CILEGON, PUSATBERITA — Banjir yang merendam Kelurahan Sambirata, Kecamatan Cibeber, pada Minggu (11/1/2026) kembali memperlihatkan lemahnya kesiapsiagaan Pemerintah Kota Cilegon, yang setiap tahunnya dihadapkan oleh bencana musiman. Hujan deras sejak pagi membuat kawasan cepat terendam, namun penanganan pemerintah baru terlihat ketika genangan sudah meninggi dan keluhan warga semakin meluas.
Warga menilai respons pemerintah terlalu lambat dan tidak terencana. “Setiap tahun sama, tidak ada perubahan. Saluran air tidak dibenahi, sungai dibiarkan dangkal,” ujar salah seorang warga. Sejumlah ruas jalan utama bahkan tidak tersentuh petugas hingga sore hari, membuat aktivitas masyarakat lumpuh total.
Wali Kota Cilegon baru meninjau lokasi ketika kondisi sudah terlanjur memburuk. Dalam kunjungannya, ia memberikan instruksi penggunaan peralatan sederhana untuk penanganan banjir. Namun pernyataan tersebut dinilai tidak menyentuh akar persoalan: mengapa kawasan yang sama terus terendam tanpa adanya solusi jangka panjang.
“Pembangunan ini harus meningkatkan kemampuan kita dalam menangani kesulitan. Saya minta tidak hanya alat berat, tapi juga alat sederhana di wilayah tertentu,” ucapnya.
Faktanya, di banyak titik banjir, warga tidak menemukan keberadaan peralatan—baik alat berat maupun peralatan dasar penanganan darurat. Kondisi ini semakin menguatkan kritik bahwa langkah pemerintah hanya bersifat seremonial tanpa kesiapan nyata di lapangan.
Warga juga mempertanyakan komitmen Pemkot Cilegon terkait program normalisasi sungai, perbaikan drainase, dan penanggulangan banjir permanen yang sejak bertahun-tahun hanya menjadi janji tanpa realisasi.
Hingga malam hari, sebagian genangan mulai surut, namun warga masih harus membersihkan rumah, menyelamatkan barang, dan menangani kerusakan secara mandiri. Pemerintah kembali didesak untuk tidak hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi benar-benar memperbaiki sistem mitigasi banjir yang selama ini dianggap gagal memberikan rasa aman bagi masyarakat.











