Oleh Abdul Hakim | Senior Advisor Lab Teater Ciputat
Saya datang ke pertunjukan ‘Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi’ bukan sebagai pengunjung taman yang kebetulan berhenti, melainkan sebagai seseorang yang ingin melihat bagaimana teater bekerja di luar gedung. Menjelang petang, kawasan Limpah Sungai Cilandak Barat di Lebak Bulus perlahan berubah wajah. Anak-anak berlarian di antara kursi plastik. Pedagang minuman dan makanan mulai menggelar dagangan. Warga berdatangan dengan pakaian santai. Beberapa membawa keluarga, sebagian membawa teman, sebagian lagi datang sendirian. Tidak ada batas tegas antara ruang seni dan ruang kehidupan sehari-hari. Di situlah saya merasa bahwa pertunjukan ini sudah dimulai bahkan sebelum aktor pertama muncul di panggung.
Walter Benjamin mungkin akan menyukai situasi seperti ini. Baginya, kota bukanlah kumpulan bangunan, melainkan kumpulan pengalaman. Kota hidup melalui jejak-jejak manusia yang berjalan, berhenti, menatap, mengingat, dan tersesat di dalamnya. Kota bukan hanya sesuatu yang dilihat, melainkan sesuatu yang dialami. Karena itu, sejak awal saya merasa bahwa ‘Proposal Kota’ tidak sedang memanggungkan cerita tentang kota. Ia sedang memperlihatkan bagaimana kota bekerja pada tubuh manusia.
Ketika malam mulai turun, panel-panel tinggi menyerupai gedung berdiri menjulang di tengah ruang terbuka. Cahaya proyektor memantulkan gambar-gambar urban: apartemen, jalan raya, gedung perkantoran, lalu lintas, dan wajah-wajah anonim yang melintas cepat. Dari dekat, konstruksi panggung itu tampak seperti reruntuhan masa depan. Ia terlihat modern sekaligus rapuh. Seolah-olah kota yang selama ini kita banggakan sebenarnya sedang berdiri di atas fondasi yang retak.
Benjamin pernah menulis tentang kota modern sebagai ruang fantasmagoria, sebuah dunia yang dipenuhi citra, ilusi, dan pesona visual yang membuat manusia lupa pada kenyataan yang tersembunyi di baliknya. Dalam kota modern, gedung-gedung tinggi bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol kemajuan. Lampu-lampu kota bukan sekadar penerangan. Ia adalah pertunjukan. Jalan raya bukan sekadar infrastruktur. Ia adalah panggung tempat modernitas memamerkan dirinya sendiri.
Namun ‘Proposal Kota’ justru membongkar ilusi tersebut. Di tengah proyeksi visual yang megah itu, muncul seorang arsitek tua di kursi roda. Tubuhnya renta. Geraknya terbatas. Tatapannya kosong sekaligus penuh penyesalan. Saya melihat sosok itu sebagai representasi tragis dari modernitas sendiri. Ia telah membangun kota, tetapi kini terasing di dalam kota yang dibangunnya. Ia seperti pencipta yang kalah oleh ciptaannya sendiri.
Di sinilah pertunjukan menjadi polemis. Ia menggugat keyakinan bahwa pembangunan otomatis menghasilkan kemajuan. Dalam logika pembangunan modern, kota selalu diukur dengan angka: pertumbuhan ekonomi, investasi, jumlah gedung, luas jalan, atau nilai properti. Tetapi pertunjukan ini mempertanyakan ukuran-ukuran tersebut secara brutal. Apa gunanya kota yang semakin megah jika manusianya semakin kesepian? Apa gunanya gedung menjulang jika hubungan sosial justru runtuh?
Pertanyaan itu semakin terasa ketika hujan turun. Saya masih ingat suara tetesan air yang mulai mengenai payung-payung penonton. Beberapa orang berpindah tempat. Sebagian tanpa payung atau jas hujan. Namun mayoritas tetap bertahan. Hujan tidak menghentikan pertunjukan. Justru hujan memperdalam maknanya.
Dalam perspektif Benjamin, pengalaman seperti ini sangat penting karena menghadirkan apa yang ia sebut sebagai pengalaman autentik, sesuatu yang semakin langka dalam masyarakat modern yang serba cepat dan terstandarisasi. Hujan malam itu bukan efek panggung. Ia bukan simulasi digital. Ia nyata. Ia mengenai tubuh aktor dan tubuh penonton secara bersamaan. Untuk sesaat, batas antara pertunjukan dan kehidupan menghilang.
Di tengah kota yang semakin dikendalikan layar, algoritma, dan pengalaman virtual, hujan menjadi perlawanan kecil terhadap artifisialitas kehidupan urban.Tetapi pertunjukan ini tidak berhenti pada kritik terhadap pembangunan. Ia bergerak lebih jauh, menuju kritik terhadap logika komodifikasi yang merasuki kehidupan kota.
Adegan “bursa jasa” adalah contoh paling telanjang. Di atas panggung, segala sesuatu diperjualbelikan. Bukan hanya tenaga kerja atau barang, tetapi juga perhatian, kesetiaan, cinta, bahkan doa. Penonton tertawa. Saya juga tertawa. Namun tawa itu terasa pahit. Benjamin sejak awal telah melihat bahwa kapitalisme modern memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah segala sesuatu menjadi komoditas. Tetapi yang mengerikan, proses ini tidak hanya terjadi pada benda, tetapi juga pada pengalaman manusia. Dalam masyarakat komoditas, emosi dapat dijual, bahkan identitas dapat dipasarkan.
