telah menegaskan pentingnya nilai toleransi dalam proses pembelajaran, sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan penghormatan terhadap keberagaman. Di Universitas Muhammadiyah Tangerang, integrasi nilai-nilai toleransi dilakukan melalui kurikulum yang mencakup mata kuliah seperti Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Sosial dan Budaya, Multikultural, serta Studi Kemuhammadiyahan. Mata kuliah ini tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga membentuk pemahaman mahasiswa tentang pentingnya hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang heterogen. Selain pembelajaran di dalam kelas, kegiatan ekstrakurikuler, organisasi kemahasiswaan, serta kegiatan sosial lintas agama turut mendorong mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan sosial dan empati terhadap sesama. Diskusi lintas iman, forum keberagaman, dan kerja sama dalam proyek sosial menjadi sarana aktualisasi sikap toleran. Dosen dan tenaga pendidik juga memegang peranan penting sebagai teladan dalam membangun budaya akademik yang inklusif. Praktik seperti berdoa bersama sebelum dan sesudah kelas, dengan setiap mahasiswa melafalkan doa sesuai keyakinannya masing-masing, serta penghentian aktivitas saat waktu ibadah menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi tidak hanya diajarkan secara teori, tetapi diterapkan dalam tindakan nyata.

KESIMPULAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik toleransi beragama di Universitas Muhammadiyah Tangerang telah berjalan secara positif. Sebagian besar mahasiswa memperlihatkan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan keyakinan dalam kehidupan kampus. Lingkungan keluarga memainkan peranan awal yang penting dalam membentuk sikap toleran, yang kemudian diperkuat melalui proses pendidikan di perguruan tinggi, baik dari segi kurikulum maupun kegiatan antaragama.

Walaupun sejumlah mahasiswa baru menghadapi tantangan dalam proses adaptasi, suasana kampus yang terbuka dan ramah terhadap keberagaman mampu membantu mereka berinteraksi dengan lebih mudah. Kampus juga telah menunjukkan komitmennya melalui kebijakan yang mendukung keberagaman agama, seperti memberi waktu untuk beribadah dan mendukung kegiatan organisasi keagamaan bagi mahasiswa non-Muslim. Dengan demikian, Universitas Muhammadiyah Tangerang tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan akademis, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter mahasiswa agar siap hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dalam rangka memperkuat sikap toleransi antarumat beragama di lingkungan perguruan tinggi, diperlukan langkah-langkah strategis yang berkelanjutan.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan nilai-nilai keberagaman dan multikulturalisme ke dalam materi perkuliahan, khususnya dalam mata kuliah umum. Selain itu, penyelenggaraan kegiatan lintas agama seperti dialog antarumat, perayaan budaya bersama, serta forum diskusi tematik dapat menjadi ruang belajar sosial bagi mahasiswa untuk memahami dan menerima perbedaan. Pendekatan berbasis komunitas, misalnya melalui program pendampingan atau mentoring lintas agama, juga efektif dalam mempererat komunikasi dan membangun empati. Tak kalah penting, dosen dan staf akademik perlu menjadi teladan dalam membangun suasana kampus yang inklusif melalui sikap, ucapan, dan tindakan yang menghargai keberagaman. Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, diharapkan kampus dapat menjadi tempat yang aman, terbuka, dan mendidik bagi tumbuhnya generasi muda yang toleran, bijak, dan berwawasan kebangsaan.

