Batu Goong: Ketika Peninggalan Megalitik Masih “Tersembunyi” di Pandeglang

- Penulis

Selasa, 9 Desember 2025 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Situs Batu Goong

Situs Batu Goong

Oleh: Adi Mohammad Pajar

Di lereng Gunung Pulosari, Pandeglang, berdiri sebuah peninggalan purbakala yang seharusnya lebih sering dibicarakan, namun justru masih seperti bersembunyi dari perhatian publik. Situs Batu Goong bukan hanya sekadar susunan batu tua, melainkan jejak panjang peradaban megalitik yang menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritual yang besar.

Keunikan Batu Goong terletak pada formasi batunya yang menyerupai instrumen gamelan—terutama gong dan kenong. Sebuah keunikan yang jarang ditemukan pada situs megalitik lainnya di Banten. Susunan menhir dan batu-batu pelinggih yang membentuk punden berundak menunjukkan bahwa ruang ini dahulu bukan tempat sembarangan, melainkan lokasi sakral untuk ritual dan pemujaan masyarakat prasejarah.

Sayangnya, kekayaan makna ini belum sepenuhnya menempatkan Batu Goong dalam posisi yang layak di peta kesadaran publik. Statusnya sebagai Cagar Budaya Nasional seolah belum diimbangi dengan upaya sosialisasi dan pengelolaan yang maksimal. Lokasinya yang berada di atas Bukit Kaduguling, dengan akses terbatas, menjadikan Batu Goong sering disebut sebagai “piramida tersembunyi” Pandeglang—indah, bersejarah, tapi sulit dijangkau.

Padahal, temuan arkeologis di sekitar situs ini menunjukkan kesinambungan penggunaan ruang dari masa ke masa. Fragmen keramik Dinasti Song, Ming, hingga Thailand, serta sisa arca dari masa Klasik, memberi sinyal kuat bahwa Batu Goong bukan situs yang mati dalam satu periode sejarah. Ia hidup, berkembang, dan terus dimaknai ulang oleh generasi berikutnya.

Baca Juga :  Aktivis Desak Pemkab Pandeglang Penuhi Hak Pendidikan dan Transparansi Dana Koperasi ASN

Di tingkat lokal, Batu Goong bahkan kerap dikaitkan dengan proses awal penyebaran Islam di wilayah Kaduguling, yang dalam kisah tutur disebut menjadi ruang dialog—bahkan perdebatan—antara Islam dan Buddha. Terlepas dari benar tidaknya seluruh kisah tersebut secara akademik, narasi ini menunjukkan satu hal penting: Batu Goong memiliki posisi sentral dalam ingatan kolektif masyarakat sekitar.

Ironisnya, narasi besar ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi strategi pelestarian yang berpihak pada edukasi publik. Situs ini masih lebih dikenal oleh segelintir peneliti, pegiat budaya, dan masyarakat lokal, daripada menjadi ruang belajar terbuka bagi generasi muda Banten. Padahal, jika dikelola dengan serius, Batu Goong dapat menjadi laboratorium sejarah hidup—di mana pengunjung tidak hanya melihat batu, tapi juga belajar membaca peradaban.

Upaya pemerintah daerah melalui penempatan juru pelihara patut diapresiasi, namun tidak boleh berhenti di situ. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjadikan Situs Batu Goong sebagai ruang kebudayaan yang hidup, bukan sekadar objek yang dijaga. Akses, narasi sejarah, hingga integrasi dengan situs pendukung seperti Situs Citaman perlu dipikirkan secara lebih menyeluruh.

Batu Goong mengingatkan kita bahwa peradaban besar tidak selalu meninggalkan istana megah atau bangunan monumental. Kadang ia hanya hadir dalam bentuk batu-batu sunyi di atas bukit, menunggu untuk dipahami. Persoalannya, apakah kita cukup peduli untuk mendekat, atau justru membiarkannya tetap tersembunyi oleh abai kita sendiri?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEM PTNU Pandeglang dan Forum Genre Sosialisasikan Pencegahan Kenakalan Remaja di Sekolah
Klaim SHGB Dipersoalkan, Warga Rumpaksinang Desak DPRD Buka Fakta
FKIP UNIS Gelar Visiting Lecturer, Perkuat Kompetensi Global Calon Guru Bahasa Inggris
Samsuni Kembali Terpilih Pimpin PK Golkar Kecamatan Benda Periode 2026–2031
PMI Banten Dilantik, Kawal Program Pendidikan Gratis Lewat Posko Aduan ‎
ASN PPPK Teknis Kota Tangerang Gelar Aksi Damai, Sampaikan Aspirasi Demi Keadilan dan Kesejahteraan
‎Poros Baru Tangerang Serukan Mosi Tidak Percaya Terhadap APH
Jamaah Hadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Majelis Hubburrosul Kota Tangerang
Berita ini 40 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 21:23 WIB

BEM PTNU Pandeglang dan Forum Genre Sosialisasikan Pencegahan Kenakalan Remaja di Sekolah

Senin, 20 Juli 2026 - 19:44 WIB

Klaim SHGB Dipersoalkan, Warga Rumpaksinang Desak DPRD Buka Fakta

Senin, 20 Juli 2026 - 14:55 WIB

FKIP UNIS Gelar Visiting Lecturer, Perkuat Kompetensi Global Calon Guru Bahasa Inggris

Minggu, 19 Juli 2026 - 22:39 WIB

Samsuni Kembali Terpilih Pimpin PK Golkar Kecamatan Benda Periode 2026–2031

Minggu, 19 Juli 2026 - 13:51 WIB

PMI Banten Dilantik, Kawal Program Pendidikan Gratis Lewat Posko Aduan ‎

Berita Terbaru