Tradisi Ngohtay, Penghormatan Tertinggi bagi Lima Generasi dalam Budaya Cina Benteng

- Penulis

Kamis, 9 Juli 2026 - 17:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Proses Tradisi Ngohtay (Foto: Istimewa)

Proses Tradisi Ngohtay (Foto: Istimewa)

KABUPATEN TANGERANG, PUSATBERITA – Bagi sebagian besar masyarakat, kematian identik dengan kesedihan dan suasana berkabung. Namun, bagi masyarakat Cina Benteng, terdapat sebuah tradisi istimewa yang justru memaknai kematian sebagai puncak perjalanan hidup yang patut disyukuri. Tradisi itu dikenal dengan nama Ngohtay, sebuah upacara adat yang hanya dapat diselenggarakan dalam keadaan yang sangat langka.

Ngohtay hanya dilakukan apabila seseorang meninggal dunia setelah menyaksikan lima generasi keturunannya masih hidup dalam satu garis keluarga, yakni dirinya sendiri, anak, cucu, cicit, dan canggah. Kehadiran lima generasi dalam satu masa dipandang sebagai anugerah yang luar biasa, karena melambangkan umur panjang, keluarga yang harmonis, serta keberhasilan meneruskan garis keturunan hingga generasi kelima.

Dalam pandangan masyarakat Cina Benteng, pencapaian tersebut mencerminkan kehidupan yang sempurna atau fu shou—kehidupan yang dianugerahi umur panjang, keturunan yang berlimpah, serta keberkahan yang terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah, prosesi kematian dalam tradisi Ngohtay tidak semata menjadi momen perpisahan, melainkan juga ungkapan syukur atas kehidupan yang dianggap telah mencapai puncak kesempurnaannya menurut adat.

Salah satu simbol paling mencolok dalam upacara ini adalah _kain lima warna_ yang dibentangkan di atas peti jenazah. Lima warna tersebut melambangkan lima generasi dalam satu garis keturunan. Lebih dari sekadar hiasan, kain itu menjadi penanda bahwa kehidupan mendiang telah melahirkan mata rantai keluarga yang terus berlanjut hingga generasi kelima, sekaligus menjadi penghormatan atas warisan yang ditinggalkannya.

Keunikan lain tampak pada kehadiran canggah, yakni keturunan generasi kelima, yang duduk di atas peti jenazah selama prosesi berlangsung. Tradisi ini bukan dimaksudkan sebagai tindakan simbolis semata, melainkan menjadi pernyataan bahwa garis keturunan mendiang tetap hidup dan akan terus berlanjut. Bagi masyarakat Cina Benteng, seseorang yang sempat menyaksikan kelahiran canggah dianggap menerima anugerah yang sangat langka dan menjadi kebanggaan bagi seluruh keluarga.

Baca Juga :  Mahasiswa STISNU Tangerang Resmi Buka KKM di Desa Buaran Bambu

Prosesi penghormatan kemudian dilanjutkan dengan anggota keluarga yang berjalan mengelilingi peti jenazah sebanyak tiga putaran, lalu mengulanginya sekali lagi sehingga seluruh rangkaian berjumlah enam putaran. Setiap langkah menjadi simbol bakti (xiao) kepada orang tua dan leluhur, sekaligus menggambarkan bahwa ikatan keluarga tidak terputus meski kematian telah memisahkan mereka secara fisik.

Nuansa Ngohtay juga berbeda dari upacara kematian pada umumnya. Jika tradisi berkabung lazim menggunakan pakaian putih atau hitam, keluarga dalam upacara Ngohtay justru mengenakan busana berwarna merah. Warna merah dimaknai sebagai lambang kebahagiaan, keberuntungan, dan keberkahan. Pilihan warna tersebut menegaskan bahwa kepergian mendiang bukan hanya menghadirkan duka, tetapi juga menjadi perayaan atas kehidupan yang panjang, penuh berkah, dan berhasil melahirkan generasi penerus hingga lima tingkat keturunan.

Karena syaratnya yang sangat khusus, pelaksanaan Ngohtay tergolong sangat jarang dijumpai. Tidak setiap orang memiliki kesempatan menyaksikan lima generasi keluarganya hidup secara bersamaan. Oleh sebab itu, masyarakat Cina Benteng memandang Ngohtay sebagai bentuk penghormatan tertinggi yang dapat diberikan kepada seseorang di penghujung kehidupannya.

Salah satu pelaksanaan tradisi ini berlangsung dalam upacara kematian Alm. Lie Nari, yang wafat pada usia 98 tahun. Hingga akhir hayatnya, Alm. Lie Nari telah memiliki keturunan sampai generasi kelima atau canggah.

Sebagai bentuk penghormatan, keluarga menyelenggarakan prosesi Ngohtay sesuai adat masyarakat Cina Benteng. Seluruh rangkaian tradisi dijalankan, mulai dari pembentangan kain lima warna di atas peti jenazah, kehadiran canggah yang duduk di atas peti, penggunaan pakaian merah oleh keluarga, hingga prosesi enam putaran mengelilingi peti jenazah sebagai ungkapan bakti, penghormatan, dan rasa syukur atas kehidupan panjang yang telah meninggalkan warisan lintas generasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Camat Batuceper Hadiri Pengukuhan dan Ta’aruf MUI Batuceper Masa Khidmat 2026-2031
Lewat Women from Rote Island, SEMMI Tangerang Soroti Rape Culture dan Victim Blaming
‎Jakarta Ruang Politik Nasional, SEMMI Tangerang Dukung Masyarakat Pati
KKN UCA dan BCA Syariah Dorong Literasi Keuangan Syariah di Cibogo
‎Indonesia Raya 3 Stanza Iringi Pembentangan Merah Putih Raksasa di Situ Gintung
Paguyuban RT 001 Cipete Rayakan HUT ke-81 RI, Karnaval hingga Cek Kesehatan
Rayakan HUT ke-81 RI, Universitas Yatsi Madani Perkuat Komitmen Cetak Generasi Unggul dan Nasionalis
Wali Kota Cup II Berhadiah Miliaran, Pengamat Ungkap Aturan PB PGI
Berita ini 101 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 10:32 WIB

Camat Batuceper Hadiri Pengukuhan dan Ta’aruf MUI Batuceper Masa Khidmat 2026-2031

Jumat, 21 Agustus 2026 - 15:13 WIB

‎Jakarta Ruang Politik Nasional, SEMMI Tangerang Dukung Masyarakat Pati

Kamis, 20 Agustus 2026 - 19:44 WIB

KKN UCA dan BCA Syariah Dorong Literasi Keuangan Syariah di Cibogo

Senin, 17 Agustus 2026 - 13:35 WIB

‎Indonesia Raya 3 Stanza Iringi Pembentangan Merah Putih Raksasa di Situ Gintung

Senin, 17 Agustus 2026 - 11:54 WIB

Paguyuban RT 001 Cipete Rayakan HUT ke-81 RI, Karnaval hingga Cek Kesehatan

Berita Terbaru

Ilustrasi: pusat-berita.com/Ai

Opini

‎Bandung Lautan Api: Prabowo dan Moral Hazard Kekuasaan

Selasa, 25 Agu 2026 - 13:04 WIB