Melebarkan Konsolidasi Pergerakan dengan Sosial Media

- Penulis

Senin, 24 Februari 2025 - 08:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi aktivisme digital. | Sumber Gambar: DailyBruin/Ludi Zhu - Kompasiana.com/David Abdullah

Ilustrasi aktivisme digital. | Sumber Gambar: DailyBruin/Ludi Zhu - Kompasiana.com/David Abdullah

PUSATBERITA – Perkembangan komunikasi digital dengan media sosial (medsos) telah menambah bentuk penyampaian informasi masyarakat, saat ini makin masif menyebut diri sebagai “netizen”. Istilah yang digabungkan dari kata “internet” dan “citizen” [warga negara internet].

Karena keterbatasan jaringan dengan jurnalis atau wartawan, pola dalam penyampaian gagasan oleh kelompok aktivis atau aliansi kerakyatan merambah juga pada zona medsos yang lebih praktis dan subjektif tanpa keterikatan etik pers.

Pola digital movement sangat bermanfaat ditengah kewaspadaan jurnalistik yang terkekang pada “kebebasan pers” yang dituntut “objektif”, pedoman pada dunia jurnalistik terkadang memberi ketidakpuasan masyarakat tertindas. Media terkadang dianggap pesanan pemerintah —pisau pemberitaan terkadang menuduh aksi massa sebagai gerakan anarkis.

Namun, tentulah aksi massa yang tidak direspon baik akan menunjukkan luapan atas kebijakan tak pro-populis. Meski tak pantas [mental yang tertinggal pada masa penjajahan yang masih lekat pada alam sosial kita] dalam ranah etik. Sekali lagi, apa yang bisa menenangkan para massa yang terbawah keruh kekecewaan?

Jika melihat pola pergerakan saat ini begitu gesit dan cepat membludak, seperti aksi kawal putusan MK (Mahkamah Konstitusi) untuk putusan 60/70 pada 20 Agustus 2024, konsolidasi massa dilakukan secara singkat dengan peringatan darurat “Garuda Biru”.

Terbukti, aksi tersebut mendapat perhatian pemerintah pusat. Upaya anulir oleh parlemen [DPR melalui Badan Legislasi] dengan merevisi Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah berhenti, gelombang aksi juga tidak berlanjut berhari-hari seperti biasa.

Kemenangan aksi massa ini menggalang simpatik rakyat, ditambah dengan aksi beruntun untuk penolakan kenaikan PPN (Pajak Pertambahan Nilai) 12%. Meski hasilnya sampai hari ini masih ambigu sebab harga pasar sudah naik terpengaruh pada isu kenaikan sebelum dinaikan PPN dari 11% ke 12%.

Baca Juga :  Marwah Bukan Tameng Kekuasaan, SEMMI Harus diselamatkan dari Feodalisme Baru

Konsolidasi gerakan bulan ini penuh menggunakan grand rumour [isu utama] yang dikencangkan dengan berbagai hashtag atau tagar, yang dimulai dari # Adili Jokowi, # Kabur Aja Dulu, sampai # Indonesia Gelap. Semua penyampaian instan ini menandakan aliansi rakyat telah belajar mengkonsolidasikan netizen seluruh Indonesia.

Pengalaman baru konsolidasi digital ini tidak hanya dalam negeri, tetapi juga sampai luar negeri. Migran warga Indonesia berbondong-bondong mendukung gerakan ini, agar para pejabat eksekutif memperhatikan potensi anak muda dengan tagar “Kabur Ajah Dulu”, peringatan kenetralan penegakan hukum dengan tagar “Adili Jokowi”, sampai keresahan kebijakan yang menanggalkan program kesejahteraan berdalih efisiensi dengan tagar “Indonesia Gelap”.

Meski Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, sudah menemui aksi bertajuk Indonesia Gelap pada Kamis, 20 Februari kemarin menerima tuntutan yang disampaikan mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) —aksi massa masih terus berlanjut sebagai pola pengawalan isu direalisasi.

Berganti era pemerintahan meski saat pemilihan umum (Pemilu 14 Februari) Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran menggalang 58% suara, tidak membuktikan masyarakat puas akan kebijakan-kebijakannya. Meski ada ketidakstabilan secara politik ini diharap tidak menghambat perkembangan ekonomi.


Artikel Lain : Petualangan Kepemimpinan di Outing Class SMP IT Birrul Walidain

Satu tanggapan untuk “Melebarkan Konsolidasi Pergerakan dengan Sosial Media”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kekuasaan Tanpa Koreksi: Jalan Sunyi Menuju Krisis Demokrasi 
Trump, Iran, dan Mitos Kemenangan Instan
Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis
Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian
‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan
7 Dekade SEMMI: Mengukuhkan Khitah Ideologi dan Kedaulatan Ekonomi Organisasi
Aktivis HAM Diserang, Demokrasi Hanya Omon-omon
PMII di Persimpangan Jalan: Organisasi Kader atau Alat Manuver Politik
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 April 2026 - 13:29 WIB

Kekuasaan Tanpa Koreksi: Jalan Sunyi Menuju Krisis Demokrasi 

Sabtu, 28 Maret 2026 - 19:09 WIB

Trump, Iran, dan Mitos Kemenangan Instan

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:23 WIB

Negara, Propaganda, dan Publik yang Semakin Kritis

Kamis, 26 Maret 2026 - 16:12 WIB

Prabowo Dalam Arus: Paranoid dan Totalitarian

Selasa, 24 Maret 2026 - 22:32 WIB

‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan

Berita Terbaru