Cilegon, PUSATBERITA – Presiden Prabowo Subianto kembali menarik perhatian publik melalui pidatonya yang blak-blakan saat meresmikan pabrik kimia PT Lotte Chemical di Kota Cilegon, Banten. Dalam pidatonya, Prabowo menyinggung soal budaya politik yang dianggapnya tidak sehat, pemimpin yang “dikuyuk-kuyuk” saat berkuasa dan ditinggalkan setelah lengser.
“Saya lihat ada budaya yang tidak baik, pemimpin di kuyuk-kuyuk, dicari-cari, pada saat berkuasa disanjung-sanjung. Ini budaya apa? Harus kita ubah,” ujar Prabowo lantang di hadapan para tamu dan pejabat daerah, kamis, (6/11/20205).
Pernyataan itu muncul bersamaan dengan klarifikasi kerasnya terkait hubungan dengan Presiden sebelumnya, Joko Widodo. Prabowo menegaskan bahwa dirinya tidak dikendalikan oleh Jokowi, menepis anggapan bahwa ia masih berada di bawah bayang-bayang mantan presiden tersebut.
“Saya bukan Prabowo yang takut sama Jokowi. Pak Jokowi itu nggak pernah nitip apa-apa sama saya. Untuk apa saya takut sama beliau?” tegasnya.
Namun, Prabowo tetap memberi penghormatan atas capaian pemerintahan Jokowi selama satu dekade terakhir. Ia menyebut Jokowi berhasil menjaga stabilitas ekonomi, inflasi rendah, dan pertumbuhan positif, serta diakui dunia internasional.
“Beliau memimpin 10 tahun, diakui dunia. Inflasi di bawah beliau bagus, pertumbuhan bagus. Come on, kita harus yang benar, yang jujur,” lanjutnya.
Meski bernada santai, pidato ini mengandung pesan politik yang tajam. Prabowo tampak ingin menegaskan posisi kemandiriannya sebagai presiden baru, sekaligus mengkritik budaya politik elitis yang kerap menjilat saat berkuasa dan berpaling ketika kehilangan posisi.
Ucapan “saya minta Pak Jokowi diundang” yang diucapkannya di awal pidato juga menyiratkan kerinduan pada etika politik yang lebih terbuka, di mana mantan presiden tetap dihormati tanpa kultus individu atau politik balas budi.











