Kaderisasi PMII: Antara Nilai Ideologi dan Rutinitas Formal

- Penulis

Senin, 22 Desember 2025 - 14:57 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilham Rizafi, Sekbid Kaderisasi PMII Kota Tangerang (Doc. Ist)

Ilham Rizafi, Sekbid Kaderisasi PMII Kota Tangerang (Doc. Ist)

TANGERANG, PUSAT BERITA – Kaderisasi merupakan jantung dari keberlangsungan organisasi pergerakan. Bagi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), kaderisasi bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang ideologis untuk menanamkan nilai, membentuk watak, dan menyiapkan generasi yang mampu membaca zaman. Namun hari ini, kaderisasi PMII menghadapi tantangan serius: antara menjaga substansi ideologis atau terjebak dalam rutinitas formal yang perlahan kehilangan ruh.

Di banyak tempat, kaderisasi kerap direduksi menjadi kegiatan administratif. Orientasi kelulusan lebih diutamakan daripada proses pematangan kesadaran. Materi disampaikan, absensi diisi, sertifikat dibagikan, namun nilai sering kali tidak benar-benar bersemayam dalam diri kader. Padahal, PMII lahir dari rahim sejarah panjang pergulatan pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, nasionalisme, serta keberpihakan pada kaum mustadh’afin.

Kaderisasi sejatinya adalah proses dialektika. Ia menuntut ruang diskusi yang hidup, keberanian berpikir kritis, dan keteladanan struktural. Nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemahasiswaan tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi harus dihidupi dalam sikap dan tindakan. Ketika kaderisasi kehilangan daya kritisnya, maka yang lahir bukan kader ideologis, melainkan kader seremonial hadir dalam struktur, tetapi absen dalam perjuangan.

Sekretaris Bidang Kaderisasi PC PMII Kota Tangerang, **Ilham Rizafi**, menekankan bahwa keberhasilan kaderisasi tidak bisa dibebankan pada satu sektor organisasi semata.

“Kaderisasi bukan semata tanggung jawab bidang kaderisasi, melainkan kerja kolektif seluruh struktur yang harus ditopang oleh keteladanan pengurus,”

Baca Juga :  Dinsos Kota Tangerang Buka Pendaftaran Pelatihan Cukur Rambut Gratis

Lebih jauh, tantangan kaderisasi PMII hari ini juga datang dari perubahan zaman. Generasi mahasiswa hidup dalam arus digital, pragmatisme, dan krisis keteladanan. Jika metode kaderisasi tidak mampu beradaptasi tanpa meninggalkan ideologi, maka PMII berisiko kehilangan relevansinya di tengah generasi yang seharusnya dirawat dan dibesarkan.

PMII perlu kembali menegaskan bahwa kaderisasi adalah proses panjang, bukan produk instan. Ia menuntut konsistensi nilai, kesungguhan proses, serta keberanian menjaga marwah organisasi. Keteladanan pengurus menjadi materi paling nyata dalam setiap proses kaderisasi, karena nilai paling efektif tidak selalu diajarkan, tetapi dicontohkan.

Di tengah situasi sosial-politik yang semakin kompleks, PMII dituntut melahirkan kader yang tidak hanya cakap berbicara, tetapi juga tajam membaca realitas dan berani berpihak. Kaderisasi yang kuat akan melahirkan kader yang mampu berdiri tegak, tidak mudah larut dalam pragmatisme kekuasaan, dan tetap berakar pada nilai perjuangan.

Menjaga kualitas kaderisasi berarti menjaga masa depan PMII. Sebab organisasi ini tidak akan besar hanya karena jumlah kadernya, tetapi karena kedalaman kesadaran dan keteguhan nilai yang dipegang oleh setiap kadernya. Di situlah kaderisasi PMII menemukan makna sejatinya: sebagai jalan sunyi untuk merawat ideologi dan menyiapkan kader pejuang, bukan sekadar penggugur kewajiban struktural.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Aliansi Pemuda Laporkan Dugaan Pembubaran Ibadah ke Polresta Tangerang
Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah
Komite Perempuan SEPETA Dorong Perlindungan Pekerja Transportasi Online Perempuan
BMM Salurkan Air Bersih Pada Warga, Akibat 5 Bulan Kesulitan Dapatkan Air Bersih Karena Dampak El Nino
Tim Kuasa Hukum Dorong Perlindungan Korban dan Ajukan Amicus Curiae dalam Kasus Kekerasan Seksual Santriwati
Ibadah GKPI Mauk-Sepatan Dibubarkan, Jemaat Diancam Sajam
Cegah DBD, Rapid Indonesia Gelar Fogging di Graha Yadika
Kantor Notaris dan PPAT Anita Rohmah Gandeng Damkar dan Rapid Indonesia Edukasi Keselamatan Kebakaran
Berita ini 98 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 05:06 WIB

Aliansi Pemuda Laporkan Dugaan Pembubaran Ibadah ke Polresta Tangerang

Senin, 21 September 2026 - 18:25 WIB

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah

Senin, 21 September 2026 - 15:33 WIB

Komite Perempuan SEPETA Dorong Perlindungan Pekerja Transportasi Online Perempuan

Senin, 21 September 2026 - 12:43 WIB

BMM Salurkan Air Bersih Pada Warga, Akibat 5 Bulan Kesulitan Dapatkan Air Bersih Karena Dampak El Nino

Minggu, 20 September 2026 - 20:14 WIB

Tim Kuasa Hukum Dorong Perlindungan Korban dan Ajukan Amicus Curiae dalam Kasus Kekerasan Seksual Santriwati

Berita Terbaru

Ilustrasi Satpol PP Kabupaten Tangerang

Banten

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah

Senin, 21 Sep 2026 - 18:25 WIB