Oleh Topan Bagaskara| Pembelajar Sepanjang Hayat
Kebahagiaan adalah tujuan akhir dari segala aktivitas, segala daya upaya, segala pergumpulan dan perjuangan dalam hidup ini. Adakah makhluk di muka bumi ini yang tidak mendambakan kebahagiaan? Adakah makhluk yang menginginkan penderitaan? Dalam hal ini saya rasa hampir semua orang sepakat bahwa kebahagiaan adalah dambaan dari semua makhluk. Memang, setiap manusia memiliki cara dan menilai ihwal memaknai tentang kebahagiaan. Namun segala perbedaan itu semua tetap melibatkan gerakan hati yang sama dalam mendambakan kebahagiaan.
Coba pikirkan sejenak apa yang sedang menjadi pergumulan Anda saat ini. Apakah sedang menyelesaikan studi? Apakah sedang membesarkan anak? Apakah sedang melakoni karier? Atau apakah sedang mencari pasangan? Apa pun yang sedang dilakoni, bukankah pada akhirnya semua pergumulan itu semata-mata akan bermuara pada kebahagiaan?
Bahkan seseorang yang gemar membuat kejahatan, atau tindakan yang keji, ia pun sebenarnya sedang mencari kebahagiaan? Sekalipun pemikiran mereka tentang kebahagiaan sangatlah keliru sehingga yang timbul dipermukaan adalah penderitaan yang besar, tidak hanya bagi orang lain tetapi juga bagi dirinya sendiri.
Salah satu pertanda penting bahwa kebahagiaan yang sedang diupayakan oleh seseorang adalah kebahagiaan yang ia cari merupakan sebuah tujuan akhir. Artinya, tidak ada lagi tujuan yang hendak diupayakan selain tujuan kebahagiaan itu sendiri. Semua tujuan lain yang bukan kebahagiaan adalah tujuan sementara yang diperjuangkan. Misal, seorang mahasiswa sedang menekuni studinya untuk dia kelak mendapat karir yang sangat baik. Seorang karyawan sangat keras bekerja supaya ia dapat memperoleh materi dan perlindungan atau rasa aman bagi sanak keluarga dan lain sebagainya.
Kebahagiaan yang sejati, selalu merupakan tujuan akhir, seperti dapat dicontohkan dari para sesepuh Buddha yang mengatakan bahwa seseorang telah sampai pada kebahagiaan, salah satu tandanya adalah adanya suatu pembebasan, suatu kedamaian yang penuh, karena tidak ada lagi yang harus dilakukan, tidak ada lagi yang harus dicapai, tidak perlu lagi pergi ke manapun.
Saat seseorang mengalami pembebasan itu, ia dapat masuk ke dalam perhentian, ke dalam istirahat yang sejati, ke dalam kedamaian penuh, ke dalam kekekalan. Ia memang masih berkecimpung di dunia dengan segala kesibukan dan hiruk-pikuk yang ada, tetapi beragam dunia tak lagi mampu mengotori batinnya, tak lagi dapat mengganggu kedamaian hatinya.
Berbagai agama, spiritualitas, dan filsafat punya ajaran masing-masing yang berbeda-beda, bahkan bisa jadi terkesan saling bertolak belakang. Akan tetapi, bila ditelaah pada tujuan akhirnya, sebenarnya mengandung benang merah yang mempersatukan hal-hal tersebut, yaitu everyone, even every creatures seeking for something better in life, they are seeking happiness.
Editor: Devis Mamesah