Karena itu, adegan ini terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini. Media sosial mengubah perhatian menjadi mata uang. Kedekatan menjadi konten. Solidaritas menjadi citra. Kepedulian menjadi strategi branding. Kota modern tidak hanya menjual barang. Kota menjual kehidupan itu sendiri.
Kritik yang sama muncul dalam adegan apartemen. Di layar muncul citra bangunan-bangunan tinggi yang berdiri rapat. Aktor bergerak dalam ruang-ruang sempit yang dipisahkan panel-panel transparan. Mereka hidup berdampingan tetapi tidak pernah benar-benar bertemu. Kemudian muncul kisah tentang seorang ibu yang meninggal dan baru ditemukan setelah berminggu-minggu. Adegan itu membuat suasana penonton berubah. Tawa menghilang. Orang-orang mulai diam.
Benjamin melihat manusia metropolitan sebagai sosok yang hidup di tengah keramaian, tetapi semakin terasing dari sesamanya. Kota modern menghadirkan paradoks: semakin padat manusia berkumpul, semakin renggang hubungan sosial yang terjalin. Karena itu, dalam adegan kematian sang ibu, yang sesungguhnya mati bukan hanya seorang manusia, melainkan juga perhatian, kepedulian, dan kemampuan untuk hadir bagi orang lain. Kematian itu menjadi metafora tentang rapuhnya ikatan sosial di tengah kehidupan urban yang semakin sibuk dan individualistik.
Di sinilah ‘Proposal Kota’ terasa sangat relevan dengan Jakarta. Kota ini dipenuhi apartemen, mal, jalan tol, dan kawasan bisnis yang terus berkembang. Tetapi pertanyaannya sederhana: apakah perkembangan itu juga menghasilkan kedekatan sosial? Pertunjukan ini menjawab dengan sinis: belum tentu. Adegan kamera pengawas memperkuat kritik tersebut. CCTV hadir di mana-mana. Kota merasa aman karena segala sesuatu direkam. Namun pertunjukan ini menunjukkan absurditas pengawasan modern. Kamera bisa melihat, tetapi tidak bisa peduli. Kamera bisa merekam, tetapi tidak bisa berempati.
Benjamin sejak lama mengingatkan bahwa modernitas sering kali menggantikan pengalaman manusia dengan mekanisme teknis. Kita percaya pada sistem, tetapi melupakan hubungan. Kita percaya pada data, tetapi melupakan rasa. Karena itu, ketika pertunjukan memperlihatkan kekerasan jalanan yang kemudian viral di media sosial, kritiknya menjadi semakin tajam. Korban tidak hanya dipukul oleh massa. Ia dipukul ulang oleh komentar, algoritma, dan penghakiman digital. Kota fisik dan kota digital menyatu dalam satu mesin yang memproduksi prasangka.
Namun di tengah semua kritik tersebut, pertunjukan ini menawarkan secercah harapan melalui adegan ‘Malam Akrab Warga’. Saya melihat warga tersenyum. Anak-anak berlarian. Pedagang melayani pembeli. Orang-orang bercakap setelah pertunjukan selesai. Dalam momen itu, ruang publik kembali menjalankan fungsi yang hampir hilang di banyak kota besar: menjadi ruang perjumpaan.
Benjamin percaya bahwa sejarah tidak selalu bergerak melalui peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga melalui momen-momen kecil ketika manusia menemukan kembali kemanusiaannya. Barangkali itulah yang terjadi malam itu: ketika pedagang dan pembeli berjumpa, warga saling menyapa, anak-anak muda duduk bersama menyaksikan pertunjukan, dan hujan tidak membubarkan kerumunan. Untuk sesaat, ruang publik berhenti menjadi sekadar tempat lalu-lalang, lalu menjelma menjadi ruang perjumpaan tempat imajinasi, percakapan, dan rasa kebersamaan tumbuh kembali.
Pementasan ‘Proposal Kota: Mimpi adalah Mimpi’ yang disutradarai oleh Bung Permana ini bukan pertunjukan tentang kota yang sudah selesai. Ia adalah pertunjukan tentang kota yang sedang kehilangan jiwanya dan berusaha menemukannya kembali. Benjamin pernah mengatakan bahwa setiap zaman bermimpi tentang zaman berikutnya. Tetapi mimpi tidak selalu membebaskan. Kadang-kadang mimpi justru menjadi jebakan.
Kota modern adalah salah satu mimpi terbesar manusia. Namun pertunjukan ini mengingatkan bahwa mimpi itu dapat berubah menjadi mimpi buruk ketika pembangunan melupakan manusia yang hidup di dalamnya. Karena itu, pertanyaan yang saya bawa pulang bukanlah apakah pertunjukan ini berhasil secara artistik.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: setelah lampu padam dan kerumunan bubar, apakah kita masih mampu membayangkan kota sebagai ruang kebersamaan, atau kita akan terus membiarkannya menjadi mesin yang perlahan mengubah manusia menjadi bayangan bagi sesamanya? Malam itu, di kawasan Limpah Sungai Cilandak Barat di Lebak Bulus, saya merasa pertunjukan ini tidak sedang memberikan jawaban. Ia sedang menagih keberanian kita untuk menjawabnya sendiri.