 

REFERENSI

  1. Abdussamad, A. (2021). Metode penelitian kualitatif (pp. 29–38).
  2. Astuti, S. R., Mujahiddin, E., & Manurung, N. S. (2024). Implementasi toleransi beragama mahasiswa. JPG: Jurnal Pendidikan Guru, 5(3), 465–471. https://ejournal.uikabogor.ac.id/index.php/jpg/article/download/17176/54
  3. Dewi, N. R., & Handayani, L. (2023). Moderasi beragama di lingkungan pendidikan tinggi: Studi pada kampus multikultural. Jurnal Studi Islam dan Kemasyarakatan, 4(1), 55–66.
  4. Fadillah, M. (2022). Peran keluarga dalam menanamkan sikap toleransi beragama anak usia remaja. Jurnal Ilmiah Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 7(2), 113–122.
  5. Hakim, A., & Lestari, M. (2021). Pendidikan multikultural dalam membentuk karakter toleran di kalangan mahasiswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 11(1), 45–58. https://doi.org/10.21831/jpk.v11i1.38876
  6. Ismail, H., & Kurniawan, B. (2023). Studi Islam dan moderasi beragama dalam perguruan tinggi Islam. Jurnal Tarbiyah dan Dakwah, 12(2), 201–212.
  7. Putri, L. O., & Dewi, D. A. (2021). Kedudukan Bhinneka Tunggal Ika untuk memperkokoh NKRI di masa pandemi. Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, 10(1), 348–354.
  8. Siregar, B. G., & Lubis, A. (2022). Pengaruh ekspektasi pendapatan dan lingkungan keluarga terhadap minat kewirausahaan mahasiswa. Jurnal Penelitian Ekonomi dan Akuntansi (JENSA), 6(2), 78–91.
  9. Sodikun, A., & Ma’arif, A. M. (2021). Penerapan nilai Islam dalam pembelajaran pendidikan agama Islam di perguruan tinggi. EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan, 19(2), 187–203. https://doi.org/10.1234/edu.2021.19203
  10. Sudirman, Astuty, Kwek, Risandi, & Chanrico. (2021). Sikap toleransi antar budaya di Indonesia. Proceeding National Conference for Community Service Project (NaCosPro), 3(1), 661.
  11. Yusuf, P. (2022). Konsep praktik radikalisme pada mahasiswa (Tesis, UIN Sunan Gunung Djati Bandung).https://etheses.uinsgd.ac.id/56855/1/Pak%20Yusuf

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DPD GAMKI Jawa Barat: Wacana Geser Polri, Ancaman Serius Bagi Supremasi Hukum
Panitia Natal Nasional Bantu Warga Langowan, Manado dan Tomohon
Banjir Bandang Landa Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Akibat Hujan Lebat
Warga Duren Village Tangerang keluhkan Tanggul Terlalu Pendek
19 Tahun Aksi Kamisan Negara Putihkan Pelanggaran HAM Berat
Titik Temu Demitologi dan Teologi dalam Menganalisa Bencana Alam
Mapala Se-Indonesia Dirikan Posko Kemanusiaan, Jalankan 4 Program Tanggap Bencana di Aceh Tengah
‎Mapala Se-Indonesia Tanggap Bencana Banjir Longsor Aceh Tengah
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Januari 2026 - 19:53 WIB

DPD GAMKI Jawa Barat: Wacana Geser Polri, Ancaman Serius Bagi Supremasi Hukum

Senin, 26 Januari 2026 - 20:10 WIB

Panitia Natal Nasional Bantu Warga Langowan, Manado dan Tomohon

Minggu, 25 Januari 2026 - 14:14 WIB

Banjir Bandang Landa Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Akibat Hujan Lebat

Jumat, 23 Januari 2026 - 15:45 WIB

Warga Duren Village Tangerang keluhkan Tanggul Terlalu Pendek

Jumat, 16 Januari 2026 - 14:33 WIB

19 Tahun Aksi Kamisan Negara Putihkan Pelanggaran HAM Berat

Berita Terbaru

Hasil Carabo Cup: Arsenal Menang Tipis 1-0 Atas Chelsea (Foto: The Guardian)

Sepak Bola

Meriam London Singkirkan The Blues Dari Carabao Cup

Rabu, 4 Feb 2026 - 08:46 WIB

The Gunners Pesta Gol di Kandang Leeds United (Foto: DetikSport)

Olahraga

The Gunners Pesta Gol Saat Tandang ke Markas Leeds United

Minggu, 1 Feb 2026 - 19:59 WIB