Tekad Tanjiro dan Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Bangkit Tanpa Mengemis

- Penulis

Minggu, 17 Agustus 2025 - 15:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Achmad Tedy Alfadillah PK SEMMI Madani (Dok. Istimewa)

Achmad Tedy Alfadillah PK SEMMI Madani (Dok. Istimewa)

Oleh: Achmad Tedy Alfadillah | Kader PK SEMMI Madani Tangerang


Kisah Tanjiro Kamado dalam anime Demon Slayer tidak sekadar cerita fiksi tentang perburuan iblis. Di balik adegan penuh aksi dan emosi, terselip pesan moral yang sangat relevan, bahkan bisa menjadi cerminan bagi kondisi bangsa Indonesia yang telah menginjak usia 80 tahun kemerdekaannya.

Dalam salah satu momen paling emosional, Tanjiro menemukan seluruh keluarganya tewas dibantai iblis, hanya menyisakan sang adik, Nezuko, yang berubah menjadi iblis. Dalam kondisi putus asa, ia mencoba mempertahankan adiknya dari seorang pemburu iblis. Tanjiro bersujud, memohon agar Nezuko tidak dibunuh. Namun respons yang ia terima begitu tegas dan menyentak: “Apakah dengan engkau mengemis bisa mengembalikan keluargamu yang telah tiada?”

Ucapan itu mengandung pelajaran besar. Bahwa tangisan, ratapan, bahkan permohonan sekalipun tidak akan mengubah keadaan kecuali dibarengi dengan usaha nyata dan kegigihan yang tak tergoyahkan. Tanjiro, meski tak sekuat lawannya, memilih bangkit dan melawan demi satu-satunya harapan yang tersisa: menyelamatkan Nezuko dan mengembalikannya menjadi manusia.

Kisah ini bisa menjadi cermin bagi Indonesia hari ini. Setelah 80 tahun merdeka, kita masih dihadapkan pada berbagai tantangan: kemiskinan, ketimpangan sosial, krisis lingkungan, hingga korupsi. Pertanyaannya, apakah kita hanya akan terus mengeluh, menyalahkan masa lalu, atau berharap pada bantuan asing. ataukah kita memilih untuk bangkit, seperti Tanjiro, dan menghadapi realitas dengan kerja nyata?

Baca Juga :  Moment Kemerdekaan, Bupati Tangerang Ajak Jaga Persatuan Dan Pembangunan Kabupaten Tangerang

Kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari penjajah. Ia adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa kita mampu berdiri di atas kaki sendiri. Namun jika setelah 80 tahun kita masih bergantung pada pihak lain, masih berharap pada belas kasihan dunia luar, maka itu bukan kemerdekaan sejati.

Kita, sebagai bangsa, perlu belajar dari tekad Tanjiro. Ia tidak meminta dunia bersimpati atas penderitaannya. Ia memilih untuk berjuang, walau nyaris tanpa kekuatan. Ia percaya bahwa perubahan tidak datang dari belas kasihan orang lain, melainkan dari keteguhan hati dan tindakan nyata.

Indonesia adalah bangsa besar dengan potensi luar biasa. Tapi potensi itu tak akan pernah menjadi kenyataan jika kita hanya terus mengemis solusi, tanpa keberanian untuk bertindak, tanpa kegigihan untuk berubah. Kemerdekaan harus terus diperjuangkan, bukan lagi dari penjajahan fisik, tetapi dari mentalitas ketergantungan dan budaya pasrah.

Semoga, di usia 80 tahun kemerdekaan ini, Indonesia bisa meneladani semangat Tanjiro: berani kehilangan, tapi tidak pernah menyerah. Karena kemajuan bukan milik mereka yang hanya menangis, tapi milik mereka yang terus berjuang.


Artikel Lain: Tekad Tanjiro: Pelajaran Tentang Kegigihan Ditengah Keputusasaan

Satu tanggapan untuk “Tekad Tanjiro dan Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Bangkit Tanpa Mengemis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Fenomena Kesehatan Mental Tren Dalam Media Sosial
Hari Perempuan Sedunia: BEM PTNU Banten Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Perempuan dan Minimnya Keterwakilan Politik
Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi: Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah STISNU Nusantara Tangerang Gelar PPL di MI Raudhatul Jannah
Indonesia dan Board Of Peace : Inisiatif Trump Yang Membuat Prabowo Blunder
Perang Iran dan Ujian bagi Imperium Amerika
Evaluasi menyeluruh 1 Tahun Kepemimpinan Gubernur Banten Andra Soni dan Dimyati
Evaluasi Kebijakan Pendidikan di Era Kepemimpinan Andra Soni: Capaian, Tantangan, dan Arah Perbaikan
BEM PTNU Wilayah Banten: Satu Tahun Kepemimpinan Gubernur Banten dan Krisis Tata Kelola Lingkungan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 Maret 2026 - 03:49 WIB

Hari Perempuan Sedunia: BEM PTNU Banten Soroti Tingginya Kekerasan terhadap Perempuan dan Minimnya Keterwakilan Politik

Sabtu, 7 Maret 2026 - 22:35 WIB

Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi: Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah STISNU Nusantara Tangerang Gelar PPL di MI Raudhatul Jannah

Jumat, 6 Maret 2026 - 02:36 WIB

Indonesia dan Board Of Peace : Inisiatif Trump Yang Membuat Prabowo Blunder

Kamis, 5 Maret 2026 - 21:59 WIB

Perang Iran dan Ujian bagi Imperium Amerika

Sabtu, 21 Februari 2026 - 00:56 WIB

Evaluasi menyeluruh 1 Tahun Kepemimpinan Gubernur Banten Andra Soni dan Dimyati

Berita Terbaru

Pakar ekonomi, Ferry Latuhihin terang-terangan membantah narasi pemerintah yang mengklaim MBG sebagai investasi (foto: istimewa).

Pilihan Redaksi

‎Kritik Program MBG Bakar Duit, Krisis 1998 Mengintai

Selasa, 10 Mar 2026 - 17:08 WIB

Anggota DPR RI, Mukhtaruddin Ashraff Abu (Foto: Istimewa)

Nasional

Mahasiswa Unusia Laporkan Mukhtaruddin Ashraff ke MKD

Senin, 9 Mar 2026 - 19:39 WIB

Ketua Umum KB PII, Nasrullah Larada Saat Berikan Sambutan dalam Penutupan INRA EXPO KB PII 2026 (Foto: Agung/Pusat-Berita)

Nasional

INRA Expo KB PII Tahun 2026 Resmi di Tutup

Senin, 9 Mar 2026 - 19:08 WIB

Redaksi Media Posbanten.com menggelar Buka Puasa Bersama (Bukber) dan Santuan di wilayah Kelurahan Sumur Pacing Kecamatan Karawaci (Foto: Istimewa)

Banten

Gelar Buka Puasa Bersama: Sebagai Wujud Kepedulian Sosial

Senin, 9 Mar 2026 - 01:34 WIB