Anak Anggota DPRD Banten Jadi Korban Pengeroyokan, Polisi Ditantang Ungkap Pelaku

- Penulis

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 08:35 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Putra Anggota DPRD Provinsi banten, Terbaring lemas di Rumah Sakit, Usai Diduga di Pukuli (Doc. Ist/Pb)

Putra Anggota DPRD Provinsi banten, Terbaring lemas di Rumah Sakit, Usai Diduga di Pukuli (Doc. Ist/Pb)

JAKARTA, PUSATBERITA – Malam yang semula dijalani Aniendya Hegel Pratama (20) untuk mengerjakan tugas berujung pada dugaan pengeroyokan di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.

Anak anggota DPRD Banten dari Fraksi PKB, Syarifudin Salwani, itu mengaku dipukul sejumlah orang hingga mengalami luka dan pembengkakan pada bagian wajah. Aniendya bahkan sempat kehilangan kesadaran dalam insiden tersebut.

Kasus ini telah dilaporkan ke Polres Metro Jakarta Selatan. Dalam laporan tersebut, seorang pria berinisial IRD tercatat sebagai terlapor bersama sejumlah orang lainnya.

Laporan itu tertuang dalam Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL) Nomor LP/B/3374/VIII/2026/SPKT/POLRES METRO JAKSEL/POLDA METRO JAYA.

Aniendya melaporkan dugaan tindak pidana pengeroyokan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 262 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Berawal dari Pertemuan di Ampera

Menurut Syarifudin, peristiwa tersebut bermula ketika Aniendya berada di kawasan Ampera pada Selasa (25/8/2026) sore untuk mengerjakan tugas.

Sekitar pukul 23.00 WIB, Aniendya bertemu dengan seorang seniornya yang datang bersama seorang perempuan. Dalam percakapan tersebut, nama IRD sempat disebut.

Syarifudin mengatakan, Aniendya tidak mengetahui bahwa perempuan yang datang bersama seniornya tersebut merupakan keponakan IRD.

Persoalan kemudian berlanjut. Sekitar pukul 01.00 WIB, Aniendya disebut menerima pesan dari IRD yang mempertanyakan pembicaraan yang sebelumnya terjadi.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Aniendya kemudian memilih bertemu secara langsung dengan IRD di kawasan Kalibata. Namun, menurut Syarifudin, IRD datang tidak seorang diri.

Sekitar pukul 04.00 WIB, IRD tiba bersama sejumlah orang. Aniendya memperkirakan terdapat sekitar tiga mobil dengan jumlah orang sekitar delapan orang.

Pertemuan yang semula berlangsung dalam percakapan kemudian berubah tegang.

Salah seorang teman Aniendya berteriak dan menyebut adanya senjata api. Mendengar hal tersebut, Aniendya bersama temannya memilih meninggalkan lokasi karena merasa takut.

Baca Juga :  Aktivis Banten Sebut Pemekaran Tangerang Raya Setara Jakarta

Korban Terjatuh dan Diduga Dipukuli

Saat berusaha meninggalkan lokasi, Aniendya terjatuh. Dalam kondisi tersebut, sejumlah orang yang datang bersama IRD diduga menghampiri dan melakukan pemukulan.

“Saat anak saya jatuh, kemudian dipukul beberapa orang. Kejadiannya cepat sekali sampai anak saya tidak sadarkan diri,” kata Syarifudin.

Setelah tersadar, Aniendya mendapati wajahnya dalam kondisi berdarah. Ia juga mengalami sejumlah luka dan pembengkakan pada bagian tubuhnya.

Aniendya kemudian mendapatkan pertolongan medis dan menjalani visum untuk kepentingan proses hukum.

Minta Polisi Ungkap Seluruh Pihak yang Terlibat

Syarifudin meminta kepolisian tidak berhenti pada penerimaan laporan, tetapi mengusut secara menyeluruh rangkaian kejadian tersebut.

Ia meminta penyidik mengidentifikasi seluruh orang yang datang ke lokasi, termasuk mengungkap siapa yang diduga melakukan pemukulan serta peran masing-masing pihak.

“Saya meminta polisi mengusut tuntas kejadian ini dan menangkap pelaku pengeroyokan terhadap anak saya,” tegas Syarifudin.

Syarifudin menyebut terdapat dua orang saksi yang dapat memberikan keterangan kepada penyidik. Selain itu, rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar lokasi diharapkan dapat menjadi petunjuk dalam mengungkap kejadian tersebut.

Menurut dia, rekaman CCTV dapat membantu penyidik memastikan rangkaian peristiwa, mulai dari kedatangan sejumlah orang ke lokasi hingga kejadian setelah Aniendya terjatuh.

Syarifudin mengatakan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. Ia berharap seluruh keterangan yang disampaikan dapat diuji dengan bukti yang tersedia, termasuk hasil visum, keterangan saksi, dan rekaman CCTV.

“Biarkan penyidik bekerja berdasarkan bukti yang ada. Kami berharap perkara ini diusut secara transparan dan siapa pun yang terbukti terlibat diproses sesuai hukum,” ujarnya.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AMPIA Desak BKN Periksa dan Nonaktifkan Sementara Rizka Zamzami
Pemuda Muslim Banten Pertanyakan Anggaran Fantastis Pada Lomba Kanvas Gemilang 2026
Gaet Milenial, DPC PKB Kota Tangerang Siapkan Program Olahraga hingga Kegiatan Sosial
Dinkes Kota Tangerang: Kenali Gejala Gangguan Kesehatan Akibat Abu Vulkanik
Creative Space KMHDI Diresmikan Menpora Erick Thohir, Jadi Rumah Juang Kader Hindu se-Indonesia
Tanwir IMM XXXIV di Kota Tangerang Ricuh, Musyawirin Desak Transparansi Penetapan waktu Muktamar
KSP Temukan Persoalan Program Pemerintah di Buton Utara
Launching Nawal Institute Soroti Persoalan Sungai Cisadane
Berita ini 20 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 02:10 WIB

AMPIA Desak BKN Periksa dan Nonaktifkan Sementara Rizka Zamzami

Senin, 7 September 2026 - 18:13 WIB

Pemuda Muslim Banten Pertanyakan Anggaran Fantastis Pada Lomba Kanvas Gemilang 2026

Minggu, 6 September 2026 - 20:41 WIB

Gaet Milenial, DPC PKB Kota Tangerang Siapkan Program Olahraga hingga Kegiatan Sosial

Minggu, 6 September 2026 - 14:02 WIB

Dinkes Kota Tangerang: Kenali Gejala Gangguan Kesehatan Akibat Abu Vulkanik

Jumat, 4 September 2026 - 20:41 WIB

Creative Space KMHDI Diresmikan Menpora Erick Thohir, Jadi Rumah Juang Kader Hindu se-Indonesia

Berita Terbaru