Terjadi Disparitas Antara Angka Kemiskinan BPS dengan Bank Dunia

- Penulis

Minggu, 27 Juli 2025 - 17:28 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

PUSATBERITA – Data kemiskinan Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Dunia menunjukkan perbedaan signifikan, yang terutama disebabkan oleh perbedaan metodologi dan standar garis kemiskinan yang digunakan.

Garis Kemiskinan yang Berbeda

BPS menggunakan pendekatan Cost of Basic Needs (CBN) dengan garis kemiskinan nasional. Per Maret 2025, standar ini ditetapkan sebesar Rp609.160 per kapita per bulan, didasarkan pada kebutuhan minimum 2.100 kilokalori per hari ditambah pengeluaran non-makanan seperti perumahan, pendidikan, dan kesehatan.

Sebaliknya, Bank Dunia menggunakan standar internasional Purchasing Power Parity (PPP) sebesar US$6,85 per hari untuk negara berpendapatan menengah atas, termasuk Indonesia. Dengan kurs saat ini, standar ini setara dengan pengeluaran sekitar Rp5,9 juta per bulan, jauh di atas garis kemiskinan BPS. Perbedaan standar ini menghasilkan selisih angka kemiskinan yang mencolok 60,3% atau sekitar 171,8 juta jiwa menurut Bank Dunia pada 2024, dibandingkan 8,74% atau 23,85 juta jiwa menurut BPS per Maret 2025.

Baca Juga :  BPS Cilegon Jelaskan Definisi Pengangguran dan Metodologi Penghitungan TPT

Tujuan dan Konteks Pengukuran

Metodologi BPS difokuskan untuk kebijakan nasional, dengan data diambil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang merepresentasikan kondisi spesifik masyarakat Indonesia. Sementara itu, Bank Dunia menetapkan standar global untuk memungkinkan perbandingan antarnegara, meskipun pendekatan ini kerap dinilai kurang sesuai dengan realitas lokal.

Dampak pada Interpretasi Data

Perbedaan ini menimbulkan kesenjangan interpretasi karena banyak penduduk yang tidak dikategorikan miskin oleh BPS, namun masuk dalam kategori miskin atau rentan miskin menurut Bank Dunia. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tingkat kemiskinan nasional terlihat rendah, kerentanan ekonomi masyarakat masih cukup tinggi jika dilihat dari perspektif global.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Warga Batujaya Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Jami Al-Ikhlas
Milad ke-54, Yayasan Da’il Khairaat Perkuat Nilai Religius dan Dorong Prestasi Akademik Siswa
Tiga Camat Dapil 2 Hadiri Kegiatan Penguatan Kesadaran Hukum
RUU Sisdiknas : Janji Pendidikan Merata, Realitas Siapa Yang Tanggung?
LMND Tangerang Gelar Dialog Publik, Bahas Demokrasi dan Arah Pembangunan Kota
Camat Batuceper menghadiri acara peringatan Maulid Nabi di tingkat kelurahan Poris Jaya.
Dugaan Kekerasan Seksual di Sekolah Tangsel, Dela: Sekolah Harus Jadi Ruang Aman
Kronologi Pembunuhan Wanita di Tempat Cuci Steam Cipondoh
Berita ini 8 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:56 WIB

Warga Batujaya Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Jami Al-Ikhlas

Minggu, 4 Oktober 2026 - 13:51 WIB

Milad ke-54, Yayasan Da’il Khairaat Perkuat Nilai Religius dan Dorong Prestasi Akademik Siswa

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 03:04 WIB

Tiga Camat Dapil 2 Hadiri Kegiatan Penguatan Kesadaran Hukum

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:12 WIB

RUU Sisdiknas : Janji Pendidikan Merata, Realitas Siapa Yang Tanggung?

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:37 WIB

LMND Tangerang Gelar Dialog Publik, Bahas Demokrasi dan Arah Pembangunan Kota

Berita Terbaru

Topan Bagaskara (Foto/Dokumen Pribadi)

Opini

TNI, Ruang Sipil, dan Jalan Generasi

Senin, 5 Okt 2026 - 01:20 WIB