Garry Vebrian
Dosen Fakultas Kesehatan
Universitas Yatsi Madani
Suatu hari, 1 Mei lalu, yah 1 Mei 2026 beberapa hari yang lalu, Presiden Prabowo “merayakan” Hari Buruh dengan gegap gempita, bukan hanya 200 ribu kaos diberikan dan disebarkan pada saat perayaan tersebut.
Tapi kebijakan populis yang membuat banyak buruh merasa “menang” atas kebijakan yang langsung diberikan presiden; sebut saja cicilan KPR sampe 40 tahun dan potongan bagi hasil ojol 8% dari aplikator yang sebelumnya 20% lebih. “Kita menang”, kata sebagian mereka.
Ilusi hidup enak, bisa punya peluang memiliki rumah dengan durasi cicilan yang panjang, artinya cicilannya ringan alias murah kan?Mereka bernyanyi atas perayaan tersebut, dan berjoget yang membuat adrenalin Presiden makin membara dengan khas pidato-pidato heroiknya.
Oke, mari kita skip dulu soal perayaan itu, entah Anda mau menyebut apa peraayaan itu, terserah Anda. Tapi mari kita lihat sehari setelah 1 Mei, yah 2 Mei, tanggal yang ditandai dengan Hari Pendidikan Nasional. Ironi muncul disini, 1 Mei, Preiden haadir pada pesta meriah tersebut, lalu 2 Mei, Presiden mengadakan rapat tertutup di Hambalang membahas pendidikan dan perkembangan geopolitik dengan beberapa pejabat negara.
Pertanyaannya, apa yang bisa dihasilkan dari rapat tertutup tersebut? Sejujurnya saya juga tidak mau tahu apa aja hasil rapat tertutup itu. Toh setelah rapat pasti press rilisnya tidak jauh berbeda yang sudah-sudah, “pemerintah selalu berkomitmen terhadap pendidikan dengan bla bla lalu bla bla dan ditutup bla bla” tanpa angka, target, timeline dan akuntabilitas.
Muak? Iyah muak, tapi yang ingin saya tanyakan adalah; Kenapa tidak ada pidato heroik dan kebijakan langsung oleh Presiden di depan para guru, siswa dan mahasiswa untuk masa depan pendidikan atau kebijakan yang “menguntungkan” guru dan siswa? Bahkan agenda perayaan khusus pun tidak ada sama sekali. Toh guru-guru juga perlu joget2 dan bernyanyi kan? Yah walaupun sekedar menghilangkan pikiran kalau mereka masih dibayar dengan tidak layak, sedangkan tanggung jawabnya besar dan punya relasi yang amat besar terhadap masa depan bangsa anak bangsa.
Dalam perspektif politik, ini adalah pilihan. 1 Mei Presiden menghadiri hari buruh secara dramatis, 2 Mei Presiden mengadakan rapat tertutup, tidak tahu apa yang dibahas dan output kebijakannya.
Sekali lagi ini pilihan dalam perspektif politik, karena guru dengan honor 300-500 ribu tidak bisa memobilisasi siswa seperti para buruh, siswa tidak bisa berteriak di muka istana ketika sekolah mereka hampir rubuh, mahasiswa ditekuk lehernya oleh kampus dan lebih memilih ngojol bagi mereka yang tidak memiliki akses “arahan kanda?”, belum lagi siswa-siswa disabilitas yang tidak punya akses organisasi yang bisa mengancam stabilitas politik.
Buruh memang harus diperjuangkan, karena mereka lah roda ekonomi terus bergerak, mereka harus dibela, sesuatu sikap yang juga mestinya sama dengan para guru dan anak-anak bangsa yang sampai saat ini masih sangat minim terhadap akses pendidikan yang berkualitas, persoalan struktural sekalogus sistemik yang sudah menahun belum juga selesai.
Selamat hari buruh dan pendidikan nasional. Tidak terlambat kan untuk sekedar mengucapkan?











