YouTube Perketat Aturan, Konten AI Tanpa Unsur Kreatif Tak Bisa Monetisasi

- Penulis

Sabtu, 12 Juli 2025 - 01:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PUSATBERITA – Mulai 15 Juli 2025 nanti platform media sosial terbesar dunia, YouTube, akan memperlakukan tegas terhadap pengguna kecerdasan buatan (AI) dalam memproduksi konten.

Dalam panduan terbaru yang dirilis tahun ini, YouTube menyatakan bahwa konten yang sepenuhnya dihasilkan oleh AI tidak memenuhi syarat untuk dimonetisasi.

Langkah ini menjadi sorotan publik di tengah maraknya penggunaan AI generatif seperti video deepfake, narasi suara buatan, hingga visual animasi otomatis yang dibuat tanpa campur tangan kreatif manusia.

YouTube ingin lebih tegas jenis konten yang layak di uangkan, namun tidak seperti konten daur ulang, suara AI tempelan, atau tayangan minim nilai orisinal bakal makin sulit untuk di monetisasi.

Dilansir dari pihak YouTube, menyatakan bahwa aturan ini bukan hal baru tapi yang penting ‘Penegasan nya’. Karena platform ini sudah dibanjiri oleh “AI Slop” karena YouTube ingin menjaga keaslian konten daripada hasil sulapan AI.

Kebijakan Ini Tuai Beragam Respons

Banyak kreator konten menyambut kebijakan ini sebagai bentuk perlindungan terhadap karya orisinal. Di sisi lain, sebagian kreator yang mengandalkan AI merasa dibatasi, terutama mereka yang menggunakan AI untuk menghasilkan konten cepat dalam jumlah besar.

Baca Juga :  Momentum Idul Fitri 1447 H, Ketum PB PII Ajak Kader Perkuat Persatuan

Namun demikian, YouTube menegaskan bahwa penggunaan AI sebagai alat bantu masih diperbolehkan. Monetisasi tetap dimungkinkan selama ada campur tangan kreatif manusia yang signifikan dalam proses pembuatan video.

Menghindari Banjir Konten “Kosong”

Langkah tegas ini juga dilatarbelakangi oleh kekhawatiran akan membanjirnya video-video tanpa nilai kreatif yang hanya dibuat untuk mengejar pendapatan. Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat peningkatan signifikan terhadap konten bertema “AI-generated storytelling” yang seringkali minim kualitas.

Para pakar menilai, jika hal ini dibiarkan, kualitas konten YouTube bisa menurun drastis dan merugikan ekosistem kreator secara keseluruhan.

Ini juga bukan soal teknologi, tapi soal etika dan keadilan. Jika AI bisa dimonetisasi seperti manusia, maka kita sedang menciptakan sistem yang tidak seimbang.

Era AI, Etika Digital Jadi Penting

YouTube berharap keputusan ini menjadi rambu etik bahwa teknologi, sehebat apapun, tidak boleh menghilangkan peran manusia dalam proses kreatif. AI tetap bisa menjadi alat bantu yang mempercepat produksi, tapi nilai sebuah karya tetap bergantung pada ide, narasi, dan sentuhan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Efek Program MBG Guru Hilang Kontrak Hingga Digaji Rp50 Ribu
BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan
Pengamat: Tekanan Ekonomi Semakin Besar di Tengah Naiknya Harga BBM
Beroepaya Hadirkan Urban Bolang Vol. 6, Tebar Manfaat di Kasepuhan Cibedug
SEMMI Tangerang: Pergantian Kepala BGN Lebih Tepat Disebut Politik Promosi
‎Harga BBM Juni 2026: Pertamax Turbo Tembus Rp20.750 per Liter
LBH GP Ansor Pusat Desak Penahanan Tersangka Kasus Penganiayaan Banser Rida
‎BEM UIC Soroti Prabowo Pertahankan Listyo Sigit di Tengah Kritik Publik
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 15 Juni 2026 - 19:27 WIB

Efek Program MBG Guru Hilang Kontrak Hingga Digaji Rp50 Ribu

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:18 WIB

BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:15 WIB

Pengamat: Tekanan Ekonomi Semakin Besar di Tengah Naiknya Harga BBM

Rabu, 3 Juni 2026 - 15:30 WIB

Beroepaya Hadirkan Urban Bolang Vol. 6, Tebar Manfaat di Kasepuhan Cibedug

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:56 WIB

SEMMI Tangerang: Pergantian Kepala BGN Lebih Tepat Disebut Politik Promosi

Berita Terbaru

Abdul Hakim, Direktur Center for Resistance and Liberation Studies STISNU Nusantara Kota Tangerang (foto/istimewa)

Opini

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:51 WIB