Dugaan Penyimpangan Penegakan Hukum di Aceh Utara: Ketika Warga Penuntut Hak Tanah Justru Dipidana

- Penulis

Minggu, 23 November 2025 - 19:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

warga dari 19 desa di Kecamatan Cot Girek dan Pirak Timu yang menuntut penyelesaian sengketa agraria

warga dari 19 desa di Kecamatan Cot Girek dan Pirak Timu yang menuntut penyelesaian sengketa agraria

ACEH UTARA, PUSATBERITA – PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 6 diduga melakukan kriminalisasi terhadap warga dari 19 desa di Kecamatan Cot Girek dan Pirak Timu yang menuntut penyelesaian sengketa agraria di wilayah tersebut. Tuduhan ini mencuat setelah sejumlah perwakilan warga menerima surat panggilan sebagai tersangka dari Polres Aceh Utara.

Aksi protes masyarakat berlangsung sejak 27 September hingga 6 Oktober 2025. Mereka menuntut penyelesaian konflik lahan yang disebut telah diserobot perusahaan hingga dua kali lipat dari total HGU seluas 7.500 hektare. Selama aksi, warga memblokir jalur mobil pengangkut buah sawit milik PTPN IV di Desa Tempel, Cot Girek.

Insiden 1 Oktober dan Laporan Pengeroyokan

Pada hari kelima aksi, Rabu 1 Oktober 2025 sekitar pukul 11.00 WIB, massa yang sedang melakukan zikir bersama didatangi seorang pekerja perusahaan bernama Alam Syah. Ia masuk ke tengah kerumunan dan diduga melakukan provokasi hingga menarik ketua aliansi aksi, Dwijo Warsito. Warga kemudian mendorong Alam Syah keluar dari kerumunan.

Tidak lama setelah kejadian tersebut, Alam Syah melapor ke Polres Aceh Utara dengan tuduhan pengeroyokan. Laporan itu kemudian diproses sebagai dugaan tindak pidana.

Warga Ditapkan Tersangka Tanpa Pemeriksaan Awal

Pada 14 November 2025, lima warga menerima surat panggilan pertama sebagai tersangka, termasuk seseorang yang merekam video kejadian. Namun warga menolak hadir karena tidak pernah diperiksa sebelumnya.

Baca Juga :  Forum Alumni PRD Desak Seret Penjahat HAM Berat ke Pengadilan HAM Ad Hoc

Polres Aceh Utara kembali mengirimkan surat panggilan kedua pada 21 November 2025 kepada dua warga lain, meminta mereka hadir pada 24 November 2025 sebagai tersangka untuk dimintai keterangan.

LBH Banda Aceh: Bentuk Kriminalisasi

LBH Banda Aceh menilai langkah tersebut sebagai bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat yang sedang memperjuangkan hak atas tanah dan ruang hidup.

“Alih-alih menyelesaikan sengketa sebagaimana tuntutan masyarakat, perusahaan malah mengkriminalisasi warga yang menuntut haknya. Ini menunjukkan watak kolonial yang masih diwarisi perusahaan negara,” ujar Muhammad Qodrat dari LBH Banda Aceh.

Ia juga menilai tindakan Polres Aceh Utara tidak profesional karena menetapkan tersangka tanpa proses penyelidikan yang layak.

“Patut diduga demi memihak PTPN IV, Polres Aceh Utara main potong kompas. Masyarakat langsung dijadikan tersangka tanpa penyelidikan. Ini lucu dan harus menjadi perhatian Komisi Reformasi Polri,” tambahnya.

Tuntutan Masyarakat dan LBH Banda Aceh

LBH Banda Aceh mendesak Polres Aceh Utara untuk menghentikan proses hukum karena peristiwa pada 1 Oktober dinilai tidak memenuhi unsur tindak pidana. Mereka juga meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara segera merespons tuntutan warga terkait konflik agraria di 19 desa tersebut.

Selain itu, LBH meminta PTPN IV Regional 6 menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat yang mempertahankan hak atas tanah dan ruang hidup mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

‎Survei SMRC: Kepuasan terhadap Prabowo Terjun ke 51 Persen
Edy Mulyadi Kaitkan Menhan Dugaan Perlawanan Mafia Sawit
Kejagung Tersangkakan Brigjen Polri Diduga Korupsi Ompreng MBG
Efek Program MBG Guru Hilang Kontrak Hingga Digaji Rp50 Ribu
BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan
Pengamat: Tekanan Ekonomi Semakin Besar di Tengah Naiknya Harga BBM
Beroepaya Hadirkan Urban Bolang Vol. 6, Tebar Manfaat di Kasepuhan Cibedug
SEMMI Tangerang: Pergantian Kepala BGN Lebih Tepat Disebut Politik Promosi
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 11:54 WIB

‎Survei SMRC: Kepuasan terhadap Prabowo Terjun ke 51 Persen

Senin, 27 Juli 2026 - 00:58 WIB

Edy Mulyadi Kaitkan Menhan Dugaan Perlawanan Mafia Sawit

Kamis, 2 Juli 2026 - 16:16 WIB

Kejagung Tersangkakan Brigjen Polri Diduga Korupsi Ompreng MBG

Senin, 15 Juni 2026 - 19:27 WIB

Efek Program MBG Guru Hilang Kontrak Hingga Digaji Rp50 Ribu

Jumat, 12 Juni 2026 - 11:18 WIB

BIN Waspadai Reformasi Jilid II, Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Berita Terbaru

Panggung utama pembukaan MTQ XXV Tingkat Kota Tangerang di Kecamatan Ciledug, Senin (27/7/2026). (PUSATBERITA/Topan Bagaskara).

Daerah

MTQ XXV Kota Tangerang, Perkuat Pembinaan Generasi Qur’ani

Selasa, 28 Jul 2026 - 01:46 WIB

Bareskrim Polri menangkap Kasat Narkoba Polres Tangerang Selatan bersama tujuh personel polisi terkait dugaan kasus narkotika. Foto: ilustrasi/Gedung Bareskrim Polri

Daerah

Kasat Narkoba Polres Tangsel Ditangkap Bareskrim Polri

Senin, 27 Jul 2026 - 12:22 WIB

Kepuasan Publik terhadap Kinerja Prabowo Turun 30 Persen (foto/istimewa).

Nasional

‎Survei SMRC: Kepuasan terhadap Prabowo Terjun ke 51 Persen

Senin, 27 Jul 2026 - 11:54 WIB

Kolase Edy Mulyadi dan siluet figur pejabat. Ilustrasi/Pusat-Berita.

Nasional

Edy Mulyadi Kaitkan Menhan Dugaan Perlawanan Mafia Sawit

Senin, 27 Jul 2026 - 00:58 WIB