DEMA-F Ushuluddin UIN Jakarta Soroti Polemik Gerbong Perempuan, Tekankan Sistem Keselamatan KAI

- Penulis

Kamis, 30 April 2026 - 19:43 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Zahra Mustafida, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (Foto: Istimewa)

Zahra Mustafida, Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (Foto: Istimewa)

CIPUTAT, PUSATBERITAWakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Zahra Mustafida menilai tragedi kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi seharusnya menjadi momentum untuk mengembalikan perhatian publik pada prinsip mendasar dalam transportasi publik: keselamatan penumpang sebagai prioritas utama.

Menurut Zahra, dalam beberapa hari terakhir diskursus publik justru terseret pada polemik mengenai posisi gerbong perempuan dalam rangkaian kereta—apakah berada di depan, tengah, atau belakang. Perdebatan tersebut bahkan mulai terpolarisasi hingga memunculkan pertanyaan yang keliru: siapa yang harus dikorbankan, laki-laki atau perempuan.

“Padahal perdebatan seperti itu justru mengaburkan substansi utama dari peristiwa ini, yaitu bagaimana memastikan sistem keselamatan transportasi berjalan dengan baik bagi semua penumpang,” ujar Zahra dalam keterangannya, Kamis (30/04/2026).

Ia menilai pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengenai usulan penataan gerbong perempuan kemungkinan besar dimaksudkan untuk memastikan korban perempuan dan anak mendapatkan perhatian, serta agar perspektif perlindungan kelompok rentan tetap hadir dalam diskursus publik, terutama ketika banyak korban berasal dari kalangan perempuan.

“Namun memang harus diakui, Pernyataan tersebut menimbulkan beragam tafsir di masyarakat,” katanya.

Zahra menegaskan bahwa dalam perspektif keselamatan transportasi tidak boleh ada satu pun nyawa yang dianggap dapat dikorbankan, tanpa memandang gender.

Baca Juga :  Resmi! Institut Binamadani Indonesia Gandeng Kemenag Kota Tangerang, berikan Beasiswa Subsidi bagi ASN dan Guru

“Karena itu menurut saya Fokus kemarahan publik sebaiknya diarahkan pada pembenahan sistem keselamatan transportasi. Energi kita seharusnya tidak dihabiskan untuk memperdebatkan kebijakan perlindungan kelompok rentan, tetapi mendorong regulator teknis agar memastikan sistem keselamatan transportasi yang menyeluruh dan inklusif bagi seluruh penumpang,” ujarnya.

Ia menambahkan, polemik mengenai posisi gerbong laki-laki atau perempuan berisiko mengalihkan perhatian dari isu yang lebih mendasar, yakni pembenahan sistem perkeretaapian secara komprehensif.

“Jika diskursus publik terus terjebak pada perdebatan depan, tengah, atau belakang gerbong, kita justru kehilangan momentum untuk mendorong perubahan yang lebih penting: membangun sistem transportasi kereta api yang benar-benar aman, profesional, dan berorientasi pada perlindungan penumpang,” kata Zahra.

Menurutnya, insiden ini harus menjadi pintu bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian, termasuk penguatan manajemen operator PT Kereta Api Indonesia.

Selain evaluasi sistem, Zahra juga menekankan pentingnya memastikan para korban tidak merasa sendirian dalam menghadapi dampak tragedi tersebut.

“Kita harus mengawal proses rehabilitasi medis dan psikologis para korban, sekaligus melakukan advokasi kepada pihak terkait agar seluruh hak korban terpenuhi. Jangan sampai mereka tidak mendapatkan jaminan dan pendampingan yang layak,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hafidz Firdaus Tak Ambisi rebut Kursi Ketua PKB Kota Tangerang: Tapi Siap Total Jika DPP Merestui
Kesbangpol Kota Tangerang Dorong Kesadaran Politik Masyarakat
Trotoar Hancur, Pengendara Keluhkan Bekas Galian Proyek Fiber di Tangerang.
BEM PTNU Banten Soroti Ketidakpastian Kerja: Industri Megah, Fondasi Buruh Retak
Resmi! Institut Binamadani Indonesia Gandeng Kemenag Kota Tangerang, berikan Beasiswa Subsidi bagi ASN dan Guru
Ketua MUI Kota Tangerang Ajak Umat Maknai Idul Adha sebagai Momentum Berkorban
Diduga Ada Pengusiran Calon Pelamar Kerja dan Praktik Pungli
Bentrok di Rawa Bokor, Sengketa Lahan, Akses di Tutup Paksa Pemkot Tangerang
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 19:43 WIB

DEMA-F Ushuluddin UIN Jakarta Soroti Polemik Gerbong Perempuan, Tekankan Sistem Keselamatan KAI

Kamis, 30 April 2026 - 18:13 WIB

Hafidz Firdaus Tak Ambisi rebut Kursi Ketua PKB Kota Tangerang: Tapi Siap Total Jika DPP Merestui

Selasa, 28 April 2026 - 21:28 WIB

Kesbangpol Kota Tangerang Dorong Kesadaran Politik Masyarakat

Senin, 27 April 2026 - 23:30 WIB

Trotoar Hancur, Pengendara Keluhkan Bekas Galian Proyek Fiber di Tangerang.

Senin, 27 April 2026 - 22:40 WIB

BEM PTNU Banten Soroti Ketidakpastian Kerja: Industri Megah, Fondasi Buruh Retak

Berita Terbaru